Seri Monolog Keayahan: Negeri Tanpa Ayah (Part-2)

Seri Monolog Keayahan: Negeri Tanpa Ayah (Part-2)

48
SHARE
Foto : Ayah Irwan Rinaldi dalam Monolog Keaayahan "Negeri Tanpa Ayah".

Majalahayah.com – Masih dalam serangkaian sesi pada Monolog Keayahan : “Negeri Tanpa Ayah”, dimana merupakan episode performance yang bersumber dari 6 naskah karya Irwan Rinaldi sekaligus pemeran monolog ini. Kita simak lanjutan sesi kedua rangkaian monoloh keayahan sebagai berikut:

Anak kepada ayahnya butuh 2 sebenernya. 1 butuh fisik, yang ke 2 butuh psikologi. Kalau anak-anak tidak mendapatkan ayah secara fisik mungkin dia siap, tapi jangan sampai anak tak mendapatkan ayah secara psikologis.

Ayah : “Danu… Danu…”

Ayah : Ini ayah nak, ini ayah, maafkan ayah, setelah 10 tahun tidak menganggap kamu sebagai anak ayah. Danu.. Danu.. ini ayah.

Ayah :  Maaf pak ini, anak saya yang 10 tahun hilang sudah. Danuu…, ini ayah nak, ayah mau peluk kamu nak, Danu.. Danu ini ayah nak, Danu…

Itu ada Danu dan ayahnya. Danu anak 11 tahun, selama 10 tahun dia dianggap sebagai anak yang tidak dianggap dalam keluarga itu. Tiba-tiba ketika berumur 11 tahun Danu bernyanyi begitu lantangnya. Semua orang berubah, semua orang kaget melihatnya, apalagi ayahnya. Bagaimana mungkin anak, yang 10 tahun entah disimpan dimana oleh keluarga kaya raya ini, tiba-tiba bernyanyi. Mana mungkin anak-anak yang kalau berbicara bukan kata-kata yang lebih dahulu tapi yang keluar adalah ludah, bagaimana mungkin anak yang terlambat itu bisa bernyanyi, berkomunikasi, dan orang tau apa yang dia mau.

Danu, seperti sebuah bisul yang ada tapi tiada. Disimpan demikian rupa, kalau bisul itu menyembul kemudian disimpan, ditutup lagi agar supaya status sosial keluarga kaya raya ini, terutama ayahnya tidak turun ditengah masyarakat. Suatu hari, ayahnya kedatangan tamu.

Ayah : “Danu, kalau ayah ada tamu, Danu jangan kedepan, Danu mengerti?”

Ayah : “Bi, saya sudah bicara sama  bibi, kalau ada tamu saya, Danu tidak dibawa kedepan, jangan biarkan Danu kedepan sendiri. Ayo dibawa ke belakang”

Bibi : Maaf Tuan, saya yang salah”

Bibi : “ayo nak nanti bibi ceritakan bagaimana Rasullullah, bagaimana Abu bakar, ini bibi ceritakan”

Danu ternyata bukan hanya sekedar bisul, terutama bagi ayahnya tapi Danu adalah sebuah cacat bagi keluarga ini. Seorang ayah yang kaya raya, kemudian Allah menyempurnakan kekayaan itu dengan wajah dan badan yang sama bagusnya. Istrinya cantik, dan dua adik Danu juga cantik. Danu adalah cacat yang mencederai kesempurnaan yang diberikan Allah. Seolah, ayahnya tidak mau Danu ada dikeluarga ini. Ketika liburan, setiap akhir tahun mereka liburan. Kali ini liburan ke Amerika. Danu tinggal dengan bibinya, entah berapa tahun dan bulan.

Baca juga :   13 Cara Jitu Untuk Anda GAGAL Dalam Kehidupan, DIJAMIN! (Seri Ketiga)

Bibi : nak, ayo nak sini nak, dadah dengan ayah

Danu : ayah, dadah dadah, Danu mau ikut, Danu sudah siap baju. Dadah. [dengan artikulasi yang tidak jelas]

Bibi : sini Danu, bibik peluk kamu ya,mungkin kamu adalah amanah, mungkin takdir kamu datang menjawabnya, sini nak.

 

Aku ini  heran, ada orang mau punya anak, bersunggguh sungguh mau punya anak, tapi Allah gaktidak takdirkan punya anak. Ada Allah yang limpahkan anak, tapi memperlakukan anak tidak sesuai dengan amanah yang Allah berikan.

Anak 10 tahun, mau dia berkebutuhan khusus, atau tidak. Dia membutuhkan ayahnya. Anak laki-laki membutuhkan kelaki-lakian dari ayahnya. Itu sebab Danu ingin ikut kemana ayahnya pergi. Karena dia ingin tahu bagaimana laki-laki itu khawatir, dia  pengen tahu bagaimana laki-laki itu sedih. Dia ingin coba ke dirinya bagaimana laki-laki itu bahagia, bagaimana laki-laki itu takut.

Ketika anak laki-laki kita umur 7-15 tahun, dia tidak mendapat kelaki-lakian dari ayahnya, tidak mendapatkan stimulan dari seorang laki-laki, saya khawatir itulah yang akan menyebabkan anak-anak kita terjebak di LGBT.

Ada apa dengan mu?

Itu adalah lagu yang selalu Danu lagukan ketika dia berumur 11 tahun, ada apa sebenarnya. Kuala Lumpur (KL) menyambut Danu setelah 15 tahun kemudian, menyambut dengan bahagia. Danu sekarang bekerja di perusahaan provider telekomunikasi di KL, dia diterima karena kemampuan mengingatnya luar biasa, dan gajinya langsung Rp. 25.000.000/bulan.

Ayah irwan : “saya tiba-tiba ingin ketemu Danu di KL” Saya Tanya sama  Danu, nak kamu luar biasa sekarang. Ayah Irwan dengar kamu menerima gaji Rp. 25.000.000/ bulan.

Danu : “aku sayang sama  ayah, sayang banget. Kalau aku terima gaji, aku kirim ke ayah semuanya. Aku ingin, ayah naik haji umroh dengan gajiku, ayah Irwan.

Ayah Irwan : “Danu, ayahkan orang kaya. Semua gaji kamu serahkan kepada ayah untuk naik haji?”

Danu sangat senang kalau dia menelepon ke Jakarta, dia selalu telepon dengan ayahnya

Baca juga :   Punya Banyak Mainan Kurangi Kreativitas Anak

Danu : “Yah, I love you

Saya tidak habis pikir diwaktu kecil Danu tidak mendapatkan bapaknya, tidak ada kasih sayang, tidak dapat apa-apa. Sekarang Danu mengatakan I love you ayah.

Saya ke Jakarta, saya temui bapaknya,

Ayah Irwan : “ayah, saya ketemu dengan Danu di KL. Ayah sebenarnya sudah lama pengen tahu, kenapa gaji Danu semua diserahkan kepada ayah, dan seluruh gaji Danu ayah pergunakan untuk naik haji? Ayah terangkan ke saya

Ayah : “saya berhak ngomong ini, ayah irwan, seperti beratnya saya membayangkan bagaimana nanti di Yaumul Hisab ketika ditanya apa yang kamu kerjakan saat Danu berumur 0 sampai 10 tahun? Saya ayah yang mendzalimi Danu, saya tidak pernah pegang pudak Danu, tidak pernah memeluk Danu. Danu bagi saya adalah bisul. Saya bermohon terus kepada Allah agar dibukakan hati saya agar dapat berbuat kepada anak saya yang saya lupakan selama 10 tahun. Saya berdoa, tahajjud, saya perbaiki hubungan saya dengan Allah. Suatu malam, saya sudah tidak kuat menahan keingintahuan terhadap Danu, pelan-pelan saya jalan ke kamar. Berat. Tidak pernah saya lakukan ini, saya tidak pernah berdoa ketika Danu bilang tidur.

Saya lihat Danu tertidur. Maafin ayah nak, saya pegang pelan jarinya Danu. Jari ini tidak pernah saya pegang selama 10 tahun. Danu adalah cacat bagi kehidupan kami. Danu, saya pegang kakinya pelan-pelan, saya pegang pinggang, saya pegang perut. Allahuakbar. Saya pegang dadanya, saya tidak pernah menepuk-nepuk dadanya, saya tidak pernah mengatakan kamu bisa menjadi Umar Bin Khatab. Saya pegang bahunya, saya tahu percis anak usia 10-11 tahun membutuhkan genggaman erat bahu. Berat saya tuh, saya tidak tahan untuk memeluk Danu,

Danu, maafin ayah. I love you, just the way you are.

Ayah, saya baru tahu kuncinya. Kalau ayah bermasalah dengan anak. Loving. Kalau ayah bermasalah dengan anak, ada persoalan anak atau anak marah dengan kita, berikan cinta kepada anak kita, sepenuh cinta kepada anak kita. Kemudian anak kita akan membalas sepenuh cinta dan dia akan memberikan dua sekaligus, kekaguman dan ketaatan. Loving kuncinya.