Muslim Xianjiang (Dok : Ist)

Majalahayah.com, Jakarta – Pemerintah China melalui pejabat Daerah Otonomi Xinjiang mengklaim mendapat dukungan dari negara-negara Islam, termasuk negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atas apa yang terjadi di wilayah otonomi tersebut.

Negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), menuduh China melakukan persekusi termasuk menahan sekitar 1 juta warga Muslim Uighur di kamp-kamp penahananan massal.

Namun, Beijing menegaskan kamp-kamp itu merupakan pusat pelatihan dan pendidikan kejuruan yang dirancang untuk menyelamatkan mereka yang melakukan kejahatan ringan atau pun pelanggaran. Mereka yang telah lulus dari pelatihan dan pendidikan kejuruan telah mendapatkan pekerjaan. Beijing menegaskan ypaya kontraterorisme di Xinjiang tidak terkait dengan agama dan hak asasi manusia (HAM).

Wakil Direktur Departemen Publisitas Xinjiang, Xi Guixiang, mengatakan China dan negara-negara Islam memiliki hubungan persahabatan dan Beijing percaya pada tidak ada campur tangan urusan dalam negeri satu sama lain.

“Negara-negara Islam telah memberi kami dukungan kuat, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengadopsi resolusi dalam dukungan (kepada) kami dan menghargai China karena melindungi hak-hak orang terutama Muslim,” katanya, seperti dikutip dari APP, Rabu (24/12/2019).

Dia mengatakan para duta besar, diplomat senior serta jurnalis dari berbagai negara sudah mengunjungi Xinjiang dan mereka menyatakan kepuasan sepenuhnya atas situasi di provinsi tersebut.

Dalam deklarasi bersama, sejumlah duta besar asing yang bermarkas di Beijing menolak propaganda terhadap China terkait langkahnya untuk membawa stabilitas di Xinjiang.

Rexiati Musajiang, Wali Kota Hotan—kota di Xinjiang—mengatakan Xinjiang adalah provinsi terbesar yang berbatasan dengan delapan negara. Provinsi ini adalah rumah bagi kelompok-kelompok minoritas multi-etnis dan 24 juta warga setempat mempraktikkan agama yang berbeda.

Menurutnya, Xinjiang telah melihat booming pariwisata dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah wisatawan ke Xinjiang melebihi 150 juta tahun lalu, naik 40,1 persen. Wilayah ini diperkirakan akan menyambut lebih dari 200 juta wisatawan tahun ini.

Dia mengatakan lebih dari 200 juta orang termasuk turis asing telah mengunjungi Xinjiang tahun ini.

Tentang upaya pengentasan kemiskinan, dia mengatakan lebih dari 2,38 juta orang di Xinjiang telah keluar dari kemiskinan sejak 2014 dan orang-orang di wilayah ini sekarang menikmati rasa kepuasan, kebahagiaan, dan keamanan yang tumbuh.

Di Xinjiang, ada lebih dari 24.000 masjid, yang mana satu masjid untuk rata-rata 530 Muslim.

Sebuah video pendek yang berisi rekaman kamera CCTV dari berbagai serangan teroris di Xinjiang selama satu dekade terakhir juga ditunjukkan selama briefing pejabat Xinjiang tersebut.

“Upaya anti-ekstremisme dan anti-terorisme kami tidak melawan agama atau kelompok etnik,” kata Xi Guixiang.

Dia mengatakan pemerintah daerah Xinjiang sepenuhnya melindungi kegiatan keagamaan secara normal. “Kami melindungi kegiatan dan kebutuhan keagamaan normal umat yang beriman dan melakukan upaya besar untuk meningkatkan kondisi tempat dan kegiatan keagamaan,” katanya.

Tentang upaya untuk memerangi dan mencegah terorisme, pejabat itu mengatakan sejak 1999 hingga akhir 2016, pasukan separatis, teroris dan ekstremis melancarkan ribuan serangan teroris di Xinjiang. Mereka membunuh orang-orang biasa, membunuh para pemimpin agama, membahayakan keamanan publik, menyerang organ-organ pemerintah, dan merencanakan kerusuhan.

“Sejauh ini, Xinjiang telah melihat tidak ada serangan teroris dengan kekerasan selama tiga tahun berturut-turut,” kata Xi.