Penasihat Hukum Ahok dari Kiri ke Kanan, Humprey Djemat, I Wayan Sudirta, Teguh Samudera. Foto: ysf/Majalahayah.com

Majalahayah.com, Jakarta – Salah seorang tim Penasihat Hukum (PH) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), I Wayan Sudirta menegaskan bahwa kliennya tidak bersalah dalam kasus penistaan agama. Ia lalu membeberkan alasan mengapa ia dan timnya mendesak agar Ahok dibebaskan dari segala dakwaan.

“Sejak awal, seharusnya Jaksa kalo tidak berada dalam tekanan, dia harus memenuhi pasal 1 butir 14, tentang adanya bukti permulaan. Itu diwajibkan minimal dua alat bukti. Karena bukti permulaan gak pernah cukup, tapi dipaksakan penyidikan. Padahal penyidikan harus ada dua alat bukti,” katanya di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (11/4/2017).

Ia mengatakan fungsi penyidikan adalah untuk membuat terangnya perkara. “Maka ketika penyidikan perkara ini belum terang, kabur, atas dasar itulah dakwaan ini landasannya gak kuat. Ketika dakwaan sekarang kita beber di persidangan, menjadi tidak terbukti karena lemahnya ketika rekonstruksi awal,” ucapnya.

Wayan lalu mengklaim bahwasannya unsur pada dakwaan tidak terbukti. “Kalo kita bicara tuntutan kan berasal dari dakwaan. Berarti memenuhi unsur atau tidak. Seluruh unsurnya tidak terbukti. Gimana mau menuntut, unsur tidak terbukti berdasarkan bukti-bukti,” tukasnya.

Bahkan dirinya menantang Jaksa Penuntut Umum (JPU), untuk menuntut Ahok dibebaskan. “Jika jaksa berani menuntut bebas, maka jaksa sedang tidak berada pada tekanan manapun,” ujarnya.

Ahok, lanjut Wayan, melalui programnya telah berupaya mensejahterakan umat Islam di Jakarta. “Basuki Tjahaja Purnama sangat rajin mengumrohkan marbot, kuncen, penjaga kuburan. Sudah berapa gubernur di Jakarta berganti, ada gak mesjid raya Jakarta? Mesjid Istiqlal bukan masjid raya Kota Jakarta. Sekarang dibuatkan mesjid raya di Daan Mogot, luasnya 17 hektar, nilainya 17 trilyun, luas bangunan 2 hektar. Orang seperti ini dapat dipastikan tidak punya niat dan kesengajaan (menista agama),” pungkasnya.

Ia lalu berharap agar JPU melepaskan diri dari segala tekanan. “Yang menjadi concern kami, bagaimana agar jaksa berani melepaskan tekanan dari pihak manapun, tidak mencari kesalahan, tapi mencari kebenaran,” tandasnya.