Home Parenting Tidak Wajar Memaksa Anak Menjadi Pribadi Yang Sholeh/Sholehah!

Tidak Wajar Memaksa Anak Menjadi Pribadi Yang Sholeh/Sholehah!

1030
Ilustrasi. Sumber: nuqtoh.com

Majalahayah.com – Sudah menjadi harapan para orang tua, agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sholeh/sholehah. Mulai dari para orang tua dari lapisan masyarakat berekonomi kuat, sampai dengan masyarakat berekonomi lemah, mereka berharap kelak anaknya memiliki pribadi yang sholeh/sholehah.

Bahkan bagi yang memiliki ekonomi kuat, mereka berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berlabel agama yang bergengsi. Dengan harapan bahwa sekolah tersebut tentunya akan memberikan pendidikan untuk menjadikan anaknya menjadi pribadi-pribadi yang sholeh/sholehah. Sementara bagi golongan ekonomi yang kurang mampu, walaupun terpaksa menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah negeri atau bahkan yang lebih murah dari itu, juga dengan harapan yang sama, yaitu agar sang anak kelak memiliki pribadi yang sholeh/sholehah.

Semua pemikiran terpusat agar label sholeh/sholehah ini bisa menempel kedalam diri sang anak, sehingga jadilah sang anak  ‘obyek penderita’ atas keinginan si ‘subyek’ yaitu orang tuanya. Bahkan para orang tua sangat hapal dengan hadits yang menyatakan bahwa anak sholeh/sholehah-lah yang do’anya akan diijabah oleh Allah SWT, jika kelak orang tuanya meninggal dunia.

Maka, dipaksalah sang anak untuk menjalani segala ritual menuju pribadi yang sholeh/sholehah tersebut, yaitu antara lain: Hafizh Quran, sholat lima waktu (dan dipukul jika sudah berusia diatas tujuh tahun, jika tidak sholat) serta bermacam agenda ritual lain, yang dijejalkan kepadanya. Beberapa orang tua bahkan merayakan suatu hari khusus, saat dimana anaknya telah meng-khatam-kan Quran. Seluruh seremonial ini menjadi pembicaraan yang saling membanggakan diantara para orang tua dan telah menjadi justifikasi atas upaya mereka dalam rangka men-sholeh ataupun men-sholehah-kan anak-anaknya.

Lantas  bagaimana caranya anda para orang tua mendampingi anak anda dalam berproses menuju pribadi yang sholeh/sholehah?  Jika anda sendiri tidak sedang dalam proses menuju kepada pribadi orang tua yang sholeh/sholehah? Bagaimana anda bisa menjejalkan segala ritual tersebut diatas kepada anak anda, sementara anda terhindar dari segala ritual tersebut?

Anda paksa anak anda untuk melakukan ritual ibadah, sementara anda sendiri tidak melakukan hal yang sama! Anda paksa anak anda untuk khatam Quran, sementara anda tidak meng-khatamkan Quran! Anda pukul anak anda ketika tidak menunaikan sholat lima waktu, sementara anda biarkan diri anda untuk tidak menunaikan sholat lima waktu! Anda paksa anak anda untuk memahami agama, sementara anda sendiri tidak memaksa diri anda untuk memahaminya! Anda tuntut dia untuk menjadi pribadi yang sholeh/sholehah, sementara anda sendiri tidak menuntut diri anda untuk berproses menjadi orang tua yang sholeh/sholehah!

Bagaimana mungkin bahwa anda menuntut anak anda untuk menjadi pribadi yang sholeh/sholehah, sementara proses menuju pribadi tersebut tidak anda pahami? Bagaimana mungkin anda memahami proses tersebut jika anda sendiri tidak sedang dalam proses menuju pribadi orang tua yang sholeh/sholehah?

Apakah cukup amalan ritual yang dijejalkan, sebagaimana telah disebutkan diatas dapat menjadi justifikasi, bahwa anak anda telah mencapai maqom sholeh/sholehah?

Lantas untuk masalah pendidikan keimanan ini, siapakah kelak yang akan dimintai pertanggungan-jawab oleh Allah SWT? Andakah sebagai pemimpin, istri anda, ataukah sekolah anak anda yang sudah anda bayarkan bulanannya?

Maka menjadi tidak wajar memaksa anak untuk menjadi pribadi yang sholeh/sholehah, sementara anda tidak dalam upaya memaksa diri untuk berproses menjadi orang tua yang sholeh/sholehah.

Referensi
Surat Luqman (31): 33
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”