Majalahayah.com, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai tulisan Dandhy Dwi Laksono sudah sesuai fakta. Karena itu perbandingan antara Megawati dan juga pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi sudah tepat.

“Dandhy menulis perbandingan yang tepat, kenapa ? Dulu saat Megawati dizalimi juga dibela oleh masyarakat sipil. Sampai terjadi peristiwa Kudatuli. Sampai aktivis juga hilang tidak lepas dari peristiwa itu,” jelas Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Feri Kusuma saat ditemui di Kantor Amnesty International Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/9/2017).

Beberapa catatan terkait tulisan Dandhy pun disampaikan oleh Fery. Seperti saat Megawati ingin menjabat sebagai presiden dan janji manisnya terkait Aceh dan juga Papua.

“Lalu saat Aceh terjadi DOM lalu Megawati maju sebagai presiden. Dia juga menyampaikan dan menyebutkan dirinya Cut Nyak gelar terhormat di Aceh.¬† Dia bilang begini, kalau saya jadi presiden tidak ada darah lagi di Aceh sambil menangis,” ungkap Fery.

“Tapi justru yang terjadi tanggal 19 Mei 2003, dia memberlakukan operasi Darurat Militer. Darurat Militer itu lebih parah dari DOM. DOM itu cuma 3 kabupaten (Aceh Utara, Aceh Timur, Pidi) kalau Darutat Militer itu seluruh Aceh. Bahkan kita harus punya KTP Merah Putih, KTP yang berbeda dari KTP pada umumnya. Setiap malam ada wajib jaga malam. Tidak boleh masyarakat berkumpul, beraktivitas, setiap hari ada orang mati, setiap hari ada orang yang hilang,” terangnya.

Bagi Fery sendiri sikap dari putri mantan Presiden Soekarno itu tidak berbeda dari Aung San Suu Kyi. Karena setelah mendapat jabatan, peraih Nobel tersebut malah melupakan janji-janjinya.

“Dulu ketika dia (Aung San Suu Kyi) ditindas, saya salah satu yang¬† memperjuangan supaya dia dibebaskan. Saya sempat beli baju dia, juga menyuarakan supaya dia dibebaskan dari Indonesia. Tapi setelah secara de facto berkuasa di Myanmar dia tidak melakukan langkah progresif untuk melindungi warga Rohingya,” ungkap Fery.

Karena itu dirinya cukup heran dengan para pelapor yang menilai tulisan tersebut mengandung pencemaran nama baik. Baginya para pelapor tersebut telah kehilangan nilai kritisnya.

“Fakta tidak bisa disembunyikan. Jadi kalau ada teman-teman lain yang mempersoalkan pencemaran nama baik itu keliru. Sangat keliru. Itu kehilangan nalar kritisnya. Tidak bisa itu disebut pencemaran nama baik,” pungkasnya.