Keluarga (Dok : Twitter)

Majalahayah.com, Jakarta – Kebahagiaan rumah tangga sangat ditentukan oleh seberapa jauh suami istri saling memberikan perhatian. Kurangnya perhatian dari salah satu pihak bisa berakibat fatal.

Andai kita menganalisis munculnya kasus perselingkuhan, pemicunya banyak disebabkan karena tidak adanya komunikasi efektif antara suami istri, egoisme yang diperturutkan, dan dominasi dari satu pihak terhadap pihak lain.

Kenyataan ini diperkuat dengan penemuan Debbie Layton-Tholl tentang penyebab perselingkuhan dan perceraian. Dari sepuluh faktor yang dikemukakan hampir 80 persen disebabkan faktor non-materi, atau gagalnya suami istri membangun rasa saling percaya, tidak saling menghargai, yang berakhir pada memudarnya rasa saling setia.

Manusia memiliki kebutuhan dalam kaitannya dengan orang lain seperti diungkapkan Abraham Maslow dalam teori Tingkatan Kebutuhan. Salah satunya adalah kebutuhan untuk dihargai, diperhatikan, dan didengarkan.

Karena itu, sebuah keluarga akan mengalami banyak masalah bila suami atau istri terlalu egois untuk memberikan perhatian pada pasangannya. Jelas, lingkup perhatian di sini bukan hanya dari segi materi dan kebutuhan hidup sehari-hari, di dalamnya tercakup pula perhatian secara kejiwaan baik berupa ungkapan kasih sayang, pujian yang tulus, ataupun saling membantu menyelesaikan suatu pekerjaan.

Rasulullah adalah sosok suami teladan. Walau kesibukannya segudang beliau masih bisa menyempatkan diri bergaul dengan istri-istrinya. Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa Rasulullah pernah mendengarkan cerita Aisyah tentang sebelas wanita yang menceritakan sifat suaminya masing-masing. Aisyah bercerita bahwa ada wanita yang mencela dan ada pula yang memuji suaminya.

Sementara Rasulullah terus mendengarkan cerita Aisyah itu sampai ia memuji Ummu Zar’in yang menceritakan suami dan keluarganya. Hingga akhirnya Abu Zar’in bertemu dengan wanita lain lalu menceraikannya. Setelah mendengar cerita tersebut, Rasulullah berkata pada Aisyah, “Sikapku kepadamu seperti sikap Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in, kecuali aku tidak menceraikannya”.

Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa makna pakaian (libas) dalam ayat; “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”, sebagai sesuatu yang menutupi, menjaga, dan mempercantik. Pakaian adalah sesuatu yang melekat dan menempel pada tubuh. Maka suami istri pasti dan niscaya saling membutuhkan satu sama lain.”

Jadi saling memberikan perhatian yang lebih harus menjadi keniscayaan dalam sebuah rumah tangga. Tanpa semua ini kasih sayang yang menjadi sendi dalam rumah tangga (QS. Ar-Rum: 21) tidak akan pernah terwujud.