Ilustrasi seorang anak kesepian. (Foto: Shutterstock)

Majalahayah.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mendorong sekolah-sekolah untuk menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA) serta membangun sistem pengaduan yang melindungan anak.

Hal ini terkait kasus tewasnya SN, siswa SMP 147 Ciracas, Jakarta Timur. SN diduga mengalami bullying sebelum tewas karena terjatuh dari lantai 4 gedung.

“Terkait kasus SN agar tidak terulang lagi, KPAI akan mendorong sekolah-sekolah di DKI Jakarta untuk menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA) dan membangun sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak saksi,” kata Retno dalam keterangan tertulis, Senin (20/1/2020).

Retno menyatakan, progam SRA tersebut efektif untuk mencegah terulangnya kembali peristiwa siswa terjatuh dari gedung sekolah.

Meski begitu, saat ini belum seluruh sekolah di Jakarta yang menerapkan SRA. Retno mencatat, dari sekira 5000 sekolah. saat ini baru ada 315 sekolah menerapkan program tersebut.

“Saat ini sekolah yang menerapkan program SRA di Jakarta ada 315 sekolah dari hampir 5.000 sekolah,” ucapnya.

Retno menjelaskan, menurut pihak Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yang sudah berkoordinasi dengan Sudin Pendidikan Jakarta Timur dan pihak sekolah menyatakan ananda tidak di-bully di sekolah.

“Namun (red) hal ini bertentangan dengan postingan korban yang merasa kawan-kawannya tidak menyukainya selama ini,” ujarnya.

Karena itu, KPAI hari ini akan melakukan pengawasan ke sekolah SN pada Senin (20/1/2020) siang. Pengawasan tersebut didampingi Sudin Pendidikan Jakarta Timur wilayah 2 dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Sekadar diketahui, seorang siswi SMP Negeri 147 Ciracas, Jakarta Timur berinisial SN (14) terjatuh dari lantai 4 gedung sekolah pada Selasa 14 Januari 2020. Setelah sempat menjalani perawatan dua hari di RS Polri Kramat Jati, siswi malang itu meninggal dunia pada Kamis 16 Januari 2020.