Setelah Prabowo Resmi Jadi Capres 2019

Setelah Prabowo Resmi Jadi Capres 2019

93
SHARE
Foto : Ketua Umum Gerindra Parabowo Subianto, kampanya Anies-Sandi. (majalahayah.com/KS)

Majalahayah.com, Jakarta – Akhirnya semua pihak bernapas lega, Partai Gerindra secara resmi telah mengumumkan pencalonan Prabowo Subianto sebagai Capres 2019. Jokowi tak sendiri lagi, sudah ada penantang yang menurut hitungannya lebih mudah dikalahkan. Tapi rencana jadi capres tunggal sudah buyar, satu skema batal.

Pun kubu oposisi, merasa tenang karena akhirnya sudah ada calon penantang Jokowi. Bagi oposisi, siapapun figur penantang Jokowi,  kesanalah suara akan diarahkan. Energi perlawanan akan berkumpul disana, pada figur Prabowo. Masih ada peluang satu poros paket capres cawapres lagi, syaratnya dua partai biru tidak buru-buru merapat ke Jokowi.

Saya menduga energi perlawanan akan terus menguat dan meluas. Jokowi hingga kini belum punya penantang yang mendekati elektabilitasnya tapi peluangnya juga belum mencapai setengahnya dari belasan survey yang ada. Artinya rakyat tidak puas dengan Jokowi tapi belum menemukan figur yang tepat. Jika ada beberapa figur capres, mustahil Jokowi menang satu putaran, makin sulit lagi di putaran kedua..

Pada awalnya Jokowi nampak unstopable, sama seperti Ahok pada Pilkada DKI. Firasat saya saat itu Ahok pasti bisa dikalahkan walau lagi kuat-kuatnya, hampir semua kekuatan politik terkumpul padanya, Jokowi pun sama bisa dikalahkan. Syaratnya satu, harus ada penantang, karena momentum sudah dapat dan oposisi cukup terkonsolidasi. Prabowo sudah resmi dicapreskan, pendukung Jokowi lega untuk sementara, merasa Prabowo lawan yang mudah dikalahkan. Lupa kalau konfigurasi pemilih berubah dan semangat perlawanan membesar. Jika bertambah capres lagi, dijamin Jokowi melemah.

Baca juga :   Prabowo : di Indonesia Banyak Elit Politik yang Serakah

Jika Prabowo nanti akhirnya deklarasi capres diusung Gerindra dan PKS, beberapa hal akan mencuat ke publik dan menjadi diskursus yang meluas. *Pertama*, Jokowi dan lingkarannya akan merasa save, karena skema pertarungan lebih bisa terukur dan dikendalikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Luhut Binsar Panjaitan sebagai tangan kanan Jokowi sangat akrab dengan Prabowo. Berkali-kali Luhut bertemu Prabowo terbuka maupun tertutup. Tentu banyak yang dibicarakan, yang mencuat adalah rayuan agar Prabowo mau menjadi cawapres Jokowi untuk menihilkan kandidat lain, lawan kotak kosong.

Rayuan maut tak berhasil, ditawarkanlah agar Prabowo maju jadi Capres 2019. Berbagai survey sudah ditampilkan, Prabowo adalah calon yang lebih mudah ditaklukkan, sudah berkali-kali kalah. Lawan yang pernah anda kalahkan lebih mudah untuk kembali ditaklukkan, begitu jalan pikirannya. Prabowo akhirnya resmi dicalonkan Gerindra, tentu Luhut dan Jokowi tenang, merasa ini adalah hasil kerjanya. Tapi tunggu dulu, ini bukan tarung di atas ring, variabel publik dan lainnya masih banyak, tak terbaca oleh petahana. Masih banyak peristiwa tak terduga yang akan terjadi, banyak hal tak terkendali akan terus mengiringi.

*Kedua*, Prabowo mengejar takdirnya. Last battle, pikirnya. Mengakhiri ketidakpastian di partainya, juga di kubu oposisi. Prabowo memutus spekulasi yang banyak dijadikan game oleh berbagai pihak. Sama seperti PDIP yang mengakhiri spekulasi dengan tetap mencalonkan Jokowi, Prabowo dan Gerindra juga memutuskan maju kembali sebagai capres 2019 adalah ‘tahapan’ penting dalam pemilu 2019. Bahwa akhirnya pesta demokrasi akan ramai dan tidak menjadi sekedar ritual demokrasi.

Baca juga :   Cenderung Dipimpin Pemodal Besar, Pengamat Nilai Golkar Bisa Jadi Partai Kartel

*Ketiga*, Gairah demokrasi akan meningkat. Setelah Jokowi dan Prabowo, capres ketiga akan segera hadir. Publik yang tidak menyukai Jokowi tapi tidak ingin melihat Prabowo kalah tentu banyak. Berdasarkan survey, rakyat yang tidak puas pada kepemimpinan Jokowi lebih banyak, tapi mereka tidak serta-merta memilih Prabowo. Berharap ada pilihan figur lainnya yang bisa menjadi breakthrough.

Ada tiga Partai yang belum memastikan akan kemana, Demokrat, PAN dan PKB. Capres poros ketiga bisa jadi akan lahir dari sini. Mengulang Pilgub DKI, kemungkinan akan hadir poros ketiga.

Kita sudah punya dua capres, Prabowo dan Jokowi. Tinggal memastikan partai pengusungnya. Satu tahapan demokrasi tercapai, publik lega. Saluran demokrasi kembali terbuka. Apapun spekulasi dan kontroversi yang menyertainya, kita adalah masyarakat beradab yang punya itikad membangun dan menyatukan bangsa. Jangan sampai kita menjadi negara gagal. Keras dalam perbedaan pemikiran, lemah lembut dalam interaksi sosial.

Oleh : Taufiq Amrullah (dir Progress Indonesia)