Majalahayah.com, Jakarta – Hsin Wu Technology University, membantah bahwa mereka telah memaksa mahasiswa Indonesia yang masuk ke sana dalam skema kuliah-magang untuk menjadi buruh. Setidaknya 300 mahasiswa dilaporkan di pekerjakan paksa di Taipei.

Ratusan mahasiswa Indonesia tersebut dilaporkan mengalami kerja paksa selama 40 jam sepekan di sebuah pabrik lensa mata di Taipei. Akibat kerja paksa ini, beberapa mahasiswa bahkan hanya diberi waktu kuliah dua hari dalam sepekan, yakni Kamis dan Jumat. 

Dalam sebuah pernyataan Hsin Wu Technology University menegaskan laporan baru-baru ini yang memberitakan Jurusan Information Management, Program Industry-Academia Collaboration telah melakukan pemagangan ilegal, dan dugaan elsploitasi manusia.

Hsin Wu Technology University menegaskan pemberitaan tersebut benar-benar bertentangan dengan kenyataan di lapangan. “Kami memprotes keras berita tersebut, dan berharap dukungan dari semua pihak, agar mahasiswa internasional berkesempatan merasakan kehangatan persahabatan Taiwan, jangan sampai memperburuk citra kebijakan New Soutbound Policy,” ungkapnya.

Mereka kemudian mengatakan, proses seleksi dan pendaftaran mahasiswa dilaksanakan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan sekolah yang menjadi rekanan di Indonesia dan mereka telah memberikan penjelasan kepada seluruh siswa bersama staf pemerintah daerah Indonesia dan melaporkan kepada Gubernur Bangka. 

“Demikian pula Gubernur telah mengunjungi para mahasiswa di Taiwan dan menyatakan puas dengan program kerjasama ini. Pihak sekolah juga sudah memberikan konferensi pers secara resmi kepada media di Indonesia,” sambungnya dalam rilis yang diterima Majalahayah pada Kamis (03/01/2018).

Kampus itu menegaskan tuduhan terhadap perlakuan mahasiswa sangat tidak beralasan dan menyebut setelah mengetahui pemberitaan ini, sebagian besar mahasiswa merasa sangat tidak nyaman dan tidak memahami mengapa media dapat memutarbalikkan fakta serta membuat pemberitaan yang bertentangan dengan kondisi mahasiswa dimana pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa seluruh siswa akan keluar dari perkuliahan. 

“Orientasi pelaksanaan industry academia collaboration kelas internasional adalah: kampus merekrut mahasiswa asing yang berkeinginan kuliah, namun memiliki kendala ekonomi. Mengingat kemampuan keuangan mahasiswa yang terbatas, kampus memberikan pengurangan biaya kuliah dan perusahaan menyediakan kesempatan kerja bagi mahasiswa secara suka rela menyesuaikan kondisi ekonomi mahasiswa,” ungkapnya.

“Kampus secara aktif melakukan perlindungan atas hak-hak dan kepentingan mahasiswa, disamping mewajibkan perusahaan partner untuk mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Perusahaan juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan kampus untuk membantu mahasiswa mengatasi permasalahan yang ada,” tukasnya.