Seri Kajian Hijrah : Angan dan Realita (Part 1)

Seri Kajian Hijrah : Angan dan Realita (Part 1)

69
SHARE
Ilustrasi seri Kajian hijrah angan dan reakita. Sumber www.youtube.com

Majalahayah.com – Di era modern seperti saat ini kondisi masyarakat mulai akrab dengan istilah hijrah dan banyak orang mulai menempuhnya. Namun, seperti apa dan apakah semudah yang kita sangka? bahkan proses dan setelah hijrahnya lancar terus?

Dalam hal ini akan kita simak pemaparan kajian dari ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc berikut.

Kata yang cukup populer saat ini , bahkan menjadi gerakan yang positif, ditengah umat-umat islam yaitu hijrah. Kalau mungkin 10 tahun yang lalu, atau 5 tahun belakang, kata ini kalah populer dengan kata taubat, pokonya saya ingin taubat, dia sudah taubat loh, ditahun 1990.

Beberapa tahun ini, kata hijrah, atau mufulana, sekarang dia sudah hijrah, saya berniat untuk hijrah. Dan tidak ada yang salah dengan fenomena ini. Kata taubat memang sudah ada di Al-Qur’an. Hijrahpun sebuah kata yang dipopulerkan dengan Allah dan nabi Salallahu alaihi wasallam (SAW). Jadi ini positif, ketika kata ini jadi viral, dan hastag dan diucapkan di dunia lingkungan kita, pembicaraan kita sehari-hari, ini hal yang sangat positif.

Permasalahannya adalah kedudukan kita saat hijrah? Apakah angan dan harapan tersebut, sesuai dengan kenyataan yang kita  jalani atau alami dalam saat ini? Apakah kita tahu hakikat hijrah itu sendri? Karena banyak orang yang berhijrah belum paham benar apa itu berhijrah. Belum tahu aturan main dalam hijrah, semua hal  ada aturannya, sholat ada aturanya, puasa ada aturannya, begitu pula dengan hijrah

Begitu kita tidak tahu maka yang terjadi adalah angan berbeda dengan realita, angan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda,

“orang yang berhijrah, adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang Allah haramkan terhadap dia.” (HR. Bukhori)

Kata nabi, orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang Allah haramkan. Itu hijrah. Langsung dari lisan Nabi Muhammad SAW.

Dan sampai disini mayoritas sudah tau, maka jika seorang wanita men-declare saya berhijrah, maka ia menutup auratnya, kenapa? Karena dia tahu membuka aurat dihadapan yang bukan muhrimnya hukumnya haram, ketika ia berhijrah, ia berhijab.

Banyak orang berhijrah, keluar dari pekerjaanya, kenapa? Satu bilang riba, ada unsur penipuannya, riba dan gharar itu haram, kemudian dia keluar tuh. Oleh karena itu saya sampaikan, sabda nabi, insyaa Allah banyak yang paham. Ketika ia mulai meninggalkan yang haram, ia tinggalkan yang haram berserta konsekuensi-konsekuensinya, ditinggalkan masa lalunya, seperti masa lalunya, pekerjaanya, komunitasnya, hobinya, lifestyle-nya, habit, dan lain-lain. Mereka punya angan dan harapan, dia punya cita-cita, dan cita-citanya macam-macam, satu orang berbeda dengan yang lain.

Baca juga :   Abdul Somad : Agama Tidak Dapat Lepas dari Kehidupan dan Politik

Ketika ditanya antum begini dari lahir, atau berhijrah?

Banyak dari kita berhijrah, apasih angannya? Masuk surga, menjalankan sunnah, berilmu, pasangan yg sholeh atau sholehah, yang ingin kaya berkah, diterima dengan komunitas barunya, punya teman yang sholeh dan sholeha kita diterima. Kalau dulu yang berpenampilan Islami kayaknya asik tuh. merekatahukalau fitnah itu haram, mereka ngaji bahwa menjaga perasaan sesama itu wajib. “Pokoknya gue mau hijrah, lama-lama bete disini, diomongin, dibuly, difitnah, dan lain-lain.”

 Pertanyaannya, begitu kita hijrah, kira-kira nih harapan dan ekspektasi diatas, itu jadi kenyataan atau enggak? Ternyata cobaannya banyak, cari kerjaan sulit, ternyata saat ngumpul di komunitas yang Islam ternyata masih ada ghibah, ngaji itu buat kita, bukan untuk pihak lain, emang gampang menjaga lisan? Banyak yang tidak bertahan, banyak yang futur, banyak yang down, karena realitasnya berbeda dengan ekspektasinya.

Sebelum  berhijrah dia dengar khutbah jumat di masjid atau dikantor, kita balik ke agama, sakinah mawaddah dan warahmah. Begitu berhijrah , istri atau suami tidak siap, banyak perdebatan tidak terjadi, karena sebelumnya frekuensinya sama, setelah salah satu berhijrah frekuensinya akan berbeda, akhirnya bercerai, iya gak sih?

Kita harus tahu beberapa hal, agar hijrah kita bertahan, dan bisa kita tutup dengan cara khusnul khotimah. Hal pertama yang harus kita ketahui dalam hijrah, bahwa Allah sudah berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 30, Allah berfirman, “kami pasti akan menguji anda,” bener gak tuh? Kami akan menguji anda. Diuji sama Allah.

Didunia bisnis, pergaulan, dunia politik, kita terima quote bahwa tidak terima makan siang gratis? Tidak akan ada. Begitu pula dengan berhijrah, tidak gratis. Allah uji dulu.

Makanya saat Allah berbicara tentang hijrah, konteksnya tidak ada yang santai-santai, tidak ada yang dibayar cash di H+1 , contoh, kalian buka di surat Al-Imran  ayat 195,

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

artinya, maka orang-orang yang berhijrah, berhenti? Langsung dapat pahala? Tidak. Orang-orang yang meninggalkan sesuatu yang haram bagi Allah akan langsung? Kan tidak. Mereka akan diusir dari rumah mereka. Kalau cuma di sindir, dibilang orang sesat, tetap pas lebaran diundang, masih diajak makan bareng, tidak ada apa-apanya. Ini sampai diusir.

Baca juga :   Nasehat itu Punya Maksud, Ingin Orang Lain Jadi Baik

Makanya gak heran saat orang berhijrah, mayoritas akan mendapat kendala dari keluarga. Keluarga, bener ga? Ini diusir dari rumah. Ada masalah disana sini. Bingung hadapin anak-anak, itu orang tua yang sudah terlanjur mendidik anak dengan cara non islam, akan bingung sendiri jika orang tuanya sudah masuk usia lanjut, mau ke masjid, anaknya tidak mau, mau ke masjid anak main handphone, ada yang sudah hijrah, bingung hadapin orangtuanya , bingung mengajukan calonnya? Apakah orang tua mau dengan yang berjenggot. Bingung dia. Kalau antum laki-laki masih mending, kalau bagi perempuan? Biasanya dicarikan dengan orangtuanya. Perang batinnya setengah mati.

Orang yang berhijrah diusir, Allah akan uji, ini hijrah bener ga? Maka akan ada masalah, akan ada konflik, akan ada tekanan. Akan ada serangan, setelah diusir usai, dan diberikan disakiti, fisik, mental, gak gampang, dijauhi dengan teman-temannya, dikeluarin dari kantornya, yang merintis usaha gagal terus, sementara tabungan tidak ada, dia harus tahan lapar, atau anaknya sakit, dia tidak ada uang, sedangan dia tidak ada uang. Anda komitmen dengan yang halal, dia merasa tersiksa. Mereka perang dan terbunuh, remove dari group tidak ada apa-apanya. Ini dibunuh. Hijrah ga begitu, ditolak 1, 2, 3, 4 perusahaan terus down, itu bukan hijrah, saat berperang dia akan berperang, dalam rambu-rambu syari. Semoga Allah memberikan hidayah.

Yang terbunuh dijalan Allah mereka siap, diceraikan harus siap, tapi jelas rambu-rambunya. Ketika percuma jika digertak istri atau suami, yah tidak bisa kalau itu alasan untuk tidak datang kajian, hijrah itu bukan hanya claim. Hijrah itu bukan personal picture, bukan quote-quote indah, hijrah itu berat. Gak mudah. Baru setelah itu, Allah ampuni dosa-dosanya, lalu dimasukin ke surga.  

Jadi keliru angan-angan sebagian orang berhijrah agar seluruh masalahnya hilang, banyak hijrah yang begitu kan. Banyak orang berhijrah setelah ia di PHK, dapat kabar bahwa perusahaannya hanya bertahan 6 bulan lagi, sehingga mengalami kebingungan harus bayar uang gedung dan lain-lain, cari  pelarian lalu datang ke masjid ikut kajian. Ketika ada surat panggilan dari pengadilan agama perintah untuk bercerai, baru ia datang ke masjid , pas setelah dipukul suami dulu baru datang ke masjid atau pengajian, tunggu suami nikah sirih dulu baru datang ke pengajian. Angannya saat datang ke pengajian, hilang tuh semua masalah, hidup tanpa masalah, mustahil. Makanya banyak yang shock,  setelah berhijrah ternyata banyak banget ya masalahnya.