Waspadai Liberalisasi Agama Islam, Kenali 5 Langkah Propagandanya

Waspadai Liberalisasi Agama Islam, Kenali 5 Langkah Propagandanya

205
SHARE
Ilustrasi propaganda liberalisasi agama. (majalahayah.com/HA)

Majalahayah.com, Jakarta – Dengan berbagai ulasan yang mengandung alasan sebagai pembenaran kelemahan-kelemahan yang ditolerir dalam hal syar’i,  Kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis, dan Liberalis) telah gencar menyebarkan propaganda yang nampak Islami. Dengan pengetahuan dan wawasan sabagai sarana berkelit dengan retorika yang menggiring pemahaman pada penyimpangan-penyimpangan gaya baru.

Berbagai macam propaganda Liberal yang dilontarkan dan jawaban kontra-logika sesat yang terkait dengan hal-hal berikut:

 

  1. Propaganda Shalat

Pernyataan kalimat obrolan yang sering diangkat sebagai topik pengikis azzam (tekad) kebenaran ibadah kewajiban shalat.

“Buat apa Shalat kalau riya’ tidak ikhlas, karena tidak diterima oleh Allah SWT. Lebih baik bersihkan hati dulu, nanti kalau sudah ikhlas tidak riya’, maka baru shalat agar diterima oleh Allah SWT.”

TARGET :

Kalimat ini bertujuan untuk pembenaran meninggalkan shalat dengan “dalih” pembersihan hati dulu.

JAWAB :

Wajib shalat walau masih riya’ belum ikhlas, karena shalat adalah Kewajiban Agama. Setiap muslim, ikhlas ataupun riya’, rela atau pun terpaksa, tetap Wajib mendirikan Shalat.

Dan Shalat adalah Benteng dari segala perbuatan Keji dan Munkar, termasuk riya’, sebagaimana firman Allah SWT,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat ALLAH (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan ALLAH mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabuut ayat 45)

Justru : Shalat adalah Obat Hati yang bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit hati seperti riya’ dan ‘ujub.

Bagaimana penyakit hati bisa sembuh tanpa mendirikan Shalat?!

 

  1. Propaganda Jilbab

“Lebih baik tidak pakai jilbab, tapi hatinya baik, daripada pakai Jilbab tapi hatinya busuk.” Dan kalimat rancu ini, “Lebih baik jilbabkan (jaga) hati dulu supaya baik. Baru menjilbab (jaga) fisik kemudian.”

TARGET :

Kalimat ini bertujuan untuk membenarkan pelepasan Jilbab dengan “dalih” yang penting hatinya baik.

JAWAB :

Jilbab adalah Kewajiban Agama yang mempunyai maksud mulia untuk wanita, baik si pemakai berhati baik maupun buruk, maka Jilbab tetap Wajib dikenakan oleh para Wanita Muslimah sesuai dengan ketentuan Syariat, sebagaimana firman ALLAH SWT :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59).

Baca juga :   Menggunakan Segenap Sumber Daya, Bakat dan Skill untuk Agama

Justru : Jilbab juga termasuk Obat Hati yang akan ikut merangsang penyembuhan penyakit hati, sekaligus identitas muslimah yang jadi benteng dari segala gangguan.

Karenanya, lebih baik memakai jilbab dan berhati baik, daripada berhati baik tanpa jilbab, apalagi berhati busuk tanpa jilbab.

 

  1. Propaganda Kepemimpinan

“Lebih baik pemimpin kafir asal jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, daripada pemimpin kafir yang khianat, jahat, bejat, bodoh dan pemalas.”

Dan kalimat rancu ini, “Lebih baik golput daripada memilih Pemimpin Muslim yang ‘kurang’ Islami.”

TARGET :

Kalimat ini bertujuan untuk membolehkan orang Kafir memimpin umat Islam di wilayah mayoritas muslim, dan meniadakan pemimpin muslim.

JAWAB :

Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Al-Ijma’ bahwasanya Orang Kafir Haram memimpin umat Islam di negeri Islam atau di wilayah mayoritas muslim.

Kepemimpinan dalam pandangan Al-Qur’an bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firmanNya :

وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْن

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia“. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah : 124).

Karenanya, lebih baik Pemimpin Muslim yang jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, daripada Pemimpin Kafir yang jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, apalagi Pemimpin Kafir yang khianat, jahat, bejat, bodoh dan pemalas.

 

  1. Propaganda Politik

“Islam itu suci dan ulama itu mulia, sedang Politik kotor. Karenanya, jangan bawa Islam dan ulama ke dalam politik.”

Dan kalimat rancu ini, “Islam Yes, Politik No.” Serta kalimat rancu ini, “Islam Yes, Demokrasi No.”

TARGET :

Kalimat ini bertujuan untuk menjauhkan Islam dan ulama dari politik agar para Politisi Durjana bebas dan leluasa mengatur negara dan bangsa sesuai “Syahwat Syaithooniyyah”-nya.

JAWAB :

Islam itu suci dan ulama itu mulia, sedang politik (سياسي) itu penting untuk mengurus negara dan bangsa. Karenanya, dengan Islam yang suci dan ulama mulia yang senantiasa menjaga koridor tatanan dan kemurnian kebijakan politik agar tidak dikotori oleh para politisi durjana.

Karenanya, Islam menjadikan Kekhalifahan menjadi salah satu bab penting dalam Fiqih Islam. Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersama Khulafa’urrasyidin Radhiallahu anhum, telah mempraktekkan Politik Islam yang benar lagi bersih untuk menjadi suri tauladan bagi segenap umat Islam.

Baca juga :   Pendidikan Lembut dan Ramah Rasulullah

Ketika Allah memerintahkan nabi-nabi-Nya untuk menegakkan agama, maka itu berarti juga Allah memerintahkan umat-umat mereka untuk menegakkan agama. Demikian pula ketika Allah memberi perintah kepada Nabi Muhammad SAW:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (QS. Al-Maidah: 68)

 

  1. Propaganda Tathbiq Syariah

“Syariat Islam adalah aturan hukum yang bagus, saat diterapkan di zaman Generasi Terbaik “shahabat”, maka hasilnya bagus.

Sedang zaman sekarang generasi umat Islam sangat lemah dan tidak bagus, sehingga tak mampu menjalankan Syariah yang begitu paripurna. Karenanya, umat Islam saat ini jangan sibuk dengan perjuangan Tathbiq syariah (penerapan syariah) dulu, tapi harus fokus kepada perbaikan diri sendiri dulu.”

TARGET :

Kalimat ini bertujuan agar umat Islam tidak lagi menperjuangkan Tathbiq Syariah dengan “dalih” memperbaiki diri dulu.

JAWAB :

Syariat Islam adalah aturan hukum yang bagus, dan selalu oleh para shahabat, sehingga menjadi Generasi Terbaik.

Nah, generasi zaman sekarang yang lemah dan kurang bagus, justru karena tidak jalankan Syariat Islam dengan baik.

Karenanya, generasi sekarang wajib mencontoh para shahabat dalam menjalankan Syariah yang begitu paripurna, sehingga bisa menjadi generasi yang bagus juga.

Ingat : Dahulu para shahabat sebelum masuk Islam merupakan Generasi Jahiliyah yang buruk, lalu masuk Islam dan menjalankan Syariah Islam, sehingga menjadi Generasi Terbaik sebagaimana dipuji oleh Allah SWT dalam firmanNya :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada ALLAH. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Imron : 110).

Kesimpulannya, siapa yang ingin menjadi Generasi Terbaik, maka wajib perjuangkan Tathbiq Syariah, karena Syariah lah yang mampu mengubah pribadi dan masyarakat menjadi Generasi Terbaik.

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.”

[HR. Muslim]