Rupiah Melemah, Mantan Deputi BI Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Lemah

Rupiah Melemah, Mantan Deputi BI Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Lemah

34
SHARE
Uang Baru yang Diluncurkan Bank Indonesia Hari Ini (19/12/2016), sumber: istimewa

Majalahayah.com, Jakarta – Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Prof Anwar Nasution mengatakan, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar karena fundamental ekonomi Indonesia yang lemah. Bukan karena faktor global atas menguatnya mata uang Paman Sam.

“Fundamental ekonomi Indonesia itu lemah sekali, omong kosong itu kalau pemerintah bilang ekonomi Indonesia kuat,” jelas dia dalam sebuah diskusi di Gado-Gado Boplo Menteng, Jakarta, Sabtu (08/09/2018).

Dikutip dari Republika, Anwar menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan anjloknya nilai tukar rupiah. Pertama, yaitu dilihat dari rasio pajak Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) rendah sekali, hanya 10 persen. Berbeda dengan negara berkembang lain yang mencapai 20 persen.

Baca juga :   11 Sekolah Rusak Imbas Banjir Garut, BNPB Manfaatkan Gedung

Selain itu menurut dia, anjloknya nilai tukar rupiah juga disebabkan karena pemerintah terlalu banyak mengimpor produk ketimbang ekspor. “Jadi apa yang merdekanya negara kita? Ngutang mulu, sehingga sangat rawan terhadap gejolak seperti yang sekarang ini. Semua impor, kedelai saja impor. Itu yang jadi persoalan, maka sangat rawan,” ucap Anwar.

Kemudia, lanjutnya, lembaga keuangan di Indonesia juga masih sangat lemah. Hal itu bisa dilihat dari eksistensi bank-bank milik BUMN yang cenderung kalah oleh eksistensi bank-bank luar seperti Maybank dan lain-lain.

Baca juga :   Kasus Victor Dihentikan, Mabes Polri: Tidak Benar

“Empat bank negara semuanya itu ‘kampungan’, enggak bisa lawan Maybank,” kata dia.

Terlebih, menurutnya, selama ini tabungan pos juga sudah tidak jalan sehingga tidak ada lagi bank-bank yang mengembangkan potensi rakyat. Masalah lain yang juga berpengaruh yaitu setiap tahunnya jamaah umrah dan haji dari Indonesia selalu terbanyak namun tidak dimanfaatkan untuk mengokohkan ekonomi Indonesia di Makkah dan Madinah.

“Jamaah haji umrah kita terbanyak, tapi apakah di sana ada restoran Padang misalnya? Enggak ada. Ya paling warung-warung kecil. Ini yang salah, ini yang tidak dimanfaatkan dengan betul,” pungkasnya.