YLKI : Kebijakan Pengendalian Tembakau di Era Jokowi Alami Kemunduran

YLKI : Kebijakan Pengendalian Tembakau di Era Jokowi Alami Kemunduran

32
SHARE
Jokowi

Majalahayah.com, Jakarta – Angin segar nampak dihembuskan ketika kali pertama Joko Widodo menjabat sebagai Presiden Indonesia. Program Nawacita yang menjadi andalan ketika kampanye menjanjikan perubahan-perubahan.

Dalam Nawacita nomor 5, Jokowi berjanji meningkatkan kualitas hidup bangsa ini melalui ; pendidikan (target 1), kesehatan (target 2). Namun, pelaksanaan Nawacita terkait kualitas hidup bangsa dapat terganjal karena kebijakan yang tidak selaras dengan semangat Nawacita.

“Sepanjang 2018, atau bahkan potret secara keseluruhan kebijakan pengendalian tembakau di era Jokowi mengalami setback (kemunduran). Ini jelas menjadi ancaman tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa,” jelas Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta, Jum’at (11/1/2019).

Beberapa Indikator menunjukkan bahwa janji meningkatkan kualitas hidup belum tercapai. Indikator paling menonjol ladalah meningkatnya prevelensi penyakit tidak menular, seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Baca juga :   Terkait Mahar Politik 10 M, Bawaslu Jabar Akan Klarifikasi Dedy Mulyadi

Peningkatan ini bisa dideteksi dari data hasil survei kesehatan dasar (Riskesdas) pada 2018. Jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, terjadi peningkatan signifikan pada hasil Riskesdas 2018.

YLKI pun mencatat, prevelensi kanker dari semula sebesar 1,4 persen (2013) menjadi 1,8 persen (2018), prevelensi stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, penyakit ginjal kronik dari 2 persen menjadi 3,8 persen dan penyakit diabetes miletus dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

“Melambungnya prevelensi penyakit tidak menular ini berkorelasi dengan gaya hidup seperti merokok, minimnya aktivitas fisik, minimnya asupan buah dan sayur, serta konsumsi minuman beralkohol,” ucap Tulus.

Baca juga :   Agar Tidak Terjangkit Diabetes, Makanan Makanan Ini Perlu Di Batasi

Memang rokok bukan penyebab tunggal, tetapi konsumsi rokok punya kontribusi paling signifikan, mengingat lebih dari 35 persen orang Indonesia adalah perokok aktif, dan lebih dari 70 persen sebagai perokok pasif. Tiap tahun produksi rokok nasional Indonesia mencapai 350 miliar batang, yang 90 persen dikonsumsi masyarakat Indonesia.

“Meningkatnya prevelensi penyakit tidak menular adalah bukti pemerintah tidak melakukan pengendalian konsumsi rokok, yang secara de facto merupakan pencetus utama meningkatnya prevelensi penyakit tidak menular,” terangnya.

“Buntut dari melambungnya penyakit tidak menular adalah kinerja BPJS Kesehatan yang makin empot-empot an, dan klimaksnya mengalami financial bleeding, yang pada 2018 mencapai Rp 16,5 Triliun,” paparnya.