Foto : Ilustrasi Gogle

Majalahayah.com, Jakarta – Menjelang peringatan Maulid Nabi 12 Rabiul Awal 1440 H, Sekaten merupakan tradisi yang dijalankan dan dinikmati banyak orang.

Bagi masyarakat Surakarta (Solo) dan Yogyakarta, acara Sekaten merupakan sesuatu yang yang dinanti-nanti setiap tahunnya. Sebab, Sekaten juga dimaknai sebagai sarana hiburan keluarga yang menunjukkan identitas kearifan lokal daerah setempat.

Namun, bagi masyarakat luar Surakarta dan Yogyakarta, banyak yang belum tahu mengenai makna Sekaten atau upacara apa saja yang dijalani.

Oleh sebab itu, banyak masyarakat luar Surakarta dan Yogyakarta yang datang untuk melihat prosesi selama Sekaten berlangsung.

Makna Sekaten

Menurut KRT Haji Handipaningrat dalam bukuĀ  Perayaan Sekaten, kata Sekaten berakar dari kata dalam bahasa Arab, “Syahadatain” yang memiliki makna persaksian (syahadat). Bagi masyarakat Muslim, syahadat dianggap penting sebab merupakan proses pengakuan terhadap keesaan Tuhan dan risalah Nabi Muhammad SAW.

Kemudian, kata itu mengalami perluasan makna dengan “Suhatain” yang bermakna menghentikan atau menghindari dua perkara, perbuatan buruk dan menyeleweng.

Makna ini kemudian berkembang lagi menjadi “Sakhatain” yang bermakna menghilangkan makna dua watak, hewan dan setan. Selain itu, ada juga “Sakhotain” yang berarti menanamkan dua perkara, yaitu memelihara budi suci dan budi luhur.

Setelah itu ada juga kata “Sekati” yang bermakna orang hidup harus bisa menimbang yang baik dan buruk. Dan yang terakhir “Sekat”, adalah pembatas, untuk tidak berbuat jahat dan mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan.

Akhirnya, makna Sekaten tak hanya sebatas hiburan dan prosesi upacara semata, melainkan mengandung makna kehidupan seperti di atas yang harus bisa diterapkan oleh setiap insan individu.

Numplak Wajik

Dua hari sebelum Grebeg, diadakan upacara Numplak Wajik di dalam halaman istana. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu memakai kentongan, lumpang dan semacamnya.

Ini merupakan upacara yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak dalam acara Grebeg Muludan.

Sekaten dan perjalanannya

Tradisi turun-temurun dari sekitar abad ke-15 ini berasal dari Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam di pantai utara Jawa. Seiring berjalanya waktu, agama Islam mulai menyebar ke beberapa daerah.

Metode penyebaran Islam juga beragam, melalui kesenian dan kebudayaan, juga melalui hubungan perkawinan. Salah satu yang unik adalah penyebaran agama Islam melalui kesenian dan kebudayaan melahirkan tradisi-tradisi.

Ketika itu, para sunan dan wali melihat masyarakat Jawa menyukai perayaan, keramaian dan berhubungan dengan sebuah upacara. Selain itu, keramaian itu identik dengan alat musik terutama irama gamelan yang ketika itu disukai oleh masyarakat.

Timbul dari gagasan Sunan Kalijaga, untuk menyelenggarakan sebuah perayaan untuk menyambut dan menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Rabiul Awal.

Berawal dari situ, akhirnya sistem perayaan ini sampai dua Kerajaan pecahan Mataram Islam, Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Sekaten pada esensinya merupakan rangkaian acara untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada rangkaian acara ini, biasanya diadakan pasar malam selama satu bulan dengan acara puncaknya diadakan Grebeg Maulid Nabi dengan kirab gunungan.

Mengutip dari Kompas, Selasa (20/11/2018) menjelaskan, Sekaten pada awalnya merupakan upacara yang berwujud pertunjukan kesenian Jawa-Islam serta dakwah yang diselenggarakan Keraton Yogyakarta.

Kesenian yang ditampilkan antara lain selawatan, samprohan, dan berjanjen yang diiringi gamelan, rebana, jedor, genjreng, dan terbang.

Upacara itu digelar selama satu minggu dengan ditandai keluarnya gamelan dari Keraton untuk dibunyikan di Masjid Agung. Mengingat upacara ini suci dan sakral, pengunjung yang hendak melihat disyaratkan mencuci kaki dan membaca kalimat syahadat.

Pada Keraton Surakarta, gamelan Sekaten itu terdiri dari dua perangkat, yakni Gamelan Kiai Guntur Madu dan Gamelan Kiai Guntur Sari. Kedua gamelan pusaka mulai diangkut dari Kori Kamandungan Lor Keraton Surakarta.

Gamelan dipindahkan menuju Masjid Agung dengan cara dipikul dan diarak. Puluhan abdi dalem keraton, putra maupun putri turut serta mendampingi pemindahan gamelan dengan mengenakan pakaian tradisional Jawa.

Ketika sampai tengah alun-alun, rombongan berbelok ke arah barat menuju jalan yang mengarah ke Masjid Agung. Ketika sampai halaman masjid, iring-iringan gamelan dibagi menjadi dua.

Gamelan Kiai Guntur Madu dibawa ke sebelah selatan, sementara Gamelan Kiai Guntur Sari dibawa ke sebelah utara. Keduanya ditempatkan di sebuah ruangan bernama Bangsal Pradonggo.

Sedangkan pada Keraton Yogyakarta, terdapat keunikan gamelan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga. Gamelan tersebut akan diarak dari Bangsal Pancaniti ke Masjid Gedhe untuk kemudian ditabuh selama tujuh hari.

Puncak acara

Puncak rangkaian upacara tradisional Sekaten adalah tanggal 12 Rabiul Awal, tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, ditandai upacara Grebeg Muludan.

Grebeg ini merupakan sedekah yang dilakukan oleh pihak Keraton kepada masyarakat berupa gunungan yang berisi hasil bumi yang tersusun melingar. Akhirnya, setiap orang yang hadir akan berebut hasil bumi.

Masyarakat percaya, kalau mereka mendapatkan hasil bumi akan terbebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

Sampai saat ini, Sekaten masih dilaksakan dan dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.