E-Poster acara "Shalawat untuk Negeri". Sumber www.goldpix.com

Majalahayah.com, Jakarta – Adanya sebaran agenda silaturahmi bertajuk acara “Shalawat Untuk Negeri” pada Sabtu (11/3/2017) di Masjid At-Tien, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bagi sejarawan Bonnie Triyana sangat kuat unsur politis terutama membangun ingatan tentang Orde Baru.

“Enggak ada di dunia ini tidak mengandung unsur politis. Dari baliho nya saja kelihatan, Habib nya di Bawah, Soeharto nya di atas. Mungkin saja mereka ingin memperkuat keberhasilan Orde Baru (Orba),” ungkap Bonnie saat ditemui oleh Majalahayah.com, di Kantor Para Syndicate, di Jln Wijaya Timur, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

Bagi Bonnie sendiri kecurigaanya cukup beralasan karena silaturahmi tersebut bertetapan dengan peringatan ‘Surat Perintah Sebelas Maret’. Tidak seperti agenda ritual dalam Islam yang merayakan peringatan hanya saat hari kelahiran atau kematian.

“Saya kan orang tradisionalis kalau mau mengenang kan hari kelahiran (Milad) atau kematiannya (Haul). Tapi ini malah pas Supersemar. Ini acara politis banget,” tegasnya.

“Pas Hajatan hari kematian almarhum ada yasinan, syukuran. Kalau ini tahlilan, syukuran, yasinan tapi Supersemar. Ya tanya mereka aja deh,” candanya.

Rencananya acara “Shalawat untuk Negeri” akan dihadiri Habib Syech, Habib Rizieq, Prabowo Subianto dan pasangan Cagub-Cawagub DKI Anies- Sandi. Titiek Soeharto sebagai pengagas acara tersebut mengatakan bahwa acara “Shalawat untuk Negeri” digelar dalam rangka memperingati lahirnya ‘Surat Perintah Sebelas Maret’.

Sementara itu Titiek sendiri menegaskan bahwa agenda tersebut tidak masuk dalam ranah kampanye pasangan nomor urut 3 Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Walaupun beredar kabar bahwa kedua paslon tersebut akan hadir dalam acara tersebut.