Menteri Pertahanan Arab Saudi, Mohammed bin Salman saat Deklarasikan Aliansi Militer Negara Islam. Sumber: saudigazette.com.sa

Majalahayah.com, Arab Saudi – Negara-negara dengan mayoritas muslim di dunia, mendeklarasikan sebuah aliansi militer Islam yang terdiri dari 34 negara. Aliansi ini nantinya akan dipimpin oleh Arab Saudi dan bermarkas pusat di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

Anggota aliansi itu tersebar di wilayah Teluk, Asia, serta Afrika. Aliansi ke-34 negara tersebut terdiri atas Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab, Pakistan, Bahrain, Bangladesh, Benin, Turki, Chad, Togo, Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestina, Republik Federal Islam Comoro, Qatar, Cote d’Ivoire, Kuwait, Lebanon, Libya, Maladewa, Mali, Malaysia, Mesir, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Yaman.

Pangeran Saudi yang juga Menteri Pertahanan, Mohammed bin Salman menyampaikan pembentukan aliansi baru tersebut kepada wartawan pada Selasa, 13 Desember 2016 di Riyadh, demikian Reuters. “Akan ada koordinasi internasional dengan negara-negara besar dan organisasi internasional dalam hal operas di Suriah dan Irak. kita tidak dapat melakukan operasi ini tanpa koordinasi dengan legitimasi di tempat ini dan masyarakat internasional, ” tutur pangeran berusia 30 tahun itu.

Dalam daftar negara anggota aliansi itu, memang tidak ada nama Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia. Mereka hanya menyebut Indonesia sebagai “pendukung” aliansi itu dari jauh. Selain itu, penentang regional utama Arab Saudi yakni Iran, juga tidak termasuk dalam daftar. Irak dan Suriah pun tidak ada dalam aliansi.

Kantor berita SPA melaporkan tujuan pembentukan yakni “kewajiban untuk melindungi negara Islam dari kejahatan semua kelompok teroris serta sekte apapun yang mendatangkan kerusakan di muka bumi atau bertujuan meneror orang yang tidak bersalah”. Namun mereka tidak menyebut secara spesifik terkait dominasi kelompok militan radikal ISIS di wilayah mereka. Ketika ditanya apakah koalisi akan fokus pada ISIS, Mohammed menjawab  “organisasi teroris apapun yang muncul di depan kita”.

Baru-baru ini Saudi juga sudah mengumpulkan oposisi Suriah di Riyadh, serta menjalankan operasi militer di Yaman. Sebelumnya, Saudi memang mendapat tekanan selama berbulan-bulan dari negara-negara Teluk untuk berbuat lebih banyak dalam mengatasi militan radikal di Timur Tengah.