Foto : Ilustrasi Bangunan Kokoh persatuan umat. Sumber www.twitter.com

Majalahayah.com, Jakarta –  Sejenak kilas balik pada moment mulia yang melekat di benak hampir semua umat muslim, yaitu pada aksi 212, Jum’at barokah 2 Desember 2016 lalu di Jakarta. Keteduhan dan kedamaian yang dirasakan sampai mengakar di otak bawah sadar betapa indahnya persatuan, betapa menakjubkan keteraturan jutaan umat tanpa kegaduhan perbedaan. Saat yang yang langka dan dirindukan oleh iman segenap umat Islam di Indonesia.

Patut jadi renungan umat sebagaimana yang disampaikan oleh Salah satu ulama yang mengisi tausyiah pada aksi 212 tersebut, KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) kepada sekitar 7 juta umat Islam.  Poin Tausyiah seperti berikut.

Jangan sampai berkumpulnya semua disini seakan kita menjadi lebih kuat sehingga membuat kita lupa bahwa Allah lah satu-satunya penolong kita. Jumlah tidak boleh membuat kita ujub atau takabbur karena ihktiar hanyalah ibadah. Karena sebaik-baik penolong kita adalah Allah SWT.

Hal yang terpenting dari kasus ini adalah kita bisa berubah jadi lebih baik atau tidak. Kita sering sibuk membahas kata-kata yang kurang baik tapi kalau saat yang sama mulut kita sama-sama tidak baiknya maka rugi. Harusnya dengan adanya kejadian ini yang paling harus berubah adalah kita sebagai umat Islam harus jadi lebih baik.

Sebanyak apapun jumlahnya jika tidak bersatu dan solid seperti bangunan kokoh maka hanya akan menjadi buih dan serpihan-serpihan kelemahan saja. Untuk terbentuk bangunan kokoh tidaklah terjadi begitu saja dan butuh sebuah proses ataupun penempaan. Bangunan kokoh ada syaratnya, yaitu;

  1. Unsur dan bahan bangunannya beda-beda

Didalam bangunan di dalamnya terdiri berbagai unsur dan bahan dari pasir, semen, bata, besi atau lainnya. Dari unsur dan bahan tersebut adalah berbeda-beda baik dari bentuk, sifat maupun fungsi.

Jadi jangan sampai salah menyikapi beda karna perbedaan itu sunnatulloh. Lebih bijak menyikapi perbedaan, cari persamaan sebelum berbicara perbedaan. Beda wajar tapi marah jangan. Biasanya yang marah itu justru orang yang kurang ilmu. Lebih bijak menjaga persaudaran, baik saudara kandung, saudara sebangsa, saudara seakidah dan ada saudara seaki nini adam hawa. Kalau setiap beda menjadi musuh kapan bahagianya dan kapan damainya. Orang yang lebar rasa persaudaraannya inshaa Allah lebih jinak hatinya.

 

  1. Tidak semuanya menonjolkan diri

Dari sebuah bangunan yang berdiri kokoh, disitu kuat karena ada peran besi yang menopang dan tidak terlihat, begitu juga dalam diri tubuh kita, ada jantung yang punya peran penting tapi tidak terlihat dan tidak menonjolkan diri serta bagian organ penting lainnya yang senantiasa menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana posisinya.

Karena adil itu mau menempatkan diri pada tempatnya, meski berjasa tapi tidak menonjolkan diri. Masalahnya adalah jika semua pihak ingin menonjolkan diri itu yang bikin susah akur. Makin sibuk merasa paling menonjolkan diri, merasa paling berjasa, merasa paling benar, paling berjuang, dan itulah justru yang paling melemahkan perjuangan serta kebersamaan kita. Boleh menuntut tapi jangan lupa untuk mengaca diri. Tidak penting kita kelihatan, yang penting diterima oleh Allah, diridhoi oleh Allah.

 

  1. Tidak saling meremehkan satu sama lain

Dengan berbagai unsur penting dalam bangunan yang berbeda-beda itu, bahan apapun senantiasa fokus pada fungsi dan peran masing-masing.

Karena tidak ada kejadian ini kecuali dari kerja keras berbagai pihak dan semuanya mempunyai peran yang penting. Karena kebersamaan dan persatuan tidak bisa terbangun dengan meremehkan orang lain. Memahami bahwa masing-masing punya potensi dan kapasitas dalam memberikan kontribusinya sesuai keutamaannya.

 

  1. Harus ada komponen yang mempersatukan

Tahukah komponen apa dalam pembuatan bangunan yang mampu mempersatukan? diantara pasir, batu, semen, bata bisa menyatu menjadi bangunan yang solid dan kokoh karena ada komponen yang mempersatukan yaitu komponen air.

Karakter komponen air jika dalam karakter manusia yaitu kelembutan, karena kelembutan itu kekuatan. Tegas dan marah itu tidak jelas. Harusnya tegas dan santun yang bisa melahirkan keadilan, sedangkan marah dan kekerasan bisa melahirkan kedzoliman. Sebagaimana Firman Allah SWT,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Al-Imran 3 : 159)

 

Layak jadi sebuah ukuran terhadap pentingnya persatuan, persaudaraan dan terwujudnya kualitas jati diri umat Islam yang mampu berbaris teratur dan rapi sehingga membentuk bangunan yang kokoh, sebagaimana dalam Firman Allah SWT,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( QS. As-Shaff 61 : 4 )