Majalahayah.com, Jakarta – Serangga tengah berhadapan dengan krisis kepunahan di muka Bumi ini. Ancaman punah tersebut sekaligus peringatan bagi umat manusia, sebab hilangnya keberadaan mereka akan menjadi bencana besar.

“Krisis kepunahan serangga saat ini sangat mengakhawatirkan. Namun apa yang kita tahu hanyalah puncak gunung es,” ungkap Pedro Cardoso, ahli biologi di Finnish Museum of Natural History dan peneliti dari studi ini.

Menurut Cardoso, aktivitas manusia bertanggung jawab atas hampir menurunnya semua populasi serangga.

Penggerak utamanya adalah habitat yang makin menipis dan rusak, diikuti oleh polutan seperti insektisida. Selain itu, juga adanya eksploitasi berlebihan kian membuat populasi serangga menurun.

Kira-kira sekitar 2.000 spesies serangga adalah bagian dari makanan manusia. Lalu masih ada juga perubahan iklim yang berpengaruh pada serangga.

Masalahnya, penurunan populasi kupu-kupu, kumbang, lebah, jangkrik, serta serangga lainnya memiliki konsekuensi yang jauh melampaui dari kematian mereka sendiri.

“Banyak spesies serangga memiliki peran penting yang tak tergantikan, termasuk penyerbukan serta pengendalian hama,” kata Cardoso, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (12/2/2020).

Berdasarkan panel ilmu keanekaragaman hayati PBB atau dikenal sebagai IPBES, tak sedikit nilai ekonomi yang akan terkena dampaknya.

Secara global, tanaman yang membutuhkan penyerbukan serangga memiliki nilai ekonomi setidaknya US$235-577 miliar per tahun. Banyak hewan lain pula yang bergantung pada serangga untuk bertahan hidup.

Di antaranya seperti penurunan tajam populasi burung di seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Diketahui penyebabnya dikaitkan dengan berkurangnya populasi serangga akibat penggunaan pestisida.

“Jumlah spesies serangga yang terancam dan punah sangat diremehkan karena begitu banyak yang langka atau tidak terdeskripsikan,” papar Cardoso.

Para ilmuwan sendiri memperkirakan jumlah serangga di planet ini sekitar 5,5 juta.

Seperti yang tercantum dalam makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal Biology Conservation, Senin (10/2/2020), hanya seperlima dari populasi serangga itu yang telah diidentifikasi dan diberi nama.

Daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan The International Union for the Conservation of Nature (IUCN), hanya mengevaluasi sekitar 8.400 spesies serangga.