Majalahayah.com, Jerman – Adolf Hitler, sebuah nama yang melegenda menggambarkan seorang tokoh yang sempat menjadi ujung tombak negara Jerman. Banyak sebutan untuk tokoh jerman ini, antara lain Reich ketiga yang dengan cepat membangun rezim totalitarian ketika ia dipilihnya sebagai Konselir Jerman oleh presiden Paul von Hindenburg.

Dengan partai yang dipimpinnya, Nazi, veteran perang dunia I ini menekan kemurnian ras orang Jerman dan menyingkirkan kaum yang mereka sebut Lebensunwertes Leben (Yahudi, Slavia, Rom, dan Homoseksual).

Dilansir dari Daily Mail, politisi Jerman yang acapkali disebut manusia kejam itu juga diklaim sebagai ‘sexually confused serial killer’ dalam buku yang diterbitkan pekan ini di Jerman.

Buku yang ditulis oleh pakar psikologi, Volker Elis Pilgrim dengan tajuk “Hitler 1 and Hitler 2. The sexual no-man’s-land’ yang mengacu pada arsip yang mengkisahkan refleks sang Fuehrer itu saat menyaksikan tindak kekerasan di Bioskop.

Marianne Hoppe, aktris era Nazi yang menjadi salah seorang sumber dari buku tersebut menceritakan saat ia menonton film “The Rebel” bersama dengan Adolf di Berlin.

“Dan di sana, saya percaya, Hitler mendapat semacam sensasi dan mengusap lututnya pada acara “The Rebel” dan ia mengerang. Saya tidak tahu apakah dia gila, tapi dia punya beberapa jenis orgasme (puncak kenikmatan seksual)” sampai Marinne saat mengenang adegan melempar batu ke Austria oleh tentara Perancis dalam film tersebut.

Menurut diva tersebut pria berkumis unik tebal dibawah hidung itu menyeramkan, membuatnya ingin beranjak dari bangku bioskop. Lalu sang penulis, Pilgrim menambahkan, “kecurigaan awal bahwa ada hubungan antara seksualitas dan kekerasan di Hitler. Bahkan lebih tepatnya, itu memberinya keinginan untuk memaksa laki-laki dalam pembunuhan”.

Pilgrim juga mengatakan bahwa, nafsu untuk membunuh merupakan kriteria seorang pembunuh berantai. Pasalnya, Adolf telah diklaim membunuh enam juta jiwa dan masuk dalam kategori pembunuh berantai terbesar di dunia.

“Keistimewaan dari pembunuhan berantai adalah tenang, lebih cerdik saat membunuh. Itulah apa yang Hitler dipraktikkan hanya dengan bantuan para pembantunya” tulis ahli Psikologi itu. Ia juga menambahkan “Hitler … seksualitas, saya percaya”.

Adolf mengecam Homoseksual lantara ia benci akan hal itu, ia juga menuliskan pengakuannya bahwa ia telah “mengatasi dorongan untuk memiliki seorang wanita”. Meski begitu, Pilgrim juga memiliki penjelasan untuk disposisi seksualnya terhadap Adolf.

Menurut Pilgrim, Hitler sebenarnya terdiri dari dua versi. ‘Hitler 1’ yang dikatakan tidak mencolok dan tidak berbahaya yang tercatat sampai 1918. Kemudian, setelah terluka di Front Barat, Psikiater Militer menyatakan Adolf mengidap trauma mendalam akan perang “Ini seharusnya menjadi ‘Hitler 2′” Pungkas Pilgrim.