Ilustrasi skala prioritas tertinggi. (MA/HA)

Majalahayah.com – Berbagai kebutuhan hidup memberikan pilihan dan tuntutan seolah ingin dituntaskan semua bahkan ingin digapai semua. Dari sekian banyak pilihan hal yang harus dikerjakan maupun digapai, hal ini dibutuhkan sebuah kecakapan ilmu untuk pertimbangan keputusan sikap.

Agar tidak blunder menentukan mana yang harus lebih dahulu dikerjakan atau diselesaikan, maka kita harus mengetahui skala prioritasnya. Berikut kita simak transkrip kajian Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA, mengenai prioritas mana yang sesungguhnya harus diutamakan dalam hidup:

Subahanna maa kholakta hadza batila, itu kalimat subahannAllah yang diucapkan untuk yang indah-indah asalnya bukan ingin mengungkapkan keindahannya, tapi menolak ada dzat lain selain Allah yang menciptakan ini semua. Ada yang mengatakan ini ciptaan si fulan, bukan ini ciptaan Allah Subhannahu Wa Ta’ala. Ya Allah Maha Suci Engkau yang disifati oleh yang lain, ini hanya ciptaan-Mu saja, paham?

Sekarang anda lihat kalimatnya, ketika anda mengucapkan dalam rukuk subhana, lalu anda rukuk. Anda tunjukkan hanya untuk Allah saja. Lihat, hanya Allah yang penting, yang prioritas, yang agung, yang hebat, yang akbar.

Pertanyaan saya, kalimat subhana diletakkan dengan robbunRobbun itu yang merawat, yang memelihara, yang memberikan kecukupan, memaafkan, mengampuni. Maaf ya, maaf, ketika anda mengatakan subhana  artinya anda akan menepikan semuanya selain Allah, yang tidak penting. Kalau orang yang menjadikan yang prioritas, berarti yang prioritas yang utama. Jadi yang tidak penting disimpan. Misal antum mau ke pasar, saat bersamaan jam 8 ada ta’lim. Mana yang paling penting, ta’lim atau ke pasar?

Belum tentu ta’lim, belum tentu, hati-hati. Kalau di pasar ada kebutuhan yang sangat krusial yang harus didapatkan pada saat itu juga, ibu harus ke pasar dulu, baru kemudian ambil barangnya, baru abis itu ke ta’lim. Ibu ditunggu-tunggu beli obat, obatnya adanya di pasar itu doang, ditunggu-tunggu, darahnya terus mengalir cepat ambil kesana, maaf saya mau ke ta’lim dulu. Laah, tidak bisa. Berangkat ke pasar baru kesini, itu prioritas namanya.

Baik, misal ibu belanja kemudian adzan berkumandang. Nah, mana yang lebih prioritas? Teruskan belanja, atau kita simpan dulu belanja lalu kita kerjakan panggilan Allah dulu. Mana yang pertama? Merespon panggilan adzan atau teruskan belanja? Sholat dulu atau teruskan belanja?

Perhatikan, ketika anda menyebutkan kalimat subhan itu komitmen anda untuk menepikan segala yang tidak penting selain Allah. Artinya cuma Allah yang penting. jika anda menyebutkan kata subhann, subahanna robbial ‘adzim. maka praktek dalam kehidupannya akan menempatkan Allah prioritas dalam kehidupannya.

Jadi kalau sudah memprioritaskan Allah dalam kehidupannya. maka Allah juga akan memprioritaskan dia dalam kebutuhannya. Awas ya, kalau anda selalu punya kebutuhan, dan anda selalu meminta kepada Allah, tapi anda tidak diprioritaskan oleh Allah, jarang dijawab, terlambat jawaban, bahkan tidak dijawab. Coba cek barang kali anda kurang memprioritaskan Allah dalam kehidupan anda. Orang yang memprioritaskan hukum-hukum Allah, maka dia akan memprioritaskan hukum Allah di atas hukum-hukum yang lainnya.

Saya mau minum, apa manfaatnya minum? menghilangkan haus. Perhatikan, ketika saya akan minum, maka yang lain pun akan minum dengan volume air yang sama. Ketika dia akan minum dia akan ingat, Allah menyukai minum yang seperti apa. Ambil dengan tangan kanan, ucapkan bismillah. Itu hukum Allah. Kalau ini masih mudah, yang susah itu ketika prioritas Allah bertentangan atau bersamaan dengan urusan dunia. Di sinilah kadang-kadang kita tidak konsisten memilihnya.

Untuk ibu tadi, suasana sedang belanja ada adzan berkumandang, di bawah ada mesjid bahkan bukan cuma mushola. Ente sholat dulu atau teruskan belanja? begitu mau berangkat tiba-tiba mikrofon bunyi, diskon naik jadi 95 %. Plus yang disebutkan barang yang dicari sama ibu. pertanyaan saya, anda teruskan belanja atau menunda sholat? tidak mudah.

Ini kelihatan sederhana, justru ini yang menghantarkan para rahasia pada rukuk. Kalau anda dalam rukuk mengatakan subhanna robbial ‘adzim, cuma Allah yang penting, tapi aktifitas anda menunjukan anda yang penting, dunia yang penting. Maka jika anda memprioritaskan kebutuhan dunia maka Allah pun tidak akan pernah memprioritaskan do’a anda dalam kehidupan.

Ketika anda memprioritaskan Allah dalam kehidupan, Allah dulu, Allah dulu, Allah dulu, ibadah dulu. Maka masya Allah maka bukan hanya akhirat yang diberikan, dunia yang diberikan adalah yang paling utama. Maka sholat anda di tunggu-tunggu, minta yah, mintanya jangan yang biasa-biasa, yang terbaik, akan Ku berikan kata Allah, paham?

Maka umat Muhammad itu akan ketahuan dalam rukuknya. Lihat kalimatnya, anda akan mengamati umat Muhammad itu akan kelihatan bagaimana rukuknya. Akan kelihatan bagaimana sujudnya, maka masya Allah rukuknya nampak nikmat dalam rukuknya. Hebatnya, praktek rukuk itu diterapkan dalam kehidupannya yang dia agungkan cuma Allah.

Halaman berikutnya …