(Foto : Syaamil Quran)

Majalahayah.com, Jakarta – {Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar.} (QS. Al-Baqarah: 153)

Jika Rasulullah ditimpa sebuah ketakutan, maka dia akan segera melakukan shalat. Pernah ia berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, tentramkanlah [hati] kita dengan shalat ! Pada kali yang lain bersabda,”Ketenanganku ada pada shalat.”

Jika hati merasa menyesak, masalah yang dihadapi terasa rumit dan tipu muslihat sangat banyak, maka bersegeralah datang ketempat shalat, dan shalatlah.

Jika hari-hari menjadi gelap gulita, malam-malam mencekam, dan kawan-kawan berpaling, maka lakukanlan shalat.

Dalam urusan yang sangat penting Rasulullah selalu melapangkan hatinya dengan melakukan shalat. Misalnya, pada saat perang Badar,  Ahzab (Khandaq), dan kesempatan-kesempatan yang lain . Diwirayatkan dari al-Hafizh ibn Hajar penulis Fathul Bari, bahwa suatu hari dia pergi kesuatu benteng di Mesir. Ditengah jalan, dia dikepung oleh segerombolan pencuri. Seketika itu juga ia berdiri lakukan shalat. Dan, Allah pun memberikan jalan keluarnya.

Ibn ‘Asakir dan Ibn Qayyim al-Jauziyah bercerita bahwa seorang laki-laki salih pernah bertemu dengan seorang perampok di salah satu jalan di Syam. Perampok itu telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Laki-laki tersebut meminta waktu kepada si perampok untuk melakukan shalat dua rakaat. Maka, berdirilah ia dan mulai melakukan shalat. Di saat itu ia teringat firman Allah yang berbunyi: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan bila ia berdoa kepada-Nya.“ Dia membacanya tiga kali. Maka, turunlah malaikat dari langit membawa pedang, dan dengan pedang itu ia membunuh perampok tersebut. Malaikat itu berkata, “Aku adalah utusan Dzat yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan,”

Pada ayat-ayat yang lain Allah berfirman,

{Dan, perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam menjalankannya.} (QS.Thaha: 132)

{Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.} (QS. Al-‘Ankabut: 45)

{Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.} (QS. An-Nisa: 103)

Diantara hal-hal yang mampu menciptakan kelapangan di dalam dada dan menghilangkan keresahan dan kesuntukan adalah mengucapkan shalawat kepada Rasulullah.

{Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.} (QS. Al-Ahzab: 56)

Sebuah riwayat Sahih dari at-Tirmidzi menyebutkan bahwa Ubay ibn Ka’ab pernah bertanya, “ Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?”

Rasulullah menjawab, ”Sesukamu!”

Ka’ab bertanya lagi, ”Apakah seperempat?”

Rasulullah menjawab, ”Sekehendakmu, dan jika engkau tambahkan maka itu lebih baik.”

Ubay bertanya lagi,: “Dua pertiga?”

Rasulullah menjawab, ”Terserah engkaulah. Dan jika engkau tembahka,  maka itu lebih baik.”

Ubay bertanya, ”Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?” Rasulullah menjawab, “Karena itu dosamu akan diampuni dan kesedeihanmu akan dihilangkan.”

Ada dua dalil yang menguatkan bahwa rasa sedih dan duka itu bisa hilang hanya dengan mengucapkan shalawat dan salah kepada Rasulullah.

Yang pertama: “Barang siapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan membalas dengan sepuluh shalawat baginya.”

Yang kedua: “Perbanyaklah membaca shalawat padaku pada malam jumat dan hari jumat, sebab shawalat kalian akan diperlihatkan kepadaku.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana shalawat itu akan diperlihatkan kepadamu sementara engkau telah menjadi tulang benulang?“ Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya allah mengharamkan  [cacing-cacing bumi untuk memakan makam jasad para nabi.“ Orang-orang yang mencontohnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, akan memiliki bagian dari ketenangan jiwa, ketinggian nilai, dan kehormatan dirinya.

Seorang Penyair mengatakan,

Saat mencintaimu, kami akan lupa semua yang berharga,

Kau bagi kami adalah yang paling berharga

Kami dicela karena mencintaimu,

Dan cukuplah kemuliaan saat kami dicela karena mencintaimu.

 

Sumber : La Tahzan “Jangan Bersedih!” Karya Fenomenal DR. ‘Aidh al-Qarni salah satu buku terkenal di Timur Tengah.