Sherly Annavita : Pelibatan Perempuan pada Pendidikan Itu Perlu

Sherly Annavita : Pelibatan Perempuan pada Pendidikan Itu Perlu

398
0
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Bisa memiliki kesempatan berpendidikan tinggi tentu menjadi harapan semua orang, terutama perempuan. Tapi tidak semua perempuan mampu mendapatkan hal tersebut.

Selain karena faktor dari dalam diri perempuan itu sendiri. Masih adanya bias gender dalam lingkungan baik keluarga dan juga masyarakat, terkadang membatasi para perempuan.

Namun bagi Sherly Annavita hal itu tidaklah menjadi halangan, apalagi dalam era teknologi sekarang. Baginya perempuan juga memiliki kesetaraan untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Selain pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Hubungan International Paramadina. Dirinya pun sempat menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum dan Bisnis, Universitas Teknologi Swinburne, di Australia.

Disela-sela kesibukannya untuk memberikan inspirasi kepada anak muda. Dosen Paramadina ini pun menyempatkan waktu untuk berbincang dengan Majalahayah.

Lalu bagaimana pandangannya tentang pendidikan perempuan juga tantangan yang harus dihadapi? Juga bagaimana peran dari keluarga yang bisa menempa dara asal Aceh tersebut hingga bisa menjadi seperti sekarang? Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana pandangan Sherly tentang pendidikan?

Pendidikan itu menjadi kebutuhan bukan hanya untuk laki-laki tapi juga perempuan, tidak memandang status gender,  pendidikan itu salah satu kebutuhan sosial. Kalau dulu orang berfikir bahwa pendidikan itu hanya punya uang dan laki-laki yang bisa menempuh pendidikan tinggi.

Tapi sekarang slogan itu tidak bisa dilazimkan lagi. Karena perempuan juga membutuhkan pendidikan yang tinggi. Dia memutuskan terjun langsung ke masyarakat untuk mengaktulisasikan diri, dia menggunakan ilmu nya untuk lingkungan terkecil di keluarganya itu tidak masalah. Karena tujuan pendidikan formal untuk menstrukturkan masalah yang ini menjadi dasar manusia untuk menghadapi kehidupan nya sehari-hari.

Tantangannya?

Banyak di masyarakat yang melihat perempuan hanya di rumah saja di dapur kasur. Saya pikir itu harus dimulai dari pendidikan keluarga. Pelibatan perempuan pada pendidikan itu perlu.

Kedua menyadarkan masyarakat umum. Banyak perempuan yang berpendidikan tinggi. Ada bisikan-bisikan nanti laki-laki malu untuk mendekati. Ini kultur pikiran salah. Karena pendidikan itu bukan hanya hitam di atas putih. Tapi bagaimana dia bisa mengimplementasikan kepada masyarakat sekitarnya. Bermanfaat bagi sekitarnya. Jadi kalau bicara bermanfaat an bukan hanya pendidikan. Pendidikan menjadi penghalang bagi perempuan untuk berekspresi. Bagi saya itu tidak lagi bisa dibenarkan.

Masyarakat perlu tahu sekarang kebutuhan perempuan untuk terlibat aktif  dalam pendidikan dan dunia usaha atau bisnis tidak bisa distop. Arti tidak bisa dihalangi. Data di Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa peningkatan pertumbuhan perempuan itu lebih besar daripada laki-laki.  Ada sebuah tanggung jawab sosial di mana perempuan ini bisa sama. Bukan melebihi dalam strata sosial namun kesamarataan hak dan warga negara yg harus kita samakan.

Tantangan perempuan sekarang?

Kalau sekarang akses udah ada,  kita sudah punya senjata yaitu gadget.  Bisa diakses 7X24 jam. Kita punya kesempatan yang sama. Namun karena kesempatan yang sangat mudah, memberikan efek sosiologis, kesempatan itu jadi murah adanya. Banyak anak muda khususnya perempuan males untuk mencari tahu atau mager. Sering terjadi di kalangan aktivis anak muda.

Kedua mabuk kepada kesempatan. Data sekarang udah ada, data, informasi cepat. Saking banyaknya nya kita tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Hp bisa digunakan untuk hal baik, bisa juga digunakan untuk hal buruk. Dan saya pikir akses yang tanpa batas ini memanjakan generasi X-Z mental untuk mendapatkan tujuan berbeda. Ini menjadi tantangan kita dalam akses yang paling mudah.

Sherly Annavita saat acara I’m President (Dok : Sherly)

Bagaimana Sherly melihat perempuan dalam sudut pandang agama?

Agama tidak melarang perempuan untuk beraktivitas dan mengaktulisasikan diri ke masyarakat. Hanya saja ayat Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā (An-Nisa 34) sering digunakan untuk membatasi perempuan. Selama bisa membagi antara keluarga yang memang prioritas setelah selesai lalu ke aktivitas diluar. Bagi saya manajerial waktu itu adalah skill yang perlu dimiliki perempuan. Mana yang diperlukan dan butuhkan.

30 persen Caleg Perempuan?

Sudah sangat lama pemerintah kita diisi oleh laki-laki. Jarang perempuan mau mengambil peran. Bukan hanya anak muda tapi perempuan. Ini harus disambut baik oleh para perempuan milenial. Sekarang kesempatan tidak datang cuma-cuma. Milenial harus mempersiapkan diri dari waktu mental. Saya pikir dari sistem pendidikan itu sendiri.

Bagaimana dengan keluarga sendiri?

Keluarga itu tiang utama, kalau ada apa-apa yang terjadi di luar, saya kembali ke keluarga. Peran ibu dan ayah sangat penting,  sejak kecil saya mendiskusikan berbagai hal kepada keluarga. Dibiasakan kalau ada yang salah tanyakan kalau kalau tidak sesuai sampaikan. Tidak pernah berkata salah dalam keluarga saya kalau tidak setuju alasannya apa.

Bukan hanya karena status saya anak, jadi tidak punya ruang. Bisa Sampai titik ini karena pendidikan dari keluarga sangat kuat. Ibu saya sangat mendidik saya dari kecil. Kalau ada seribu orang bilang salah tapi kalau kamu yakin itu benar, benar faktanya, benar realitas nya sampaikan itu benar.

Dan ayah saya selalu hadir saat saya terjun ke lapangan. Selalu menyemangati ibu dan saya. Selalu ada dan Ditemani oleh ayah saya. Balance keduanya sangat penting.  Saya pikir tugas ayah selain sebagai kepala keluarga dia juga mengayomi setiap anggota keluarganya. Keseimbangan antara ayah dan ibu pada akhirnya merepentasi pada sikap dan karakter pada anak.

Dukungan keluarga?

Orang saya sangat mendukung tuntutlah ilmu setinggi apapun yang kamu mampu. Keluarga saya tidak lulus S1 cuma lulus SMA. dan berdasarkan pengalaman mereka tidak mau terjadi kepada anaknya. Bukan status finansial tapi setiap anak di negeri ini punya kesempatan meraih pendidikan. Didorong untuk pendidikan tinggi. Itu menjadi kebutuhan primer. Terlepas ada pendidikan moral.  Bagi saya pribadi orang tua saya menjadi support sistem saya.

Menjaga komunikasi?

Menjadi mahasiswa perantau jadi tantangan apalagi saya perempuan. Apalagi saya lahir dan besar di Aceh, setelah tamat SMA lanjut S1 lalu nikah saja.  Orang tua saya percaya Pendidikan itu memberikan posisi kemaksimalan.

Orang tua sesekali datang ke Jakarta kalau ada waktu saya pulang ke aceh.  Ada sistem informasi dan teknologi tidak ada masalah lagi. Yang jauh jadi dekat yang dekat jadi jauh. Video call. Keputusan besar saya minta pertimbangan dari ibu saya.

LEAVE A REPLY