Prof. Mustofa, Saksi Ahli dalam Kriminologi pada Sidang ke-10 Uji Materil (04/10/16), dok : TYS

Majalahayah.com, Jakarta – Prof. Mustofa, Kriminolog asal Universitas Indonesia pada sidang ke-10 yang digelar Selasa, 4 Oktober 2016 di gedung MK, menerangkan zina dalam sudut pandang Kriminologi. Pada sidang uji materil terhadap pasal kesusilaan yang terdapat dalam KUHP itu, ia menjelaskan dalam Kriminologi, zina dianggap perilaku menyimpang, bukan kejahatan, atau tidak selaras dengan sentimen moral masyarakat.

“Dalam konteks se-Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa, tidak ditemukan adanya persepsi yang sama tentang benar dan salahnya terhadap perzinahan. Pengakuan ini tercantum dalam pita yang digenggam lambang negara Garuda, bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Karena tidak adanya persepsi yang sama antar suku bangsa tentang zina di Indonesia, menjadi tidak relevan membuat aturan atau reaksi formal yang tunggal terhadap zina”, ujarnya.
Dilain pihak, Majelis Ulama Indonesia pada pembukaan sidang, memberikan pandangan mereka diwakili oleh Mursyidah Thahir, anggota komisi fatwa MUI. Pihaknya menyatakan sepaham dengan permohonan para pemohon.

MUI mengatakan kepada MK, bahwa norma zina dalam KUHP yang hanya terjadi apabila dilakukan oleh pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan saja, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai ‘laki-laki dan perempuan’ yang berzina. Akibatnya tidak hanya bagi keutuhan keluarga, melainkan juga merosotnya akhlak dan moral bangsa, serta munculnya berbagai penyakit masyarakat seperti seks bebas.