Was-Was Itu Bagian Pekerjaan dari Setan

Was-Was Itu Bagian Pekerjaan dari Setan

187
SHARE
Ilutrasi pribadi yang dalam keadaan was-was. Sumber www.yjc.ir

Majalahayah.com – Manusia seringkali dilanda keraguan, kekhawatiran bahkan ketakutan yang tanpa sebab yang jelas. Lantas hal ini karena faktor apakah yang menimbulkan sebab-sebab was-was?

Lebih lengkapnya mari simak penjelasan dari Ustadz Oemar Mita, Lc. tentang apa dan bagaimana was-was itu melanda manusia, berikut transkrip penjelasnnya:

Jadi yang pertama adalah was-was, makanya diantara apa yang dilakukan manusia. Ketika ia merasa was-was maka itu merupakan bagian dari pekerjaan setan, membuat manusia was-was. Kita melakukan kebaikan tiba-tiba muncul was-was, Itu merupakan pekerjaan setan. Bahkan was-was itu merupakan bagian dari hasil kerjasama, bagian dari bisikan setan. Kan kalau kita membaca dalam kitab talbis iblis. Salah satu diantara jebakan iblis terutama membuat manusia selalu was-was.

Was-was itu tingkatannya macam-macam, beda-beda. Ada orang yang was-was terhadap kotoran, misalnya kalau dia menatap kotoran sebagaimana dia melihat sesuatu yang menakutkan akhirnya apa semua harus keadaan bersih, dan perfeksionis dalam masalah kebersihan. Makannya sampai saya dapatkan seseorang itu sampai membuka gagang pintu itu harus dengan tissue, kemudian habis buka langsung dia bersihkan tangannya. Was-was itu.

Dan was-was itu apabila dilanjutkan bisa merusak kehidupan akal dan merusak kesadaran kita dan menyibukkan kita ke perkara yang tidak bermanfaat.

Baca juga :   Pendidikan Seksualitas dalam Islam untuk Anak Laki-laki

Makanya dalam kitab tablis iblis was-was itu harus dilawan dengan sekuat daya kalau tidak was-was itu akan mendominasi menjiwai seseorang sampai dia disibukkan perasaan was-was itu dan tidak maksimal dia memanfaatkan kesholihan dia. Tak punya lagi waktu untuk ibadah.

Saya punya teman yang terkena was-was yang kalau wudhu kalau sekali dua kali tiga kali dia tidak merasa mantap, diulang lagi. Yang kemudian kalau bajunya kena kotoran atau tangannya kena kotoran dia butuh berliter liter air untuk membersihkan itu, dan dia selalu merasa di atas tangannya masih ada kotoran itu.

Sampai tingkatan was-was itu menyentuh dalam ibadah. Menyentuh sampai fulan ketika melaksanakan solat kan ada yang terkena was-was, misal Allahuakbar sampai 4x, jika ditanya kenapa pak kok diulang ulang, jawabannya belum kena belum mantap. Tapi kemudian itu termasuk bagian dari penyakit was-was dan itu merupakan bagian dari pekerjaan setan. Dimana salah satu nama diantara setan itu Dhul was-was aliatul was-was dan kemudian kita baca di surat An-Nas.

Min syarril waswaasilkhannaas, makanya di dalam keterangan AbDhullah Bin Mas’ud was-was itu kapan munculnya? idzha adh’afa, ketika manusia itu lemah ketika mengingat Allah maka was-was  itu muncul. Tapu ketika seseorang mengingat Allah was-was kemudian bersembunyi dibalik hati kita. Jadi was-was itu sebenarnya orang punya potensi untuk was-was. Ada yang tingkatannya tebal dan ada yang tingkatannya tipis.

Baca juga :   Perbedaan antara Dunia dan Rezeki

Tapi semua orang punya potensi. Was-was bila tidak dilawan dengan segenap hati tidak, bila dibiarkan was-was tidak akan mengecil kecuali membesar. Kecuali dengan usaha yang sebesar-besarnya untuk melawan penyakit was-was itu sendiri.

Makanya kalau anda sudah melihat timbul penyakit’ was-was kena sesuatu dibersihin berkali kali kemudian pergi tadi sudah dikunci atau belum ya, kompor sudah dimatiin atau belum ya. Itu yang disebut dengan was-was. Dan itu merupakan pekerjaan setan yang bernama Dhul- Was-was kata imam An-Nawawi Rahimahullah. Penyebutan ini diambil dari tafsir Ibnu Abbas Mujahid Muqatil dan kemudian Qatada lalu mereka menafsirkan min syarril waswaas lkhannaas.

Jadi Al-Waswas itu atau Dhul was-was. Dhul itu yang memiliki was-was terus. Misalkan ada Fulan mau nikah ragu-ragu mau maju mundur maju mundur. Padahal sebenarnya dia sudah istikharah, dia sudah mantap menetapkan pilihan tiba tiba maju mundur maju mundur maka itu merupakan dari was-was.

Ibu kemudian sudah minta maaf. ibu tau ibu salah dalam keluarga minta maaf sama suaminya. Kemudian “Ah ndak ah entar jadi ge’er”, Nah itu juga was-was.