Terlihat Gigih Dorong Pansus Angket KPK, Suara PDIP & Golkar Merosot

Terlihat Gigih Dorong Pansus Angket KPK, Suara PDIP & Golkar Merosot

66
SHARE
Ilustrasi bendera PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. SImber www.kabarrakyat.co

Majalahayah.com, Jakarta – Survei Indikator Politik Indonesia menunjukan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar kian merosot. Salah satu alasan yang menjadi penurunan kedua partai tersebut adalah kegigihan nya “mengganggu” Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Panitia Khusus (Pansus) Angket.

Hal itu tercermin dari temuan dalam surveinya yang dilakukan pada 17-24 September 2017. PDIP yang sebelumnya mendapatkan dukungan masyarakat sebesar 27 % turun menjadi 22,8 %, sedangkan partai berlambang beringin dari 16,1% turun 4 % menjadi 12 %.

“PDIP sama Golkar dihukum sebenarnya, karena trennya turun, meskipun tidak anjlok sangat signifikan tapi turun dari sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi di Kantornya, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat, Rabu (11/10/2017).

Baca juga :   Gelar Perkara Terbuka, Pihak Pelapor Siapkan 13 Saksi Ahli

Berkaca dari hasil survei, sambung Burhan, kedua partai politik tertua di Indonesia itu telah diganjar hukuman dari masyarakat. Pasalnya, mayoritas masyarakat menilai Hak Angket KPK sebagai upaya pemelamahan terhadap lembaga antirasuah.

“Meskipun saya pribadi memandang KPK masih banyak PR (Pekerjaan Rumah). Kritikan dari sebagian anggota pansus, justified, tetapi ketika ada hal-hal lain (untuk melemahkan KPK), masyarakat juga tahu,” ucap Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini.

Menurutnya, kendati PDIP dan Golkar merupakan partai utama pendukung pemerintah, namun, masyarakat memposisikan Jokowi pada tempat yang berbeda dengan kedua partai tersebut. Karena itu, meskipun tren dukungan PDIP dan Golkar menurun, dukungan masyarakat terhadap Jokowi tetap naik.

Baca juga :   Diisukan Dukung Ahok Pasca Istighasah, PWNU DKI Tegaskan Nahdlyin Dilarang Pilih Ahok

“Artinya pemilih melakukan proses disasosiasi antara Jokowi dengan PDIP sendiri dan Golkar. Dan ketika partai pendukung pak Jokowi sangat konsentatif berhadapan dengan KPK, publik itu melakukan disasosiai, mengganggap Pak Jokowi itu tidak bagian dari dua partai utama pendukungnya yang selalu menjadi aktif dan vokal dalam pansus KPK,” tandasnya.

Berdasarkan temuan survei nasional yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada 17-24 September 2017, mayoritas masyarakat Indonesia mengaku puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo.

“Dari sisi kinerja pak Jokowi, responden yang menyatakan sangat puas sebanyak 7,95%, menyatakan puas 60,39%, kurang puas 27,23%, tidak puas sama sekali 2,26% dan yang tidak menjawab 2,17%,” pungkas Burhan.