Home Bola Zidane Comeback, dan 5 Pengalaman Pelatih yang Pernah Comeback

Zidane Comeback, dan 5 Pengalaman Pelatih yang Pernah Comeback

179

Majalahayah.com, Jakarta – Di balik kembalinya Zidane, jelas ada harapan bahwa mantan gelandang elegan timnas Perancis itu bisa mengulangi prestasinya. Maka, ketika Zidane mulai memimpin latihan Madrid pada Selasa (12/3/2019), Marca menulis judul yang mampu menggemakan harapan itu: “Back to the Future with Zidane.”

Namun, Zidane barangkali tak akan bisa kembali meraih prestasi segampang sebelumnya.

Menurut Gabriele Marcotti, dalam salah satu tulisannya di The Times, sebelum ia pergi pada Mei tahun lalu, Zidane sempat menyebut bahwa “Madrid membutuhkan perubahan.” Karena besar kemungkinan pendapatnya itu tak diterima Florentino Perez, Presiden Madrid, ia lantas memilih undur diri.

Dari situ, saat Zidane memutuskan kembali ke Madrid, ia barangkali sudah mendapatkan garansi untuk melakukan perubahan terhadap tim. Namun, Marcotti mengingatkan: “Perubahan tidak hanya membutuhkan sumber daya–yang dimiliki Madrid sampai titik tertentu–tapi juga membutuhkan kesabaran dari atasan, sesuatu kekurangan yang dimiliki Madrid dalam dua era kepemimpinan Perez. Terlebih lagi, bagi Zidane, itu melibatkan keterampilan yang sama sekali baru: membangun ulang sebuah tim.”

Jika melihat rekam jejak Zidane bersama Madrid sebelumnya, pernyataan Marcotti itu tentu ada benarnya. Selama sekitar tiga musim melatih Madrid pada periode pertama, Zidane mendapatkan warisan skuat mumpuni dari pelatih sebelumnya.

Ia hanya perlu mengatur taktik sedemikian rupa, membangun kepercayaan, serta meyakinkan kepada para pemainnya bahwa mereka adalah pemain-pemain juara. Namun untuk membangun ulang sebuah tim, tantangan Zidane jelas lebih dari berat.

Selain itu, ada satu fakta lain yang tak kalah penting: dari sejumlah pelatih yang kembali melatih di klub lamanya, hanya beberapa pelatih saja yang mampu meraih kesuksesan.

1. Jupp Heynckes (Bayern Munchen)

Jupp Heynckes pernah melatih Bayern Munchen sebanyak tiga kali, yakni di tahun 1987-1991, lalu 2011-2013, dan 2017-2018. Tahun 2013 menjadi masa yang paling bisa dikenang, di mana ia sukses mengantarkan Munchen meraih treble.

Setelah meraih treble, ia memutuskan untuk hengkang dari Allianz Arena dan memberikan petunjuk bahwa dirinya pensiun dari dunia sepak bola. Namun saat Die Bavarians runtuh pasca era Carlo Ancelotti, ia memutuskan untuk kembali di tahun 2017.

2. Kenny Dalglish (Liverpool)

‘King Kenny’, begitu ia dijuluki penggemar Liverpool. Pada tahun 1985, ia menjadi pelatih The Reds dan mempersembahkan serangkaian gelar dari berbagai ajang. Setelah melalui enam tahun fantastis di Anfield, ia memutuskan hengkang ke Blackburn Rovers.

Selang 20 tahun kemudian, ia memutuskan untuk kembali mengisi kursi kepelatihan Liverpool. Pada musim perdananya, ia mempersembahkan gelar juara Carabao Cup. Sayang, menjadi penghuni peringkat delapan Premier League tidak cukup untuk membuatnya bertahan.

3. Fabio Capello (Real Madrid)

Ia terbilang cukup sering melatih klub yang pernah ia tukangi. Selain AC Milan, Capello juga kerap bolak-balik ke Real Madrid. Tapi kisahnya bersama Los Merengues terbilang cukup menyedihkan.

Pada musim 1996-1997, Capello sukses mempersembahkan gelar La Liga namun dipecat oleh manajemen. Di tahun 2006-2007, ia kembali memberikan gelar yang sama dan harus menerima surat pemecatan beberapa pekan setelahnya.

4. Marcello Lippi (Juventus)

Karier Lippi mulai menjulang ketika ia dipercaya melatih Juventus di tahun 1994-1999, ia melatih berbagai pemain legenda seperti salah satunya Zinedine Zidane.

Pada rentang tahun 1994-1999, Lippi berhasil mempersembahkan total sembilan gelar dari berbagai ajang, salah satunya Liga Champions. Usai dari Juventus, ia memilih Inter Milan sebagai klub labuhan selanjutnya.

Setelah melalui satu musim bersama Nerazzurri, Lippi memutuskan kembali ke Juventus. Selama tiga musim, ia hanya mampu memberi satu gelar Serie A dan dua Supercoppa Italiana sebelum akhirnya dipanggil menukangi Timnas Italia pada tahun 2004.

5. Jose Mourinho

Mourinho pertama kali tiba di Chelsea pada Juni 2004 silam. Di hadapan jurnalis Inggris, ia langsung menantang, “Aku rasa, aku adalah orang spesial.” Karena omongannya itu, kuping para pelatih tim-tim Premier League boleh merah, tapi Mourinho memang benar-benar pelatih yang spesial: selama tiga tahun berada di Chelsea, ia berhasil mempersembahkan dua gelar Piala Liga, dua gelar Premier League, serta satu gelar Piala FA.  

Setelah itu, Mourinho kembali lagi ke Chelsea pada tahun 2013 dan berhasil mengulangi kesuksesan sebelumnya. Hingga ia dipecat pada Desember 2015, ia mampu mempersembahkan satu gelar Premier League musim 2014-2015 serta gelar Piala Liga 2015.