Training Fasilitator Regional Indonesia Timur, yang terselenggara pada 27-31 Desember 2017 di Hotel Novotel Makassar. (Foto: Muhammadiyah)

Majalahayah.com, Jakarta –  Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui Community TB-HIV Care  melakukan pengembangkan kapasitas bagi pengurus dan pengelola program Tuberkulosis (TB).

Indonesia tercatat menjadi negara ke 2 di dunia yang tidak terlaporkan atau missing cases tertinggi penderita TB dengan jumlah kasus sebanyak 690.

Hal tersebut menjadi acuan dan menetapkan tahun 2030 merupakan tantangan baru dalam mewujudkan Indonesia bebas Tuberkulosis.

Melalui pelatihan Training Fasilitator Regional Indonesia Timur, yang terselenggara pada 27-31 Desember 2017 di Hotel Novotel Makassar, merupakan salah satu upaya dalam pencapaiannya.

Menanggapi prihal tersebut, dilansir melalui muhammadiyah.or.id, Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Diah Lestari Budiarti mengatakan bahwa  “kegiatan dilakukan untuk memfasilitasi kegiatan TB-HIV di masyarakat dengan  metode partisipatif agar program penaggulangan TB-HIV  mencapai target sesuai dengan indikator yang sudah ditetapkan,” paparnya.

Tercatat kegiatan ini diikutsertakan sebantak 67 peserta, berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (Pelkesi) Sulawesi Utara, dan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Nusa Tenggara Timur.

“Pelatihan ini adalah untuk upaya jangka panjang dalam penanggulangan TB. Selama ini kita dibantu donor dari Global Fund, kedepannya kita berharap sudah mampu berjalan secara mandiri, sehingga misi Indonesia bebas TB 2030 tetap berlanjut dan terwujud sesuai yang ditargetkan,” tambahnya.

Menurut laporan, lanjut Diah, “Global Tuberkulosis Report 2016, angka mortalitas akibat Tuberkulosis di Indonesia yang mencapai 100 ribu jiwa pertahun, ditambah 26 ribu penderita tuberkulosis yang terindikasi HIV Positif. Sedangkan, prevalensi penderita Tuberkulosis di Indonesia pada  tahun 2015 sebesar 395 per 100 ribu populasi dengan angka kematian sebesar 40 per 100 ribu populasi,” tuturnya.

Melihat hal ini, Diah memaparkan harapannya “setelah agenda ini tumbuhlah komitmen, etos kerja, motivasi, daya kreasi, sehingga dapat diaplikasikan saat kembali di daerah dan wilayah kerja masing-masing,” pungkasnya.