Waesah, Ibu Tangguh Mampu Gali Keunggulan Buah Hati Penderita Gangguan Spektrum Autisme

Waesah, Ibu Tangguh Mampu Gali Keunggulan Buah Hati Penderita Gangguan Spektrum Autisme

76
SHARE

Majalahayah. com, Jakarta – Tidak ada orang tua yang sempurna dalam mendidik malaikat hati. Emosional kerap kali hadir, meskipun tak pernah diinginkan. Seperti halnya Waesah (54) seorang ibu dari tiga orang anak, sering sekali menunjukan emosinya didepan putra ke tiganya yang menderita dyslexia dan gangguan spektrum autisme.

Menyandang sebagai anak berkebutuhan khusus, Waesah sering kali berbicara menggunakan intonasi bervolume tinggi kepada anaknya abiyyu (9). Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu pengetahuan tentang mendidik anak, rasa penyesalanpun hadir kedalam diri Waesah.

Tak hanya menjadi sosok seorang ibu dari anak-anaknya, Waesah turut bertanggung jawab sebagai kepala sekolah dan merangkap sebagai guru di BKB Paud Melati 1 Penggilingan, Cakung, Jakarta.

Mengetahui hadirnya Relawan Keluarga Kita (Rangkul), Waesahpun termotivasi untuk bergabung menjadi relawan keluarga kita yang didirikan oleh Najelaa Shihab sejak 2015.

Perempuan kelahiran 1973 di Tegal kini sudah mampu mengendalikan emosi meskipun tak 100%, karena seperti yang dikatakan Najelaa Shihab saat perjalanan media trip yang pantau majalahayah.com bahwa tidak ada orang tua yang sempurna, namun tidak ada pula orang tua yang tak mencintai anaknya.

“Kalau dulu saya sering emosi, seakan-akan saya menuntut anak saya yang berkebutuhan khusus sama dengan anak saya yang lainnya. Emosiaonalnya dalam bentuk teriak, dengan intonasi kencang. Saya gasabar, sehingga belum bisa menerima anak saya dengan kondisi saat ini,” Papar Ibu Waesah saat di wawancarai majalahayah.com di Kelapa Gading, Jakarta Utara (04/04/2018).

Baca juga :   Sepanjang Tahun 2017, Terhitung 3.849 Kasus Pengaduan ke KPAI

Disela perbincangan, Waesahpun menyelipkan cerita singkatnya yang menunjukan ketidaksabaran dalam menanti keinginan sang malaikat hati, Abiyyu.

“Dalam mengungkapkan keinginannya, lama sekali sehingga membutuhkan waktu yang panjang. Jadi saya sering bilang kepada anak saya, ihhh.. buruan dong mau ngomong apa? mama udah ga sabar nungguin, seperti itu. Kalau tidak saya beralasan nanti dulu yaa.. mama mau keluar dulu, artinya saya udah sabar nunggu anak saya ingin berbicara apa,” paparnya.

Tidak ada buah hati yang merasa senang saat orang terkasih mengeluarkan senjata kata yang mampu mengiris hati. Namun apalah daya Abiyyu yang tak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan kesedihannya.

“Setelah saya melakukan perenungan dan mengikuti Rangkul, alhamdulillah sudah bisa meredam. Saya bisa mengerti anak saya butuh waktu untuk mengungkapkannya dan harus sabar untuk menunggunya, ” Tambah Waesah.

Perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh Waesah kini berbuah manis. Memahami setiap manusia mempunyai kekurangan berserta kelebihan, Waesahpun berusaha menggali keunggulan sang malaikat hati.

“Awalnya saya tidak ngerti kalau anak saya mempunyai keunggulan khusus, tetapi seiring berjalannya waktu dan saya menerima kondisi anak saya, akhirnya saya menggali potensi anak saya, dan saya telah mengetahuinya,” ungkap Waesah dengan bangga.

Tak seperti anak normal lainnya, dibalik suaranya yang merdu, Abiyyu pun mampu menggunakan kedua alat pendengarannya secara maksimal.

“Dengan mendengar ia bisa langsung paham,” terang Waesah.

Dalam metode pembelajaran Waesah kepada murid-murid Paud selalu menggunakan sistem review untuk mengingat apa yang telah dipelajari, namun hal tersebut tak berlaku pada diri Abiyyu.

Baca juga :   Rusia dan AS Bangun Stasiun Ruang Angkasa Pertama di Bulan

“Kalau anak-anak lain harus diulang-ulang terus dalam belajar, dan saat disuruh maju belum tentu anak tersebut mengetahuinya, dan ini adalah keunggulan anak saya, seketika saya memberikan pembelajaran di paud ternyata anak saya dengar apa yang saya terangkan. Saya mengetahuinya saat anak saya sedang bermain sendiri dan berbicara sendiri, ternyata apa yang diungkapkan itu adalah materi yang saya bawakan di paud, ” sapa Waesah dengan semangat.

Menanggapi pengalaman Waesah, Majalahayah.com di waktu yang bersamaan melakukan perbincangan kepada Najelaa Shihab.

ia mengatakan bahwa dalam membentuk anak berkebutuhan khusus menjadi seorang yang sukses tak bisa sendiri, memerlukan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

“Meskipun anak mempunyai kebutuhan khusus tak seperti anak lainnya, pasti mempunyai keunggulan. Allah itu maha adil, ” Sapa Najelaa Shihab kepada Majalahayah.com (04/04/2018).

Lanjut perbincangan, Najelaa mengatakan anak yang mengalami gangguan spektrum autisme sangat rendah dalam fungsi sosialnya, namun tidak pada fungsi spasial dan musikalnya. itu adalah keunggulan mereka jika dibandingkan anak yang lain, ”

Diakhir perkataan Najelaa mengatakan hal terpenting yang harus diketahui oleh para orang tua bahwa saat orang tua saat ingin menggali keunggulan anaknya, mereka harus Ridho jika anaknya mempunyai kekurangan.

“Jika orang tua sudah menerima dengan Ridho kekurangan anaknya dan sabar dalam mendidiknya, maka keunggulan anak akan terlihat seiring berjalannya waktu, ” pungkasnya.