Seri Monolog Keayahan: Negeri Tanpa Ayah (Part-1)

Seri Monolog Keayahan: Negeri Tanpa Ayah (Part-1)

77
SHARE
Foto : Ayah Irwan Rinaldi dalam Monolog Keaayahan "Negeri Tanpa Ayah".

Majalahayah.com – Yayasan Langkah Kita akhir tahun kemarin menghadirkan sebuah acara yang bertajuk Monolog Keayahan : Negeri Tanpa Ayah “Karena Ayah Begitu Bermakna”.

Yayasan Langkah Kita yang dibina oleh Ayah Irwan Rinaldi dan Ustadz Bendri Jaisyuraahman ini menginisiasi sebuah pertunjukan yang menjawab pertanyaan mengenai peran seorang ayah dalam keluarga.

Serangkaian sesi pada Monolog Keayahan ini merupakan episode pertama yang bersumber dari 6 naskah karya Irwan Rinaldi sekaligus pemeran monolog tersebut.

Seketika penonton mulai terdiam khusyuk saat lampu temaram dengan lantunan musik “lir ilir” diiringi sesosok lelaki yang sedang menyapu lantai di atas panggung. Dilayar nampak gambar anak kecil dengan ekspresi luapan pemberontakan.

“Aku gak mau bapak,” terdengar teriakan ‘anak’ tersebut.

“eh nak, jangan.. jangan kau ucapkan itu nak. Ayah mohon jangan ucapkan itu.” Harap sang bapak menyela perkataan ‘anaknya’.

Bertahun-tahu saya jalan mendampingi para ayah, untuk menghebatkan dirinya. Ada ayah yang berhasil, ada ayah yang tidak berhasil, terus mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal lagi.  Ada juga ayah yang sepanjang hidupnya tidak pernah berhasil sama  sekali.

Bertahun-tahun saya berjalan, mendampingi anak-anak yang tertatih tatih setiap hari karena berayah ada, berayah tiada. Ada ayahnya secara fisik, tapi sangat sukar mereka menjumpai ayahnya secara psikologi. Padahal ayahnya ada disampingnya, dia bisa pegang tangan ayahnya, dia bisa pegang pundak ayahnya, dia bisa melihat ayahnya main HP, dia bisa lihat ayahnya baca koran, dia bisa lihat ayahnya berjalan ke kanan ke kiri, dan dia bisa lihat ayahnya dari pucuk kepala ayahnya sampai ujung kaki ayahnya

Tapi saya mau ngapain? gak ada jembatan emosi, gak ada jembatan cinta antara ayah dan anaknya.

Anak : AKU GAK MAU BAPAK

Saya khawatir, kalau anak-anak sudah bicara dia gak mau bapaknya, saya tau percis, saya tau percis mau kemana anak itu terdampar, saya tau.

Ada sekian banyak fasilitas yang akan memuaskan nafsu seks, ada sekian banyak tokoh-tokoh kriminal yang akan merekrut anak-anak ini dan memberikan harga diri anak. Ada puluhan bandar narkoba, mungkin ratusan, mungkin ribuan yang sudah menyulap dirinya menjadi ayah yang patut dan siap menerima kantong jiwa anak kita yang gosong ini, yang terguncang ini.

Baca juga :   Kedekatan Ayah-Anak Bisa Halau Pornografi dan Seks Bebas

Mungkin kalimat itu ada dimana-mana, tersebar di rumah-rumah di ujung samudra, atau di puncak bukit sana, rumah-rumah miskin disana, atau anak-anak miskin yang hidupnya gak patut, di kaki-kaki bukit sana, atau mungkin sepanjang pesisir pantai, yang dia makan aja susah, atau anak-anak petani, atau mungkin anak-anak orang kaya dirumah orang kaya, atau mungkin anak-anak yang disamping bapak, disamping ibu, atau dibelakang bapak, ibu yang sekarang sedang menyimpan kalimat-kalimat, dan suatu saat dia akan berteriak, “aku gak mau bapak” atau sekarang anak-anak dirumah yang mungkin menyimpan, menahan, dan suatu saat nanti, dia kan berkata “aku gak mau bapak”.

Ini, Marah namanya, 13 tahun. Anak laki-laki yang sedang mencoba menahan gemuruh tombang di dadanya mendesak desak. Anak laki-laki yang dia tumpahkan rasa sayangnya tidak terbalas yang dia merasakan bapaknya gak tau tentang dirinya, yang gak tau  apa yang dia mau.

Marah bukannya gak mau mendengar apa yang dikatakan bapaknya. Semua nasihat bapaknya dia mau dengar. Tapi bertahun-tahun marah atau bapaknya gak punya keterampilan berbicara.

Dan Marah, anak 13 tahun ini. Dia mau sebenarnya berbicara kepada bapaknya, dia mau sebenarnya mengungkapkan apa yang menjadi kendala hidupnya ketika umur 11 tahun, dia mau sebenarnya berbicara sama  bapaknya. Tapi bertahun-tahun gak pernah tau bapaknya punya kehebatan, bagaimana mendengar itu.

Itulah terjadi sepanjang waktu penuh dengan  ketegangan, penuh dengan ancaman, penuh dengan kekhawatiran, penuh dengan kesedihan dari pagi ke pagi. Bahkan ketika bangun pagi pun marah merasakan.

Bapak : “Marah, kenapa km gak bisa bangun sekali ketika ayah membangunkan mu”

Bapak : “Marah, bangunnn. Marah, bagaimana cara bapak membangunkan mu nak? Dasar pemalas betul kamu, mana kupingmu?  Kemana kupingmu? Kamu gak lihat tangan bapak ini? Tangan bapak ini kamu lihat, bekerja keras untuk mu, untuk hidupmu, untuk perutmu ini”

Bapak : “Anak yang tidak tahu diri, anak yang tidak bisa membantu, anak yang tidak tahu diuntung”

Marah : “Ayah, jangan bilang aku pemalas yah, aku bukan pemalas, Cuma kalau bangun tidur cepat, kepala ku sakit. Sakit. Gak bisa langsung duduk, ayah. Dan ayah jangan bilang kalau aku ini gak bisa membalas semua yang ayah berikan kepada aku. Suatu saat nanti aku akan balas. Semua yang ayah berikan kepada aku, akan ku balas ayah, akan ku balas semuanya.”

Baca juga :   Video Ahok Disebar, Polri Himbau Masyarakat Jangan Mudah Terprovokasi

Marah : “aku sudah tidak kuat, aku sudah tidak kuat, AKU udah gak KUAT AYAH.”

Marah kalau sudah begini, dia bisa lari ke balik semak ke sebrang rumah, kemudian dia bisa duduk berjam-jam, menunggu, menahan emosi, menahan rasa kecewanya, menahan tangisnya yang mau tumpah. Dia bisa berjam-jam,dia bisa berjam-jam. 

Tapi tidak untuk hari ini, hari ini dia menyimpan dan mengambil pas foto pernikahan bapak ibunya waktu menjadi mempelai beberapa tahun yang lalu. Dengan mata yang memerah, rahang yang berbunyi. Dia pandangi foto ayah dan ibunya.

“Ibu, aku sayang sama ibu. Ibu bagi ku adalah tempat untuk menyerahkan segala sesuatu, ibu bagiku adalah tempat untuk bersandar, ibu bagiku adalah tempat mencurahkan apa yang aku punya. Aku sayang sama  ibu.

 “Maaf” {merobek poto}

“Pak, aku benci sama bapak, tapi sebenernya aku sayang sama bapak. Kenapa sih bapak, hidup dengan bapak selalu penuh dengan kesalahan, kalau aku mau berbicara, aku belum cukup umur untuk mengusul, tapi kalau aku diam aja bapak mengatakan kemana saja semua yang kamu dapat di sekolah. Kalau aku berbuat baik sama bapak, bapak gak pernah memberikan pujian, gak pernah memberikan penghargaan kepada aku. Aku itu butuh. Aku gak mau seperti bapak. Aku mau seperti ayahnya Nungky. Yang kalau ketemu dengan Nungky selalu bilang “Hai nak, sini bapak peluk nak. Kamu bahagia gak hidup hari ini? Sini bapak peluk. Aku mau seperti ayah Sunarti. Yang kalau ketemu dengan ayahnya, yang kalau ketemu dengan anaknya, ayahnya mengatakan “nak, bapak tau apa yang kamu rasakan, kita jalan-jalan yuk nak”

“Pak, aku mau seperti ayahnya Bimbim yang kalau apa-apa selalu megang pundakku, menepuk nepuk pundakku dan mengatakan aku yang terbaik, AKU YANG TERBAIK.”

“AKU GAK MAU SEPERTI BAPAK… AKU GAK MAU SEPERTI BAPAK… AKU GAK MAU SEPERTI BAPAK” {melempar poto ayahnya}