Ilustrasi anak gemar makan sayur dan buah. Sumber www.pengobatandemamtinggi.com

Majalahayah.com, Belakangan terdengar kabar soal keracunan salad. Korban mengalami pusing, mual, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Lantas, apa yang memicu keracunan salad?

Menjawab pertanyaan itu, ahli gizi Dr dr Tan Shot Yen, M. Hum mengatakan bahwa yang salah bukan sayurnya, tapi kebersihan dalam menyajikan makanan.

“Itu sih karena jorok. PHBS atau pola hidup bersih dan sehat tidak dijalankan, makanya bakteri E.coli, listeria, sampai salmonella masuk ke makanan sebagai parasit dan menginfeksi,” kata Tan dikutip dari Kompas, Rabu (3/4/2019).

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan, PHBS merupakan upaya untuk menularkan pengalaman mengenai pola hidup sehat melalui individu, kelompok ataupun masyarakat luas. Sebelum buah dan sayur dimasak, sebaiknya kita mencucinya dalam air yang mengalir.

“Jika air keran untuk mencuci sayuran pun terkontaminasi, kita bisa membilasnya dua kali dengan air matang,” imbuh dia.
Selain salad, makanan lain yang tercemar bakteri juga bisa menimbulkan keracunan. Misalnya, saat kita makan bakso ternyata sambalnya tidak bersih juga bisa menyebabkan keracunan.

Lalu, berapa lama salad disebut layak dikonsumsi?

Tan berkata, selama sayur disimpan tertutup dan dimasukkan ke dalam kulkas tidak ada masalah. Setidaknya sayuran bisa tahan tiga sampai empat hari.
“Tapi dengan catatan, racikan sayur tanpa dressing (dicampur saus). Prinsipnya kering,” sambung dia.

Tan pribadi mengaku lebih memilih sayuran kering tanpa dressing. Sebab, saus pelengkap dalam salad justru akan menambah gula, garam, dan lemak.

Apalagi jika dibiarkan selama berjam-jam, salad sayur yang sudah ditambah dressing akan lebih cepat melakukan pembusukan dan basi.

Makan makanan yang tidak bersih dan basi akan memicu risiko keracunan makanan. Untuk diketahui, makanan basi biasanya telah terkontaminasi oleh berbagai kuman yang bisa menyebabkan keracunan.

Gejala keracunan makanan diantaranya mual, muntah, diare, nyeri perut, lemas, dan demam.

Dibanding salad, dia pun lebih memilih lalapan khas Indonesia karena lebih sehat. “Makan sayur sehat harus dilihat siapa temannya. Lalap sayur pakai sambal plus pepes ikan itu lebih sehat dan seimbang,” ujarnya.

Selain menyimpan sayuran di kulkas dalam bentuk kering tanpa dressing, Tan juga mengimbau untuk memperhatikan penampilan sayuran sebelum dimakan.
“Makan sayur sehat itu bisa dilihat dari penampilannya. Makan sehat itu semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam,” ungkapnya.

Jadi, sayur atau buah dalam bentuk apa adanya jauh lebih sehat dibanding sayur atau buah yang dijus atau dibuat smoothies.

“Karena makan adalah proses. Enggak bisa dicepetin (dengan jus atau smoothies). Makanya, manusia modern itu aneh-aneh,” tutupnya.