Standar Kepemimpinan dari Surah Al-Baqarah

Standar Kepemimpinan dari Surah Al-Baqarah

162
0
SHARE
Kepemimpinan
Ilustrasi Kepemimpinan. Sumber www.merdeka.com

Majalahayah.com – Dalam suatu kelompok atau organisasi dalam mengatur berbagai sumber daya diperlukan suatu kepemimpinan. Tentunya dibutuhkan keilmuan, pengalaman dan sikap mental yang didasarkan nilai-nilai yang diyakini.

Lalu bagaimana mengukur kepemimpinan yang didasari sumber nilai-nilai yang diyakini? Kita simak penjelasan yang kami transkrip dari Ustadz Asep Supriatna berikut.

Berbicara tentang Al-Qur’an ada satu surat yang Rasulullah jadikan standar siapa yang layak menjadi pemimpin. Surat Al-Baqarah,  suatu ketika Rasulullah menunjuk orang untuk menjadi utusan atau pasukan. Maka yang akan ditunjuk jadi pemimpin itu siapa diantara kalian yang hafal Surat Al-Baqarah, di jawab si Fulan. Maka yang layak menjadi pemimpin si Fulan. Itu bisa kita jadi acuan, walau pertanyaan itu tidak ditanyakan kepada kita. Karena jawaban kita pasti tidak di hafal. Itu jadi pelajaran bagi kita.

Lalu apa keistimewaan surat Al-Baqarah membuatnya menjadi standar memilih siapa yang pantas jadi pemimpin. Ternyata Rasulullah menjadikan Al-Baqarah sebagai syarat, sebagai ukuran parameter menunjuk orang jadi pemimpin. Karena Al-Baqarah mewakili sifat orang-orang yang luar biasa. Menunjukan kalau oleh para sahabat itu hafal dan paham makna nya. Mereka akan paham juga bagaimana mereka akan perbuat.

Berbeda dengan kita kalau menunjuk pemimpin calon yang akan kita tunjuk jadi atasan. Yang lebih cerdas, yang lebih pintar, pengalaman,  keren. Jarang sekali kita menunjuk orang yang lebih hafal Al-Qur’an. Al-Baqarah sangat istimewa yang dijadikan ulama rumusan seperti apa manusia di hadapan Allah.

Di ayat pertama sampai kelima, Allah menceritakan sifat orang yang beriman dan sampai ayat yang menunjukkan mereka lah orang-orang yang beruntung.

Di ayat berikutnya keenam dan ketujuh, menceritakan orang-orang kafir. Tetapi ayat kedelapan sampai ayat 20 Allah menceritakan orang-orang yang munafik. Berarti lima ayat mukmin dua ayat kafir 13 ayat menceritakan orang-orang yang munafik.

Kalau orang yang paham dia akan tahu di level mana,  di level kafir,  mukmin atau munafik. Kalau jadi pemimpin tentunya kita akan paham betul. Bahwa sosok pemimpin yang munafik sangat berbahaya, tentunya juga sosok pemimpin kafir. Surat ini menjadi standar orang-orang yang menjadi pemimpin karena dia akan paham. Oh begini orang mukmin, ini orang kafir, ini orang munafik.

Kita akan paham siapa orang-orang beriman, siapa orang-orang yang memusuhi Islam, siapa orang yang di depan bilang mencintai Islam tapi di belakang memusuhi Islam.

Kembalikan lah kepada Al-Qur’an agar bisa memilah dan memilih mana benar dan salah. Bukan menilai dari kebencian tetapi karena firman Allah menilai seseorang dengan sifat-sifatnya. Kita jadi paham di level mana kita berada.

Jangan jadi pemimpin yang kufur ingkar kepada Allah. Jadilah pemimpin yang mukmin tunduk kepada Allah. Jangan lah jadi pemimpin yang munafik di depan bicara A di belakang bicara lain. Maka berhati-hatilah jangan sampai kita terjebak dari yang kita lihat. Tapi kembalikan semua kepada Allah, kembalikan lah semua kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

LEAVE A REPLY