Majalahayah.com, Jakarta – Sosok Tirta Mandira Hudhi menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Dia adalah dokter yang sangat aktif mengampanyekan pencegahan virus corona di Indonesia. Dia juga membantu pendistribusian sumbangan influencer ke rumah sakit di Indonesia.

Dokter Tirta merupakan sosok nyentrik yang kerap muncul bak pahlawan di rumah sakit yang membutuhkan alat kesehatan saat virus corona mewabah.

Ujian kekuatan mental bagi dr. Tirta nampaknya berlanjut. Ia menginformasikan tengah dalam karantina di sebuah rumah sakit per 28 Maret 2020. Pemilik jasa @shoesandcare ini berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

Melalui laman Instagram @dr.tirta, ia mengungkapkan kondisinya saat ini. Komentar positif menyemangati dokter yang akrab dipanggil Cipeng ini mengalir. Meski hanya memerlihatkan foto tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan jarum infus dan memegang sebuah kertas bertuliskan,”We stand behind you,” ia tak bosan menyulutkan asa untuk membantu rekan sejawat medisnya.

“Ngatur usaha dan pergerakan dari RS? Bisa donk. Apa yang ga bisa kalo diniatin baik dan bersama Allah,” tulis dr. Tirta.

Kemunculan sang dokter yang belum genap berusia 30 tahun ini memang bukan hanya cari sensasi. Kerasnya kemauan dan rasa empati yang besar atas nasib awak medis yang merawat pasien dalam pengawasan (PDP) maupun suspect positif virus Corona membawanya ke jalan perjuangan sepi.

Berawal dari postingan bernada ceplas ceplos dan kritik pedas, dr. Tirta berhasil membuat semua elemen tersadar. Ia merogoh kocek pribadinya untuk membeli alat pengaman diri (APD), masker, dan segala kebutuhan dalam kondisi darurat medis.

Aksinya menggugah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, lembaga-lembaga filantropi, perusahaan sampai individu untuk ikut bergerak menyisingkan lengan baju dan dana untuk penyaluran bantua bagi tenaga medis. Ribuan bilik disinfeksi berhasil dikumpulkan bersama sukarelawan yang membantu dr. Tirta mengedukasi Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS)

Sang dokter mengungkap kisah di balik kerasnya kemauan membantu. dr. Tirta meski tak lagi membuka praktik, tetap menjunjung sumpah dokter untuk menolong setiap insan tanpa memandang strata sosial.

Kematian Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKMKK) UGM, Prof Iwan Dwiprahasto akibat virus Corona pada 24 Maret 2020 lalu kian menjadi lecutan bagi dr. Tirta.

Sebuah pesan dari sang guru bakal dr. Tirta sematkan di dasa, “Tabunglah uang dari usahamu, berjuang, naikkan derajat tenaga medis, amankan pasien, buat RS ! Siapa tahu kamu bisa!”

Ia bertekad terus melawan virus yang belum ditemukan vaksinnya ini. “Akhirnya gue memutuskan, meneruskan legacy beliau. Gue akan bantu sebisa gue. 100/200/300 RS. Mau gue sampe sakitpun, gue ga peduli. Negara ini butuh bantuan,” ungkapnya di media sosial.

Bukan kepopuleran yang mungkin diharapkan oleh dr. Tirta. Ia melihat potensi sebaran virus corona dapat menyebabkan krisis hingga Juni 2020 mendatang. Kegundahan atas kelambatan aksi pemerintah dan ‘bandelnya’ masyarakat bukan hanya membuatnya terenyuh. Menghimpun apa yang dipunya untuk menggugah lainnya bertindak serupa.

Itulah teladan dari seorang pemuda berpenampilan hype-beast untuk menekan angka infeksi virus Corona di negeri ini. Langkah kecil yang pantas diikuti.