Untuk Anak-anak Kita, Keberanian Seperti Apa yang akan Kita Tanamkan?

Untuk Anak-anak Kita, Keberanian Seperti Apa yang akan Kita Tanamkan?

172
SHARE
Ilustrasi ayah dengan anak. Sumber www.pinterest.com

Majalahayah.com – Masih hangat dalam momentum Hari Pahlawan dan Hari Ayah yang semakin menambah deretan Pekerjaan Rumah (PR) bagi para Ayah dan orang tua lainnya. Setidaknya nilai-nilai yang identik dengan kepahlawanan mampu ditanamkan pada generasi penerus, terutama yaitu nilai keberanian yang tepat. Merupakan wujud kejayaan sebuah bangsa adalah ketika memiliki generasi yang tertanam nilai keteladan berpadu dengan keberanian.

Berada di zaman ini adalah sebuah tantangan tersendiri dalam menyikapi fenomena generasi yang semakin berani. Dalam hal ini cukup banyak contoh dari dampak keberanian generasi , seperti kegagahan dalam tawuran pelajar, kegigihan dalam melakukan persekusi, tindakan main hakim sendiri, dan keberanian tindak kekerasan ditempat umum tanpa pandang usia. Dalam hal penggunaan teknologi juga semakin berani, seperti keberanian sepasang remaja/pelajar mengumbar kemesraan yang diluar batas norma tanpa pernikahan dalam akun media sosialnya, juga keberanian dalam memproduksi fitnah, pembuly-an dan penyebaran ancaman tanpa memperhatikan nilai moral dan etika.

Perbuatan yang semakin menambah keresahan dalam masyarakat dengan modal keberanian. Semakin menimbulkan pertanyaan keberanian yang seperti apa dan oleh siapa? Betapa banyak laki-laki seperti perempuan. Tanpa sadar mereka merendahkan perbuatan diri sendiri dan dikendalikan hawa nafsu. Seperti yang dikatakan seorang penyair tentang tipe mereka,

“Mereka menambah beban berat bumi karena banyak jumlahnya Tapi mereka tidak bersaksi untuk sesuatu yang mulia”

Dunia desawa ini dipenuhi dengan sifat pengecut dan Islam melarang menjadi orang pengecut. Diantaranya pengecut untuk mempertahankan hidup sehingga gampang putus asa. Pengecut lantaran takut dikucilkan dari komunitasnya, karena berlainan sikap dengan kebanyakan orang. Atau pengecut untuk membela sebuah nilai dan prinsip. Kemudian menjerumuskan pelakunya pada sikap yang plin-plan tanpa prinsip. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam (SAW) bersabda, 

“Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian. Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka.”  (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, sikap pemberani tidak identik dengan laki-laki saja. Lalu jika dikatakan sikap pemberani bukan hanya laki-laki, apakah sikap pemberani identik dengan tingkat usia tertentu?

Sikap pemberani tidak hanya untuk usia yang masih muda (belia). Banyak orang tua berusia 40 tahun-an tetapi hati dan pikirannya seperti usia 7 tahun. Dia senang dengan hal-hal sepele dan menangis hanya karena sesuatu yang kecil, serta mencari sesuatu yang tidak pantas baginya, dan bila memegang sesuatu di tangannya, dia pegang dengan kuat agar yang lain tidak dapat merebutnya. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak yang masih di usia belia, tetapi sikap pemberaninya telah tampak sejak dini dalam perkataan, pemikiran, sifat, dan akhlaknya.

Dikisahkan suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab  berjalan melewati tiga anak-anak yang tengah bermain dan bercanda bersama. Ketika mereka melihat Amirul Mukminin lewat, mereka lari terbirit-birit, dan tinggal seorang anak saja. Anak itu adalah ‘Abdullah bin Zubair. ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak ikut lari bersama teman-temanmu?” ‘Abdullah bin Zubair menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak melakukan dosa, mengapa aku harus takut pada engkau? Jalan juga tidak sempit, jadi aku tidak perlu meluaskan jalan untuk engkau.” Mendengar penuturan bocah Umar berkata, “Engkau seorang pemberani seperti Ayahmu (Zubair bin ‘Awwam).”

Baca juga :   Sensasi Memancing di Tengah Kota, Pemkot Jakpus Tebar Benih Nila di Kolam Monas dan Istiqlal

Sebagai contoh, Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu ketika masih berusia 10 tahun, dengan segala keberaniannya sudah sanggup (berani) menggantikan tidur di tempat tidur Rasulullah SAW, ketika suatu malam beliau sudah diancam akan dibunuh oleh kaum kafir Quraisy, dan ketika malam itu rumah beliau sudah benar-benar dikepung. Tetapi beliau sempat menyelinap keluar rumah dan Ali bin Abi Thalib yang menggantikan tidur berselimut di tempat tidur beliau. Artinya Ali bin Abi Thalib siap mati dengan menggantikan tidur di tempat tidur Rasulullah SAW.

Memang generasi terdahulu umat Islam diajarkan berani untuk segala kebaikan dan kebenaran oleh Rasulullah SAW.  Sementara generasi kita sekarang, anak-anak remaja kita hanya berani tawuran, kalau disuruh melawan sendiri mereka tidak mau. Maka Main-set harus kita ubah, sebagai orang tua dalam mempersiapkan generasi yang akan datang. 

Dikisahkan sahabat Zaid bin Tsabit yang menghabiskan masa kecilnya di Mekkah, hingga kemudian Zaid turut hijrah ke Madinah bersama Rasulullah SAW pada usia 11 tahun. Begitu juga bagaimana perjalanan sahabat Zubair bin Awwam, usianya 10 tahun ketika itu sudah menjadi pendukung dakwah Rasulullah SAW. Juga sahabat yang bernama Usamah bin Zaid usia 17 tahun, dalam suatu peperangan,  ia ditugasi oleh Rasulullah SAW, membawa panji-panii Islam dalam pasukan Islam.

Riwayat yang lain dikisahkan, seorang anak masuk menemui Khalifah dari Bani Umayyah, lalu dia berbicara tentang kaum-nya. Maka Khalifah berkata kepadanya,”Biarkan orang yang lebih tua yang maju menghadap terlebih dahulu.” Maka dia pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jika yang maju ditentukan berdasarkan usia, ada yang lebih berhak menjadi khalifah selain engkau.” Mereka adalah anak-anak kecil, tetapi seperti orang dewasa. Namun, pada zaman sekarang lebih banyak orang dewasa seperti anak kecil.

Lalu, jika sikap pemberani bukan berdasarkan usia, apakah di-tentukan dengan kesempurnaan postur tubuh? Tentu sikap pemberani bukan berdasarkan kesempurnaan tubuh, tinggi tubuh, dan kekuatan fisik juga kepandaian berbicara.

Oleh karena itu, di dalam al-Qur’an, kita dapat melihat ketika Allah  berfirman kepada orang-orang munafik,

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”   QS. Al-Munafiqun [63]: 4

Dalam hadist shahih disebutkan, kelak di Hari Kiamat akan datang seorang yang berbadan besar, tetapi dalam timbangan Allah dia tidak sampai seberat sayap nyamuk sekalipun.

Bacalah firman Allah SWT,

“… dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada Hari kiamat.” (QS.Al-Kahfi [18]; 105)

Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat mulia yang berbadan kurus dan pendek. Suatu hari, kedua betisnya tersingkap, tampak kecil dan kurus, lalu beberapa sahabat menertawakannya. Maka Rasulullah bersabda,

Baca juga :   Pengantar tentang Kepemimpinan Ayah dalam Mewujudkan Keluarga Samara

“Apakah kalian tertawa karena kedua betisnya kecil? Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya dalam timbangan di Hari Kiamat lebih berat dari Gunung Uhud.” (HR Ahmad dan al-Hakim)

Dengan demikian, jelaslah sikap pemberani tidak ditentukan usia, postur tubuh, harta, jabatan, atau gelar. Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu apa yang dimaksud dengan sikap pemberani?

Pertanyaan ini dijawab Dr. Yusuf Al-Qardhawi, dalam  bukunya Min Ajli Shawah Rashidah Tujaddidu ad-Din wa Tunhidhu bi ad-Dunya, hlm. 125,

“Sesungguhnya sikap pemberani adalah kekuatan jiwa. Pemiliknya dapat mengemban perkara-perkara yang mulia dan menjauh dari hal-hal hina. Kekuatan yang menjadikannya besar meski pun dia kecil, kaya dalam kemiskinannya, dan kuat dalam kelemahannya. Kekuatan yang menjadikannya memberi sebelum menerima, melaksanakan kewajiban sebelum meminta hak dan Kewajiban terhadap Tuhannya, diri, dan agamanya. Tidak akan berkembang sikap pemberani yang masih kosong dan mendidik para kesatria yang shaleh, kecuali dalam naungan akidah yang kuat dan kemuliaan yang kokoh.”

Sayyid Quthb dalam bukunya Ma’alim fi ath-Thariqi menyatakan bahwa tidak mungkin seorang Muslim akan memiliki keberanian (berjihad) manakala ia sendiri belum menceburkan diri dalam jihad akbar, yakni melawan setan di dalam dirinya sendiri dengan menepis hawa nafsu dan syahwatnya, ketamakan dan ambisi-ambisinya, kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya.

Oleh karena itu jangan tertipu oleh upaya pihak-pihak tertentu yang bertujuan untuk menghilangkan sifat berani. Sebab keberanian merupakan harga diri orang-orang beriman. Lantaran sifat itu sebulan sebelum kedatangan kaum muslimin orang-orang di Babylonia telah lari tunggang langgang mendengar umat Islam akan tiba di negeri mereka. Sampai-sampai Khalid bin Walid RA menenangkan masyarakat Romawi agar tidak perlu teramat takut pada kaum muslimin karena kedatangan umat Islam hanya untuk menyerukan Islam dan mengajak mereka menghamba pada Allah SWT semata.

Keberanian merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dan sebagai izzah keimanan. Tak pernah boleh ada kata gentar bagi generasi penerus dalam mengemban amanah bila ingin meraih kegemilangan. Dari sisi inilah kaum yang beriman berada jauh di atas kebanyakan orang, karena izzah keimanan menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikitpun. Serta meyakini kebenaran pertolongan Allah SWT dan semata hanya mencari ridho-Nya sebagai capaian segala sikap maupun amalannya.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139)

Sebagaimana dalam firman-Nya, ‘Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah [9]: 40)