Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (kanan) berfoto bersama Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko sebelum memulai pertemuan bilateral pada Sabtu pagi (8/4) di Momo Room, Hotel Imperial Osaka, Osaka, Jepang. (Foto: Kemendag)

Majalahayah.com, Ada tiga titik krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji. Titik krusial ini harus menjadi pegangan bagi para petugas haji.

“Titik krusial dalam penyelenggaraan haji itu ada tiga, 10 hari pertama kedatangan, masa arminah, 10 hari pertama pascapemulangan,” kata Direktur Bina Haji Kementerian Agama (Kemenag) Khoirizi Dasir dilansir dari Okezone dalam Pembekalan Terintegrasi Petugas Haji Arab Saudi Tahun 1440H/2019M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Dia menjelaskan, 10 hari pertama ibadah haji, jamaah umumnya belum paham situasi dan kondisi terkini di Tanah Suci. Tapi, umumnya jamaah sudah melakukan aktivitas.

“Nah itu perlu pemetaan oleh kawan-kawan,” katanya.

Kedua adalah fase Arminah. Dia mengatakan, dalam waktu yang sangat terbatas, jamaah belum paham medan, tetapi mereka sudah harus melakukan aktivitas.

“Yang ketiga pada saat pemulangan. Orang sibuk dengan persiapan pulang kadang-kadang dia lupa masih punya kewajiban-kewajiban di badannya yang harus dia selesaikan,” ujarnya.

Salah satu yang mempermudah petugas haji pada tahun ini adalah sistem zonasi. Menurut Khoirizi, petugas harus paham dengan sistem zonasi ini.

“Dengan zonasi ini sesungguhnya akan lebih mudah dalam kita memetakan penempatan jamaah. Kalau selama ini kita agak sulit karena kita tersebar di semua wilayah. Tapi sekarang dengan sistem zonasi ini, kita bagi dalam tujuh zonasi. Ini mempermudah semua termasuk media untuk mencari informasi yang diperlukan jamaah,” tuturnya.