Seri Kajian Hijrah : Angan dan Realita (Part 2)

Seri Kajian Hijrah : Angan dan Realita (Part 2)

314
SHARE
Ilustrasi seri Kajian hijrah angan dan realita. (MA/HA)

Majalahayah.com – Lanjutan seri kajian sebelumnya (Part 1). Jadi wajah-wajahnya yang sudah lama kajian, ustadz-ustadznya kelihatannya tenang-tenang saja, padahal banyak masalah. Nabi berkata dalam Hadist Tirmidzi ketika nabi menggambar kotak lalu Beliau membuat garis-garis, lalu Beliau bilang kalau garis-garis itu masalah berpindah-pindah dari masalah ke masalah yang antiklimaks nya adalah kematian.

Setelah hijrah, masalah-masalah itu ujian, benar tidak ini hijrahnya, ori atau KW?

Benar-benar karena Allah atau hanya karena manusia?

Benar-benar mencari akhirat, atau hanya dunia? Cuma beda panggung aja, beda kostum tapi tetap ingin eksis, tapi hanya kostumnya yang berbeda. Berani tidak meninggalkan semua itu? Ini yang harus kita camkan, harus kita renungkan bahwa hakikat dari hijrah itu, ujian, ujian dan ujian.  Sampai datangnya kematian. Itu firman Allah dan itu pengalaman para nabi, itu sunatullah, kalau instan Nabi tidak akan hijrah dari Mekkah sampai Madinah. Simbol dan icon, kenapa Nabi ke Mekkah terus ke Madinah? Itu anti klimaks kan.  Beliau sudah merasakan seluruh tekanan, intimidasi, rasa sakit, bahkan beliau ingin dibunuh, sementara tugas beliau belum selesai. Ini 13 tahun, kalau hanya 3 bulan tidak ada apa-apanya. Nabi itu.

Emangnya Allah tidak bisa menolong Nabi secepat mungkin? Bisa. Kenapa Nabi dicaci, dimaki, diboikot dengan khadijah. Orang sekarang bilang perekonomian sedang lesu, bener itu, tapi kalau dibandingkan dengan Nabi yang tidak makan selama 3 tahun? Keluhan kita itu tidak ada apa-apanya. Ditimpukin, ditimpuk anak kecil, diusir. Itu sakit secara fisik dan secara psikis benar-benar direndahkan. Yang ngusir Nabi Muhammad itu anak kecil.

Tapi Nabi tidak down, Nabi bangkit lagi, Nabi bangga, ada generasi yang beribadah kepada Allah.  450 kilometer berhijrah naik unta, apa sulitnya malaikat melindungi? Aman semua tinggal bilang kun fayakun. Kan mudah. Tapi bukan begitu aturan mainnya.

Dalam Surat Muhammad ayat 4.

“…Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”

Kalau Allah mau, anda akan dimenangkan dari mereka. Tauhid, terus ada yang nyinyir, tinggal diubah jadi kodok, diberi petir, kalau Allah mau bisa, tapi bukan begitu aturan mainnya. Allah menguji melalui mereka.

Baca juga :   Ustadz Adi Hidayat : Apa itu Nasib?

Saat kendalanya keluarga anda, Allah ingin menguji melalui istri anda, melalui suami anda, anak-anak anda. Ada atasan yang tidak suka dengan perubahan kita itu kendalanya ujian. Kita ditolak sana sini, Allah ingin uji, dengan pihak-pihak yang menolak anda, itu ujian. Allah membuat anda sukses gampang, tapi bukan begitu aturannya mainnya, Allah ingin memfilter.

Allah menyampaikan dalam Surat Muhammad ayat 31,

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

bahwa Kami akan memberikan harta, Kami akan menguji kalian. Kami akan menguji kalian agar terbukti, karena kalau tidak begitu kita akan berdebat di hari akhir. Karena manusia suka berdebat. Siapa yang berhasil? Orang yang teguh, sabar dijalan Allah. Dan kami akan menguji lisan-lisan kamu, berita-berita kalian.

Siapa yang meninggalkan riba, lalu mendapatkan kontrak H+1 di perusahaan yang katanya syariah gajinya 70 juta. Ya pada mau keluar kalau yang berhijrah langsung mendapatkan pekerjaan halal dengan 100 juta. Kalau ada lelaki yang melamar orang kaya raya dan sholeh, siapa yang tidak ingin keluar? Siapa yang tidak mau begitu?

Sehingga tidak terlihat mana yang berjuang dan mana yang tidak, mana yang jungkir balik dan mana yang aji mumpung, karena tidak semua orang niatnya benar. Bahkan mayoritas banyak yang bermaslah dengan niatnya

Allah berfirman Dalam Surat An-Nisa ayat 66, Allah mengatakan,kalau kita diperintahkan membunuh kaum mereka sendiri, atau kelaur dari rumah-rumah mereka, tidak ada yang mau, kecuali sedikit dari mereka. Kalau kami perintahkan untuk keluar dari rumah untuk membunuh dirinya sendiri mereka tidak ada yang mau atau sedikit dari mereka.  Hadirin, Ismail mau, kita tahu kisahnya? Setiap mimpi para nabi adalah wahyu, saya diperintahkan untuk membunuh kamu, Ismail mau, kalau kita jujur hijrah, mau. Kalau kita minta begitu baru kelihatan mana yang benar-benar cari akhirat mana yang hanya dunia, mana yang hanya sekedar eksis dan tidak mikir mana yang mencari ridho Allah subhanallahu wa ta’alaa.

Kalau tidak ada ujian tidak akan terbukti mana yang sedikit, kalau semuanya santai, hiburan, gelap tawa, main-main.

Makanya  hijrah ini adalah jalan loyalitas kepada Allah, dan keikhlasan kepada Allah yang tujuannya akhirat. Ujian komitmen, dunia adalah amal. Tanpa hisab. Diakhirat hisab tanpa amal.

Baca juga :   Kriteria Pasangan Ideal Menurut Ustadz Salim A Fillah

Yang jadi masalah, banyak orang setengah-setenagh, begitu ditinggalkan usahanya, di otaknya masih ingin menajdi orang kaya. Mempunyai ambisi boleh, saat jatuh tapi jangan down, kalau orang yang ikhlas, mau tidak punya uang juga harus sabar.

Kalau hijrah Anda bener tidak akan stres saat tidak ada uang, kan tujuan anda sudah dapat.  Kenapa anda masih mengeluh? Kenapa futur? Kenapa down ketika di -PHK?

Anda di-PHK  tetapi anda tetap bertakwa, Dimanapun anda berada, tetap bertakwa. Allah senang dengan orang bertakwa.

Kalau tujuan anda Allah kenapa anda masih mengeluh? Kecewa? Berarti tujuan anda bukan Allah. Yang anda cari masih uang. Tapi kemasannya hijrah, casing-nya uang, popularitas, eksis, tetap panggung dunia yang anda incar. Tapi beda genre. Allah tidak bisa di-kadalin, diuji terus sampai benar kebuka, Allah tahu hal yang ghaib, Allah tahu apa yang disembunyikan isi hati umat-Nya. Jujur tidak  tuh?

Ketika anda jujur, Nabi mau tuh nemenin orang-orang kafir, kalau masih ketakutan galau, baper, berarti anda masih mencari pujian manusia, panggung di hadapan manusia, anda ingin dikatakan kaya sama manusia. Tidak bisa, ayat tersebut tidak bisa diotak-atik lagi. Kalau orang sudah pas hatinya dengan ayat tersebut, hawa nafsunya sudah bisa dibatasi. Kata Syaikhul Islam Ibnu Al Jauzi, inti dari hawa nafsu adalah kecintaan terhadap diri sendiri. Dan yang paling berharga ketika kita berbicara tentang diri sendiri kan nyawa. Ketika Allah minta nyawa kita, kita berikan? Itu sudah luar bisa. Tapi Allah tidak minta itu kan? Itu hanya kepada Ismail saja, Ismail pun tidak mati, tapi happy ending. Ini semua hanya ujian pada manusia, jujur tidak sama Allah, tulus tidak sama Allah.

Ketika berhijrah anda meninggalkan yang haram dan itu baru bernilai ibadah kalau karena Allah. Namun banyak orang meninggalkan yang haram karena dunia. Banyak orang yang tidak mau seks bebas karena dunia, karena tidak mau AIDS dan sejenisnya, takut keluarganya hancur, itu bukan karena Allah, tapi karena keluarga.

Allah ingin anda meninggalkan yang haram hanya karena Allah, bukan karena yang lain untuk membuktikan harus diuji, diuji dan diuji.