Resah Istri Bekerja Kantoran? Ini Saran AILA 

Resah Istri Bekerja Kantoran? Ini Saran AILA 

234
0
SHARE

Majalahayah.com, Depok – Setelah menikah, pertimbangan perempuan (istri) bekerja atau tidak selalu menjadi perbincangan setiap keluarga kecil diwaktu santai. Setiap keputusan, seorang istri hukumnya wajib menaati apa yang menjadi pertimbangan sang pemimpin keluarga atau suami.

Disampaikan oleh Dr. Dinar Dewi Kania selaku Ketua Bidang Kajian Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) bahwa setiap keluarga tidak bisa digeneralisasi, hal tersebut ia katakan masing-masing keluarga dapat memutuskan sebab ada faktor eksternal dan internal.

“Jadi gini, kita sebagai perempuan bisa mempertimbangkan jika ingin bekerja apakah tugas domestiknya dirumahnya sudah tuntas atau belum. Karena ada juga ibu yang dirumahnya tetapi belum tuntas menyelesaikan tugas domestiknya, dan sebaliknya, ibu yang bekerja dapat secara tuntas menyelesaikan tugas domestiknya seperti anaknya di pesantrenkan sehingga dapat berhasil” ujar ya kepada majalahayah.com saat ditemui di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, Depok, Jawa Barat.

Namun, jika secara adil dalam membandingkan ibu yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Dinar sampaikan secara jelas lebih hebat ibu yang tidak bekerja namun dengan catatan ia harus concern terhadap pola asuh pembentukan karakter anak.

“Kalau perempuan punya anak sambil bekerja , bagaimana dia mau concern, karena ia mempunyai tanggung jawab lain yang harus diselesaikan. Akhirnya mereka harus peran ganda. Oleh karena itu bagi perempuan bekerja mempunyai anak harus tetap komit terhadap pola asuh anak,” tuturnya.

Selanjutnya, jika perempuan (istri) ingin bekerja, Dinar mengimbau agar dipahami terlebih dahulu wajib atau tidak untuk bekerja.

“Artinya ada atau tidak kebutuhan-kebutuhan yang masih kurang untuk dipenuhi. Bersifat wajib atau diperbolehkan itu kalau ingin menambahi kebutuhan keluarga yang bersifat primer bukan karena ingin membeli barang-barang bermerk atau liburan luar negeri,” jelasnya.

Selanjutnya pertimbangan lainnya, Dinar sarankan baiknya seorang istri yang ingin bekerja agar menghindari pekerjaan yang bersifat larut (pekerjaan kantor).

“Sebenernya perempuan bekerja di bidang profesional (kantor) saya tidak menyarankan. Bagi saya itu tidak sebagai fitrah sebagai perempuan. Jadi saya setuju jika perempuan bekerja yang fleksibel waktunya, seperti dosen, guru (mengajar), dokter, ataupun pekerjaan yang dapat memperbaiki dan bermanfaat bagi umat,” imbuhnya.

Menjelaskan bahwa perempuan bekerja kantoran dari pagi sampai malam lebih banyak problemnya di rumah tangga, Dinar jelaskan bahwa anak tidak dapat terlepas dari ibunya.

“Peran ibu itu sangat penting karena anak lebih cenderung terhadap ibu. Pola pikir anak itu wajib diisi oleh orangtua, bukan hanya secara fisik. Kalau fisik itu bisa melalui pembantu, namun kalau pola pikir tidak. Bagaimana membentuk anak berkarakter, percaya diri yang tinggi dsb itu peran orang tua,” tukasnya

LEAVE A REPLY