Sulit Raih Pekerjaan Layak, Penderita Difabel Dirikan Rumah Batik “Difabel Blora Mustika”

Sulit Raih Pekerjaan Layak, Penderita Difabel Dirikan Rumah Batik “Difabel Blora Mustika”

444
SHARE
Difabel Blora Mustika (DBM). (Foto: blogspot/humasblorakab)

Majalahayah.com, Jakarta – Menurut penelitian MAPPI FH UI memaparkan bahwa, penderita Difabel menjadi subyek tak berdaya oleh mayoritas masyarakat. Rendahnya akses pengetahuan masyarakat, menimbulkan pemahaman yang keliru terhadap penderita Difabel.

Hal tersebut dirasakan oleh Pak Ghofur, pria asal Blora, Jawa Tengah, mengalami kecelakan saat membantu perbaikan gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU) di Blora, sehingga harus merelakan kedua kakinya untuk segera diamputasi.

Kecelakan yang menimpanya tak membuat Pak Ghofur menyerah, sehingga ia mampu menjadi motor penggerak Difabel Blora Mustika (DBM). Semangatnya bangkit kembali saat bertemu Pak Kandar yang mengalami nasib serupa, kedua tangan Pak Kandar harus di amputasi akibat kecelakan kerja, bekerja serabutan menjadi pilihan untuk membiayai pengobatan istri yang mengalami penyakit diabetes serta biaya pendidikan untuk anaknya.

Baca juga :   Komisaris Utama PT Telkom : Indonesia Perlu Kebijakan Alternarif

Sulitanya mendapatkan pekerjaan yang layak bagi penderita Difabel, Difabel Blora Mustika (DBM) menjadi solusi yang efektif bagi Pak Ghofur dan penderita Difabel lainnya. Dilansir melalui Dakwatuna, Pak Ghofur mengatakan bahwa “Hidup tanpa kedua kaki bukan alasan untuk kami pasrah dan bergantung pada orang lain, saya bingung mau kerja dimana, dalam kondisi tidak memiliki sepasang kaki, tidak ada yang mau menerima,” ujarnya.

Baca juga :   Krisis Ekonomi, 15.000 Demonstran Blokir Jalan Ibukota Sri Lanka

Kini DBM beranggotakan 600 orang penderita difabel, terdiri dari difabel kusta, tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, tuna daksa, tuna mental, psikotik, autis, polio, hidrosepalus, dan amputasi.

Kegiatan DBM dilakukan dihalaman rumah Pak Kandar yang kondisinya jauh dari layak  “Modal kami dari iuran anggota dan hanya cukup untuk membeli peralatan batik sederhana,” tambahnya.

Minimnya biaya menjadikan kondisi alat produksi tidak memadai sehingga proses produksi terhambat. Melihat hal tersebut bukan menjadi alasan untuk pasrah, lanjut Pak Ghofur, “Meskipun kami tak punya kesempatan, kami sendiri yang harus membuat kesempatan itu,” pungkasnya.