Majalahayah.com, Jakarta – Setiap wilayah di bumi Indonesia selalu mempunyai sejarah yang unik untuk diulik. Hal yang biasanya dinilai masyarakat bukan sesuatu prihal penting terkadang membuat rasa penasaran masyarakat terutama masyarakat betawi. Bir peletok misalnya, nama yang unik sering kali membuat masyarakat bertanya-tanya.

“Karna dalam pembuatannya menggunakan bahan yang bisa membuat hangat, bisa bikin badan seger jdi kaya kaget gitu pletokkkk!! Kalo birnya diambil karna warnanya mirip bir,” cakap Muhammad yang lahir di kebudayaan betawi pada majalahayah.com (08/09/2017).

Asal-usul diberi nama bir peletok masyarakat tidak mengetahui secara pasti dikarenakan belum ada literasi yang mengesahkan bahwa itu adalah dasar diberi nama bir peletok. Hal tersebut menjadikan banyak variasi cerita dari perbincangan masyarakat betawi.

“Menjadikan banyak versi, pertama peletok itu dimasak dan dicampurnya dalam lumbung bambu berisikan rempah-rempah yang menimbulkan bunyi peletok-peletok. Kedua tetap ditaro dalam botol dan ditutupi dengan gabus menyerupai tutup botol wine sehingga apabila dikocok-kocok akan meletus seperti minuman wine,” ujar Ibu Ita penerus produksi Home Industri bir peletok di Setu Babakan secara langsung pada majalahayah.com (04/09/2017).

Bahan-bahan herbal untuk pembuatan minuman bir peletok seperti jahe, cengkeh, kapulaga, kayu manis, serai, kayu secang dan biji pala menjadikan apabila dikocok-kocok menghasilkan busa serta air rempah-rempah tersebut berwarna merah menyerupai minuman wine.

Minuman wine dikenal sebagai minuman yang memabukan ala orang Belanda karena adanya kandungan alkohol. Wine ala Belanda menjadi contoh yang ditiru oleh masyarakat betawi dengan menggunakan bahan-bahan herbal sehingga sudah jelas legalitas serta kehalalannya.

“Mereka melihat kalau orang Belanda saat mengadai pesta itu dituangi wine diatas meja makin banyak wine yang dituang maka pestanya semakin heboh. Orang Betawi itu bicara wine kan susah lidahnya karena Bahasa Ingiris, karena disini mengetahuinya bir oleh sebab itu sebutan orang Betawi itu bir. Rata-rata orang Betawi itu kan muslim jadi berpendapat kita juga bisa bikin yang seperti wine berwarna merah dan berbusa tapi tidak memabukan serta halal lalu dibuatlah bir peletok,” tambahnya.

Ibu ita yang mempunyai tiga karyawan dan dibantu oleh suaminya dalam memproduksi setiap harinya 600 botol bir peletok menambahkan bahwa “bir peletok ini sebagai studi banding antara buatan orang Belanda dengan buatan orang Betawi lokal,” pungkasnya.