Ilustrasi keluar dari zona nyaman. Sumber : www.hitsss.com

Majalahayah.com – Hadirnya virus Corona atau yang lebih dikenal dengan COVID-19 ini membuat semua orang di seluruh negeri, bahkan di seluruh dunia terpaksa keluar dari zona nyaman. Daerah-daerah yang terinfeksi parah, akan menetapkan ketentuan lockdown untuk daerahnya. Yang masih belum sanggup untuk lockdown, maka akan menganjurkan untuk membatasi pergerakan. Sekolah tutup, kantor-kantor sebagian besar juga. Tempat belanja tutup kalau tidak sepi pengunjung.

Orang tua, mendadak “terperangkap” dengan formasi lengkap anaknya dirumah sampai batas waktu yang tidak ditentukan!. Bukan saja akhirnya sang ibu kerjanya masak melulu, ayah gagal mengerjakan kerjaan kantornya di rumah, rumah berantakan tiada henti, belum lagi yang berantem, teriak, pecah, semuanya serba tidak teratur dan level stress meningkat tajam.

Mau tidak mau, kita mendadak dituntut untuk keluar dari zona nyaman. Kembali mengurusi anak anak sendiri, dengan jumlah yang sempurna, karena kalaupun ada yang kuliah atau mondok, pastinya sudah dipulangkan juga. Bukan saja kita harus memperhatikan gizi dan asupan makan mereka, kita juga bertanggung jawab 24 jam terhadap kegiatan mereka, memantau pelajaran onlinenya , dan yang  paling merungsingkan adalah urusan mengatur Gadgetnya!.

Sementara, bagi orang tua yang bekerja, mereka bukan dikasih liburan Cuma-Cuma, tapi karena berbayar dan atas situasi yang tidak kondusif, mereka tetap bekerja hanya saja dari rumah. Dengan keadaan rumah yang lebih sering dari tidak, carut marut, akan sangat susah mengatur waktu untuk bisa bekerja. Kalaupun akhirnya bisa dimalam hari, pastinya sudah Lelah karena menghadapi anak-anak seharian di rumah. Sementara, bagi ibu yang memang tidak bekerja, tingkat stressnya juga sama. Biasanya hanya ada satu anak atau bahkan tidak ada sama sekali (karena yang lain sekolah), sehingga ibu bisa punya sedikit me-time atau dengan tenang belanja sayur dan memasak makanan, kali ini tidak sama sekali!.

Baca juga : Tips Ajarkan Anak tentang WFH

Bisa dibanyangkan betapa chaosnya, dan percayalah semua orang di rumah sedang berusaha beradaptasi dengan situasi baru ini. Bukan hanya orang tua. Harus berada dalam kondisi lockdown di rumah 24 jam saja sudah membuat semua orang pusing dan rungsing. Kalau liburan semester, masih ada batas waktu dan tanggal yang bisa ditunggu hingga akhirnya anak bisa mulai sekolah lagi. Nah sekarang??? Ketidak pastian waktu akan sampai kapan keadaan mencemaskan seperti ini, itu lagi lagi menjadi pencetus stress meroket tinggi.

Ancaman penyakit menular yang berpotensi membunuh, selalu mengintai setiap waktu dari hampir seluruh sudut kehidupan. Ketidaksiapan pihak berkuasa dalam menangani keadaan ini membuat kita cemas tiada terkira. Informasi yang tidak jelas besliweran di beranda sosmed kita tanpa kita bisa mengetahui yang mana yang benar yang mana yang tidak. Tugas online anak-anak dari setiap mata pelajaran untuk setiap anak berbeda-beda. Aaaarrrghhhhhhh…..!!!!!!!

Tekadang rasanya ingin teriak, ingin nangis.. tapi malu dan tidak tahu mau bagaimana lagi. Udara yang juga tidak mendukung membuat anggota keluarga minimal batuk atau pilek ringan, kalau tidak kena penyakit “kurang enak badan”.

Baca juga : Tips Ciptakan Suasana Rumahku Surgaku Ala Aa Gym

Sadarkah, bahwa kita sedang “dikeluarkan” dari zona nyaman secara paksa?

Tahukah, bahwa jika kita dipaksa keluar dari zona nyaman sebetulnya kita sedang belajar luar biasa?
Belajar apa? Belajar kehidupan!.

Belajar bahwa jika Allah pulangkan titipannya kepangkuan kita 24 jam, ternyata kita harus meng-upload kesabaran yang tidak terkira, yang kita tadinya tidak punya.

Belajar bahwa, tugas guru amatlah mulia. Kita yang menangani darah daging sendiri saja, Cuma 4 bisa stress tingkat tinggi dan teriak-teriak sepanjang hari?. Bagaimana mereka menangani 2-3- murid dari latar belakang yang berbeda-beda, dalam satu ruangan, 8 jam lamanya, setiap hari???

Belum lagi menghadapi orang tua-orang tua yang kurang beradab, menganggap para guru adalah pekerja yang sudah dibayarnya, hingga memperlakukan mereka tanpa basa-basi.

Dengan semakin menipisnya adab siswa terhadap guru, dengan semakin minimnya orang tua mengajarkan bagaimana menghormati dan menghargai guru, Allah kirimkan pelajaran kecil ini bagi kita. Baru tahu rasanya jadi guru anak sendiri 24 jam lamanya!

Dengan ini  kita belajar bekerja sama tanpa lelah dengan pasangan masing-masing. Mengatur agar emosi terkontrol, berbagi tugas rumah dan ngurusin anak, berdiskusi tentang keadaan ini dan tentu saja keadaan finansial keluarga jika ini terus berkelanjutan.

Belajar bahwa terkadang, uang juga tidak ada harganya. Jika kita terinfeksi, rumah sakit penuh, alat deteksi tidak ada. Belajar bahwa uang bukan segalanya. Buktinya uang sebanyak apapun tidak bisa membuat satu sekolahpun buka kembali di zaman seperti ini.

Belajar kembali masing-masing karakterstik anak, bagaimana menyikapinya, mencicil hutang pengasuhan, menambal yang masih bolongnya.

Baca juga : Trik Mudah Baca Al-Quran Sehari 1 Juz saat Pandemi COVID-19

Belajar kembali, untuk semakin mendekatkan diri, dengan segala yang tidak pasti, bahkan rumah-NYA pun ditutup untuk kita datangi. Belajar bermunasabah, introspeksi diri, belajar bahwa di masa depan yang sering kita dengar dalam kajian, mungkin seperti ini rasanya. Ketika Dajjal datang dan sehari bagai setahun, dan kita diminta untuk tetap tinggal di rumah, mungkin ini sedikit dari rasa itu. Dengan itu menyadari bahwa, kita harus semakin gigih mengajarkan anak keturunan kita agar terlindungi dari fitnah akhir zaman.

Akhirnya… Corona ini sebetulnya membawa banyak hikmah, membawa banyak pelajaran. Andai ia tidak datang, belum tentu kita akan mengalami semua ini. Memiliki quality time dengan keluarga, saling belajar mengenali lagi antara satu dan lainnya. Merajut kembali yang hampir putus, belajar hidup bersama. Ngaji bersama, si kakak dan abang yang selama ini mondok, kembali belajar bermain dengan adik-adiknya, mengajari ilmu yang selama ini ditimbanya di pondok tercinta.

Ayah jadi pulang ke rumah. Mau nggak mau. Melihat dan berada di rumah 24 jam dengan orang-orang tersayangnya, merasakan bagaimana repotnya sang istri setiap hari berjibaku dengn urusan rumah dan anak-anak, walau kali ini bilangan itu berlipat ganda. Ayah menjadi semakin menghargai ibu. Anak anak menikmati (atau tidak) adanya ayah di rumah. Semua ini menjadi alat introspeksi diri kita sebagai hamba, pasangan dan orang tua.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan TERIMA KASIH pada ALLAH SWT, yang telah memberikan ujian ini dengan segala ketidaknyamanan-nya. Karena dengan ujian ini lah banyak mata hati jadi terbuka, banyak pelajaran yang bisa diambil daripadanya. Banyak anggota keluarga semakin kenal satu dengan yang lainnya. Banyak kembali ke sajadah, bersujudm bertafakur kepada-NYA, memohon agar musibah ini diangkat segera.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Oleh : Wina Risman,
End of March 2020

Baca juga : Bagaimana Pengaruh Keshalihan Orangtua terhadap Anak?