Foto ilustrasi momen pernikahan. Sumber www.nu.or.id

Majalahayah.com, Jakarta – Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga salah satu pasalnya berisi tentang pasangan suami-istri yang terikat dalam sebuah perkawinan sah harus saling mencintai.

Berdasarkan draf yang diterima Majalahayah, Kamis (20/2/2020), sebagaimana termuat dalam Pasal 24 Ayat (1) mengatur agar suami-istri menegakkan rumah tangga dan membina harmonisasi keluarga.

“Dalam penyelenggaraan Ketahanan Keluarga, setiap suami-istri yang terikat dalam perkawinan yang sah memiliki kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga dan membina harmonisasi keluarga,” jelas Pasal 24 Ayat (1) tersebut.

Kemudian dalam Pasal 24 Ayat (2) RUU Ketahanan Keluarga menjelaskan bahwa sebuah pasangan suami-istri harus saling mencintai.

“Setiap suami-istri yang terikat dalam perkawinan yang sah wajib saling mencintai, menghormati, menjaga kehormatan, setia, serta memberi bantuan lahir dan batin yang satu kepada yang lain,” tulisnya.

Sedangkan di Pasal 24 Ayat (3) RUU Ketahanan Keluarga tertuang kedudukan suami dan istri di dalam sebuah perkawinan.

“Setiap suami istri yang terikat dalam perkawinan yang sah memiliki kedudukan dan hak yang seimbang dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat sesuai dengan norma agama, etika sosial, dan peraturan perundang-undangan,” papar Pasal 24 Ayat (3) ini.

Sementara itu salah satu pengusul RUU Ketahanan Keluarga, Sodik Mudjahid, menjelaskan bahwa saat ini rancangan tersebut sedang dibahas di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI. Ia mengatakan, undang-undang tersebut diharapkan nantinya dapat menguatkan mutu keluarga menjadi berkualitas.

“Semua etika moral perilaku dimulai dari keluarga. Kita harus menguatkan keluarga. Menguatkan mutu keluarga berkualitas, termasuk melindungi keluarga dari hal-hal semacam itu,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020.

Adapun RUU tersebut merupakan usulan DPR. Diusulkan oleh anggota DPR dari Fraksi PKS Netty Prasetiyani dan Ledia Hanifa; Endang Maria Astuti dari Fraksi Partai Golkar, Sodik Mudjahid dari Fraksi Partai Gerindra; serta Ali Taher dari Fraksi PAN.