Home Parenting Tak Cuma Ibu, Ayah Juga bisa Alami Baby Blues

Tak Cuma Ibu, Ayah Juga bisa Alami Baby Blues

121

Majalahayah.com, Jakarta – Tidak hanya ibu saja yang mengalami baby blues, nyatanya para ayah  juga banyak yang mengalaminya.

Sebuah studi yang terbit di Journal Pediatric menemukan, seorang ayah juga dapat mengalami postpartum distress syndrome  atau biasa dikenal dengan baby blues, pada minggu-minggu awal kelahiran bayi.

Apa itu baby blues?

Baby blues adalah perubahan pada mood dan emosi Anda, yang terjadi setelah melahirkan. Gejala yang muncul saat ibu mengalami baby blues antara lain mudah sedih, hilang nafsu makan, lemas tak berdaya, dan muncul perasaan bersalah. Ini semua diakibatkan hormon yang berubah.

Baby blues pada wanita, biasanya terkait dengan perubahan hormonal setelah dirinya melahirkan, dan biasanya berlangsung tidak lama, hanya sekitar beberapa minggu di awal kehamilan.

Jika stres yang dialami terjadi dalam jangka waktu lama dan semakin membahayakan, dikhawatirkan menjadi gejala postpartum depression. Pada tahap depresi ini, butuh ada tindakan lebih lanjut oleh dokter atau psikolog.

Baby blues yang terjadi pada ayah

Baby blues yang terjadi pada ayah berbeda dengan baby blues yang terjadi akibat perubahan hormon pada wanita. Pria yang menjadi ayah tentunya tidak mengalami fase hamil atau melahirkan. Nah, yang terjadi di sini adalah perubahan gejolak batin, di mana hal itu umum dan bisa mengubah keadaan diri seorang ayah.

Ada banyak faktor yang dapat berkontribusi pada perasaan depresi seorang pria saat menjadi ayah. Berikut ini adalah 3 hal paling umum yang biasa terjadi :

1. Tidak siap menjadi ayah. 

Biasanya, hal ini dipicu oleh kekhawatiran tentang tanggung jawab baru. Bagi Anda yang mengalami, mungkin Anda akan berpikir bahwa Anda punya sebuah tanggungan hidup, yaitu keluarga. Selain itu, banyak ayah yang berpikir kalau ini adalah sebuah momen berakhinya masa kebebasan Anda sebagai diri sendiri.

2. Kekhawatiran uang

Wajar dan umum bagi pria yang khawatir tentang masalah finansial yang akan dihadapi. Apalagi, kalau Anda menjadi satu-satunya yang bekerja menghasilkan uang. 

3. Takut dengan peran baru. 

Di sini, Anda mungkin khawatir dan bertanya-tanya, apakah Anda akan menjadi ayah yang baik atau tidak? Apalagi jika Anda punya kenangan buruk di masa kecil terkait sosok ayah, atau Anda ingin menjadi orangtua yang berbeda untuk anak Anda nantinya. 

Selain ketiga hal yang dikhawatirkan sosok ayah baru di atas, sebuah riset telah mengamati 5.000 keluarga terkait sindrom baby blues ini. Dari 5.000 orang, 10 persen ayah baru dinyatakan punya tingkat baby blues  yang lebih tinggi daripada sindrom postpartum lainnya.

Penemuan penting ini wajib diketahui bagi para Anda orangtua baru. Mengapa demikian? Bukankah ini wajar?

Tapi ada dampak besar yang harus segera ditangani oleh ahli. Ayah  tidak bisa mengabaikan sindrom baby blues ini begitu saja.

Sindrom ini bisa mempengaruhi kebahagiaan dan keharmonisan keluarga baru, karena Anda akan sulit untuk memberi dukungan ke istri (yang pasti juga akan mengalami perubahan hormon).

Lalu, ayah juga tidak bisa menikmati perannya dengan si bayi yang baru lahir. Jelas, kalau hal ini dibiarkan terlalu lama, bisa menjadi postpartum syndrome yang lebih berbahaya dampaknya.

Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi baby blues pada ayah?

1. Berikan pengertian satu sama lain

Bila suami Anda mengalami sindrom baby blues seperti ini, penting untuk mengidentifikasinya terlebih dahulu.

Coba mulai atasi masalah dengan bicara dari hati ke hati. Dengarkan pasangan Anda dengan penuh empati untuk mengetahui titik cemas dan takut pasangan Anda.

Sebisa mungkin, tempatkan diri Anda dalam posisinya agar Anda dapat memahami pasangan Anda dengan baik. Coba dorong pasangan Anda untuk berbagi, dan jadilah orang yang bisa diandalkan di momen sendunya ini.

2. Jauhi pikiran dan orang-orang yang negatif

Tidak semua orang bisa mengerti perasaan baby blues ini. Coba berkomunikasi dengan orang yang memiliki pikiran terbuka dan positif. Pasti, ada saja yang meremeh-temehkan kondisi Anda, sehingga malah menambah depresi. Baiknya, jauhi mereka untuk sementara waktu.

Penting juga untuk selalu meminta saran dan pendapat dari teman, kerabat, atau bahkan orangtua sendiri yang mungkin pernah ada di kondisi yang sama.

Sebisa mungkin jangan biarkan diri Anda sendirian. Saat Anda sendirian, pikiran negatif mudah menghantui Anda. Saat Anda bersama orang lain, pikiran Anda akan teralihkan pada hal-hal lain.

3. Konsultasi ke dokter dan ahli

Jika hal ini terjadi dalam waktu yang lama dan Anda tidak dapat menyelesaikannya sendiri, sangat disarankan untuk menghubungi dokter, psikolog atau terapis.

Kemungkinan Anda akan mendapatkan obat-obatan antidepresan atau disarankan mengikuti konseling. Anda tidak perlu malu untuk mencari pertolongan untuk masalah kejiwaan Anda.

Seperti halnya penyakit fisik, masalah kejiwaan merupakan sesuatu yang wajar. Mencari pertolongan merupakan salah satu langkah penting agar Anda dapat kembali berfungsi dengan baik dalam keluarga Anda dan hidup bahagia.