Tak Hanya Belajar Formal, Santri Attaqwa Mampu Membuat Sukake

Tak Hanya Belajar Formal, Santri Attaqwa Mampu Membuat Sukake

57
SHARE

Majalahayah.com, Depok – Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai ajang dan kegiatan kewirausahaan, menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak kala ia dewasa.

Selain mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) secara formal, para peserta didik harus mulai dikenali peluang wirausaha yang dapat menunjang kebutuhan gizi dan protein masyarakat Indonesia.

Salah satu ajang wirausaha yang memberi kesempatan pada anak untuk berkreasi dan berani membuat terobosan adalah pembuatan susu kacang kedelai (sukake) dan tahu.

Kedelai dianggap sebagai protein lengkap karena adanya jumlah asam amino esensia. Selain itu, khasiat dari kacang kedelai adalah sebagai antioksidan, mengurangi resiko penyakit jantung, mencegah kanker, mencegah osteoporosis, dan mengatasi gejala menopause.

Santri PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization) At-Taqwa Depok, Program Studi Kewirausahaan sejak Ahad (8/7) pagi bersiap mengikuti proses pengolahan kacang kedelai. Antusiasme dan rasa ingin tahu mereka terlihat dari kesigapan menyiapkan peralatan dan menyimak paparan yang diberikan oleh instruktur.

Baca juga :   Syarekat Dagang Islam, Batik, dan Kesadaran Kemandirian Ekonomi Umat Islam

Dalam penjelasannya, instruktur memperkenalkan mulai dari cara memilih kedelai yang bagus, proses perendaman, penyaringan, pembuatan dengan proses manual ataupun mesin, memasak dengan suhu api normal, penyaringan, sampai kepada pengemasan dalam gelas cup.

“Pembuatan susu kedelai, tahu, tauge, oncom, saos, dan tepung memiliki proses yang hampir sama. Yang membedakan adalah ketelitian dan kesabaran adik-adik dalam membuat olahan kacang kedelai. Sehingga, mendapatkan hasil sempurna dan tekstur yang baik,” ujar instruktur Najih Prawira kepada para santri.

Pengasuh PRISTAC Kusnadi mengatakan, teknik mudah membuat olahan dari kacang kedelai merupakan ilmu dan pengalaman baru bagi para santri. Selain itu, dengan mengenalkan alat manual dan mesin, hal tersebut akan memacu santri untuk produktif ketika salah satunya tak dapat berfungsi.

Baca juga :   Pemilik Kapal Tolak Bantu Pencarian Korban KM Multi Prima 1

“Santri-santi kita banyak yang terkaget-kaget betapa mudahnya membuat sesuatu yang menurut anggapan mereka sulit. Saat diperkenalkan teknik pastry yang simpel juga begitu. Reaksinya sama. ‘Kirain sulit’,” kata Guru Kewirausahaan ini sembari berseloroh.

Salah satu santri asal Gunung Sindur, Bogor, Muhammad Fadlan mengaku senang dapat mengikuti kegiatan kewirausahaan. Ia berjanji ketika kembali ke tempat tinggalnya di Bogor akan mengajarkan masyarakat sekitar ilmu yang didapatkan di Pesantren.

“Alhamdulillah dapat ilmu baru, sebelumnya tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Saya kira prosesnya sulit, ternyata mudah sekali,” tutupnya.