Syarekat Dagang Islam, Batik, dan Kesadaran Kemandirian Ekonomi Umat Islam

Syarekat Dagang Islam, Batik, dan Kesadaran Kemandirian Ekonomi Umat Islam

374
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Tanggal 2 Oktober yang ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional berawal dari penetapan batik oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Karena itu, sejak penetapannya pada 2 Oktober, maka setiap tanggal itu akhirnya menjadi momen peringatan hari batik nasional untuk di Indonesia.

Mengutip dalam laman resmi UNESCO, batik Indonesia disebut sebagai bagian hidup orang Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari sejak kelahiran hingga akhir hayat orang di Indonesia. Dimulai dari proses kelahiran, pernikahan, kehamilan hingga kematian, batik hadir dalam aktivitas keseharian orang Indonesia. Atas itulah, kain batik pun dinobatkan sebagai identitas budaya masyarakat Indonesia. Kehadirannya melalui warna dan desain simbolik menjadi pengungkap kreatifitas dan spiritualitas orang Indonesia.

Baca juga :   Hidayat Nur Wahid Himbau Kader Muhammadiyah Pahami Akar Sejarah Keislaman dan Indonesia

Sebetulnya proses meraih pengakuan itu bukan hal yang mudah. Semula perjuangan diawali karena perlawanan Indonesia karena tak mau batik diklaim oleh negera tetangga Malaysia. Karena itu sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tak benda warisan manusia Unesco atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco. Kemudian diterima resmi oleh Unesco pada 9 Januari 2009 untuk diproses. Barulah pada 2 Oktober 2009 Unesco mengakui batik.

Baca juga :   Perjalanan Panjang PKI dari Syarekat Islam Menjadi Merah

Ternyata budaya batik tidak hanya mempengaruhi secara ekonomi dan sosial masyarakat, tapi juga politik. Pada sejarahnya perebutan pasar dan ekonomi dari batiklah yang menumbuhkan kesadaran umat Islam untuk berorganisasi. Hingga akhirnya pada tahun 1905, lahirlah Sarekat Dagang Islam yang nantinya berkembang menjadi Syarekat Islam. Sebuah wadah umat yang tidak hanya menumbuhkan kesadaran ekonomi, sejarah dan politik. Tapi juga berperan penting sebagai tempat pembidanan sebuah negara.