Ilustrasi korban virus corona covid-19. (Foto: Reuters)

Majalahayah.com, Jakarta – Indonesia menjadi salah satu negara positif virus corona (Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di Tanah Air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat.

Hal ini diumumkan langsung Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2020).

Setelah itu ada beberapa himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk meminimalisir penyebaran virus ini. Hingga sekarang, Jum’at (3/4/2020) sudah ribuan orang yang terjangkit virus, dan ratusan dari mereka telah meninggal.

Namum ternyata Indonesia telah mengalami banyak kejadi virus atau wabah mematikan. Bukan hanya saat masa kemerdekaan, tapi banyak juga yang terjadi saat masa-masa kerajaan.

Karena itu Majalahayah, merangkum beberapa kejadian wabah penyakit yang terjadi pada masa itu :

1) Wabah di Jawa Abad 17

Pada abad ke-17, wabah penyakit menular juga melanda Jawa yang mengakibatkan kematian penduduk Jawa dalam jumlah yang banyak.

Dikutip dari historia, menurut H.J. de Graaf, pakar Jawa kuno, dalam bukunya yang berjudul Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, menuliskan setelah Surabaya menyerah, militer Susuhunan (Sultan Agung) mengalami pelemahan. Penyebabnya selain karena perluasan keraton dan kelelahan karena kerja keras selama tahun-tahun juga karena penyakit menular.

Hal itu dibuktikan oleh laporan ke Negeri Belanda tanggal 27 Oktober 1625, bahwa rakyat mengalami cobaan berupa kematian, peperangan, kelesuan, bahan makanan yang mahal, dan pajak yang berat di seluruh tanah Jawa.

Dilaporkan juga, waktu itu ada penyakit menular yang mengakibatkan sepertiga penduduk di Banten meninggal dalam 5 bulan. Kemudian di Batavia ada beberapa anggota Kristen meninggal dunia karena penyakit ini. Berikutnya di Cirebon dalam musim kemarau lebih dari 2.000 orang meninggal dunia.

Tak ketinggalan di Kendal, Tegal, Jepara Jawa Tengah dan semua tempat pantai sampai Surabaya, demikian pula di beberapa daerah pedalaman, orang yang meninggal dunia bahkan tidak dapat dihitung lagi

2) Flu Spanyol

Seabad lalu, wabah yang menewaskan ribuan orang pernah terjadi. Wabah pes atau yang dalam penamaan orang Jawa pedesaan disebut pageblug jrong pernah terjadi di kisaran tahun 1920-an atau seabad lalu. Saat itu penyakit pes yang disebarkan oleh tikus mewabah di Jawa, termasuk kawasan Solo dan sekitarnya.

Dalam catatan sejarah, dr Cipto Mangunkusumo dengan gagah berani terjun sendirian menangani wabah pes di Malang, Jatim. Berhasil menangani wabah tersebut di Malang, Cipto ingin melakukan hal serupa di Solo yang juga terkena jrong di waktu yang lebih belakangan. Namun keinginan tersebut Cipto dihadang oleh Belanda.

Jauh sebelum pes menyerang Jawa, penyakit ini jadi ancaman di Eropa. Orang-orang menyebutnya dengan The Black Death. Nama yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra mortem ini muncul dari gejala yang dialami penderita. Kulit mereka menghitam, biasanya di bagian jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung. Kehitaman itu muncul akibat adanya jaringan yang mati.

Dilansir dari laman Historia.id, ketika mewabah pada abad ke-14, Black Death membunuh 50 juta orang. Dengan kata lain, mengurangi 60 persen populasi Eropa.

Pes disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang terdapat dalam kutu tikus, khususnya tikus hitam yang suka tinggal di dekat manusia. Sebagian kalangan berpendapat bahwa pes di Eropa terbawa masuk lewat perdagangan di jalur sutra. Pendapat ini dibantah sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow dalam bukunya The Black Death, 1346-1353. Menurutnya, pes tidak masuk lewat Tiongkok namun muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia (kini masuk wilayah Ukraina), pada musim semi 1346.

Masih di sekitar tahun 1920-an, atau lebih tepatnya tahun 1918, Flu Spanyol mengguncang dunia. Tidak ada negara yang luput dari serangannya. Pandemi influenza itu membunuh jutaan orang. Flu Spanyol telah menewaskan lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia, termasuk 670 ribu orang di Amerika Serikat.

Dahsyatnya serangan wabah ini membuat virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai “The Mother of All Pandemics.”

Beberapa kasus yang pertama kali terdeteksi adalah tentara di Camp Funston di Fort Riley, Kansas. Pada Oktober 1918, flu itu sudah membunuh sekitar 195 ribu orang Amerika. Bahkan pandemi ini menurunkan harapan hidup rata-rata di AS lebih dari 12 tahun.