Home Parenting Study Harvard Temukan, Pola Asuh Religius Baik untuk Kesehatan Mental Anak

Study Harvard Temukan, Pola Asuh Religius Baik untuk Kesehatan Mental Anak

83
Ilustrasi Bayi (Foto: Shutterstock)

Majalahayah.com, Sudahkah Anda mengajak anak untuk berdoa pada hari ini? Atau mengajaknya ke tempat ibadah dalam seminggu terakhir? Jika belum, Anda mungkin harus segera melakukannya demi masa depan buah hati yang lebih baik.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology pada tahun lalu oleh para peneliti Harvard TH Chan School of Public Health menemukan bahwa anak-anak yang diasuh secara religius lebih sehat secara fisik dan mental ketika memasuki usia dewasa dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami pola asuh religius.

Konklusi ini didapatkan setelah para peneliti mengikuti 5.000 anak muda selama 8-14 tahun dengan mengontrol berbagai variabel, seperti kesehatan ibu, status sosioekonomi dan sejarah penggunaan narkoba atau gejala depresi. Religius di sini bisa, tetapi tidak berarti harus, punya agama formal seperti yang kita kenal.

Anak-anak yang pergi ke tempat ibadah setidaknya seminggu sekali ditemukan 18 persen lebih mungkin untuk melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi ketika mencapai usia 23-30 tahun dibanding mereka yang jarang ke tempat ibadah saat masih kecil. Mereka juga 29 persen lebih mungkin untuk menjadi sukarelawan dalam komunitasnya dan 33 persen lebih jarang terlibat dengan penggunaan narkoba.

Sementara itu, anak-anak yang berdoa atau bermeditasi setidaknya sekali setiap hari juga ditemukan 16 persen lebih mungkin untuk melaporkan tingkat kebahagian yang lebih tinggi ketika dewasa.

Kebiasaan berdoa saat masih kecil juga menjauhkan mereka dari perilaku seksual di bawah umur, dan ketika dewasa, risiko untuk terinfeksi penyakit seksual menular berkurang hingga 40 persen.

Penulis studi pertama, Ying Chen, mengatakan dalam siaran pers bahwa temuan ini penting untuk pengertian kita akan kesehatan dan pola asuh.

“Banyak anak-anak yang diasuh secara religius, dan penelitian kami menunjukkan bahwa hal ini bisa memiliki dampak kuat terhadap perilaku kesehatan, kesehatan mental dan kebahagian, serta kesejahteraan mereka,” katanya.

Menanggapi hasil temuan Ying Chen dan kolega, Emilie Kao selaku direktur DeVos Center for Religion ans Civil Society yang tidak terlibat dalam studi mengaku tidak terkejut.

Dia berkata bahwa hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian-penelitian lain yang juga menemukan bahwa kepercayaan bisa memberi seseorang kekuatan spiritual yang mendorong mereka menuju kebiasaan yang sehat, membangun jaringan sosial dan kemampuan untuk melewati cobaan hidup.

Sayangnya, berbagai survei, khususnya yang dilaksanakan di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap agama di antara anak muda cenderung menurun.

Kao memperingatkan bahwa penurunan ini bisa meningkatkan perilaku tidak sehat, seperti kecanduan narkoba dan alkohol, yang menurut penelitian, bisa dikurangi dengan pola asuh religius.

“Baik itu narkoba atau keinginan untuk bunuh diri, koneksi personal dan jaringan sosial yang kuat bisa melindungi dari adiksi dan perilaku tidak sehat dan bunuh diri,” ujarnya.