Majalahayah.com, Gaza – Jelang Ramadhan ini, koneksi antara Indonesia dan Palestina sedang terhubung erat. Sebabnya satu, ikhtiar masyarakat Indonesia untuk mengirimkan Kapal Kemanusiaan Palestina (KKP) akhirnya terwujud. Dua ribu ton beras yang diangkut oleh KKP sudah masuk seluruhnya di Gaza dan mulai didistribusikan ke seluruh wilayah tersebut.

Dua ribu ton beras Indonesia yang masuk ditampung sementara di gudang sebelah Selatan Gaza. Proses distribusi ribuan ton beras dilakukan hingga mendekati  Ramadan, seperti yang disampaikan oleh Direktur Global Humanity Response ACT Bambang Triyono.
“Sebelum Ramadan tiba, akan ada seremonial serah terima beras dari Indonesia (ACT) kepada perwakilan warga Gaza atau Pemerintahan Palestina, dalam hal ini Kementerian Sosial Palestina, Insya Allah,” papar Bambang.
Lebih lanjut, untuk target distribusi, bantuan beras dari Indonesia diprioritaskan kepada puluhan ribu keluarga menengah ke bawah di seantero Gaza. “Kalau ditotal seluruhnya, 2.000 ton beras dari Indonesia sudah dibungkus ke dalam 80.000 karung ukuran 25 kilogram. Artinya, insya Allah, bisa menjangkau lebih dari 80.000 keluarga di Gaza,” kata Bambang.
Mohammed Najjar, salah satu perwakilan ACT di Gaza mengatakan, persiapan proses distribusi sedang dirampungkan, terutama untuk pendataan tiap-tiap keluarga yang menjadi target distribusi.
“Semua pelaksanaan distribusi beras dari Indonesia ini melibatkan 2 lembaga kemanusiaan (NGO) lokal Gaza, ditambah dengan ratusan relawan ACT yang bermukim di wilayah Gaza,” ujar Mohammed.
Ahyudin selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam acara ngobrol kemanusiaan  bareng media di Kemang Jakarta Selatan hari ini mengatakan banyak yang meragukan Indonesia, melalui ACT, bisa mengirim beras untuk masyarakat Palestina di Gaza.
“Namun, alhamdulillah Allah SWT berikan kemudahan. Beras bantuan dari Indonesia, dengan tulisan tercetak jelas di tiap-tiap karung ‘made in Indonesia’, turun dari Kapal Kemanusiaan Palestina, lalu dibawa masuk ke Gaza melalui jalur darat menggunakan puluhan truk,” ujarnya.
Sejak diberangkatkan dari Indonesia 21 Februari 2018 lalu, perjalanan bantuan beras dengan tajuk Kapal Kemanusiaan  Palestina secara bertahap telah melewati berbagai fase perjalanan.
Perjalanan Kapal Kemanusiaan Palestina “terpaksa” harus berlabuh di Pelabuhan Ashdod di Israel, untuk membongkar muatan. Karena, hanya Ashdod satu-satunya gerbang laut membawa masuk bantuan sampai ke Gaza, Palestina.
“Dari Ashdod, setiap harinya sejak Senin (26/4) lalu, berlangsung proses transportasi masuk ke dalam Gaza. Konvoi truk mengangkut beras dari keluar dari Ashdod, ratusan kilometer mengarah ke selatan. Kemudian masuk ke Gaza melewati gerbang Kerem Shalom. Sepanjang perjalanan, bendera Indonesia dan Bendera Palestina berkibar menghiasi badan tiap truk. Indah sekali,” kisah Bambang.
Hadirnya bantuan beras dari Indonesia sampai ke Gaza pun mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman. Disambangi di ruang kerjanya, Senin (2/4), Mentan Amran mengucap rasa syukurnya.
“Saya bersyukur pengiriman dapat berjalan lancar, sejak dari pelabuhan Indonesia sampai diterima di Gaza. Semoga bantuan ini akan sedikit meringankan penderitaan mereka. Semoga dengan cara yang baik pula akan memberikan energi positif bagi pertanian Indonesia dan kebaikan masyarakat kita secara lebih luas lagi,” kata Amran.
Apresiasi serupa datang dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Ketika melawat ke Kantor Kemenlu, Kamis (5/4), Menlu mengatakan, apa yang sudah dimulai oleh ACT di Gaza akan dilanjutkan dengan kepedulian Indonesia yang lebih besar lagi terhadap masalah kemanusiaan lainnya.
“Kami mengapresiasi sekali langkah-langkah dan bantuan-bantuan yang sudah disampaikan oleh ACT ke dalam negeri serta berbagai penjuru dunia. Harapannya ke depan kita akan lebih memperkuat sinergi antara pemerintah dengan kegiatan-kegiatan ACT. Sehingga, sekali lagi kepedulian Indonesia terhadap masalah-masalah kemanusiaan akan lebih besar lagi dan bermanfaat bagi yang membutuhkan,” ujar Menlu Retno.
Ribuan ton beras dari Indonesia menyambung kembali rangkaian kepedulian untuk rakyat Palestina. Sementara, hingga kini blokade dan komplikasi krisis kemanusiaan di Palestina masih berlanjut, ACT beserta segenap masyarakat Indonesia tak henti memberi dukungan berupa bantuan kemanusiaan.
Bambang mengatakan, aksi The Great Return/Al Awdah March yang berlangsung sejak akhir Maret lalu di perbatasan Gaza-Israel, telah menyebabkan ribuan korban luka dan puluhan jiwa wafat dari sipil Palestina. Sepanjang hari, hingga puncaknya di hari Nakba, 15 Mei esok aksi tak bakal padam. Semua demi memperjuangkan tanah air mereka yang terenggut dan terjajah puluhan tahun.
“Mereka tidak bersenjata, bahkan mungkin dalam keadaan lapar. Kami, ACT dengan dukungan masyarakat Indonesia, berikhtiar untuk membantu menyediakan makanan siap santap untuk warga Gaza yang tengah memperjuangkan hak mereka. Insya Allah, kami segera membuka kembali Dapur Umum di Gaza. Ini menjadi ikhtiar kita bersama, untuk selalu berada di sisi masyarakat Palestina, mendukung perjuangannya, membantu meredam krisis kemanusiaan yang sedang dihadapi,” pungkas Bambang.