Renungan Pendidikan Keluarga: Memastikan Potensi Fitrah Belajar Anak Terjaga

Renungan Pendidikan Keluarga: Memastikan Potensi Fitrah Belajar Anak Terjaga

57
SHARE
Ilustrasi peran menjaga fitrah belajar anak. Sumber www.teduh.or.id

Majalahayah.com – Para ayah inspiratif sekalian, ada hal yang perlu direnungi dalam membaca tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala atas karunia berupa anak. Uraian menarik dari Pakar Pendidikan Parenting, Harry Santosa dalam renungan pendidikan tentang bagaimana memastikan potensi fitrah belajarnya terjaga sebagaimana amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Simak berikut uraiannya:

Tiap bayi kita yang lahir adalah pembelajar tangguh sejati. Lihatlah tidak ada bayi yang memutuskan merangkak seumur hidupnya. Mereka menuntaskan belajar “jalan” nya dengan gigih sampai bisa berjalan bahkan berlari dan melompat. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

Tiap bayi kita yang lahir adalah penjelajah (discoverer) yang sangat serius dan kurius (curious). Lihatlah semua sudut di dalam rumah serta perabotan bahkan yang berbahaya pun tidak luput dari targetnya. Mereka suka meraba, menyentuh, memegang apapun yang bisa dijangkaunya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

Tiap bayi kita yang lahir sangat kreatif dan kaya imajinasi. Lihatlah bagaimana mereka mewarnai gambar langit dengan ungu, pohon-pohon dengan biru, rumput dengan jingga dan seterusnya.

Mereka berimajinasi keranjang pakaian sebagai perahu, gayung kamar mandi sebagai kapal selam, sapu sebagai pedang dan seterusnya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

Banyak orang menduga kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhan juga bisa beradaptasi. Ada yang menyangka kemampuan manusia yang utama adalah kompetisi padahal hewan dan jin pun berkompetisi.

Baca juga :   BNPB Kuatkan Kerjasama Penanggulangan Bencana dengan Negara ASEAN

Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasikan serta mewariskan pengetahuannya sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya. Seribu ekor kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka yang mampu menciptakan kail dan mewariskannya pada anak-anaknya.

Sejak langit dan bumi diciptakan, lalu ditempatkan Adam di atasnya, maka yang pertama Allah SWT berikan adalah mengajarkan Adam, nama-nama semua benda (taxonomy). Inillah potensi fitrah belajar yang Allah SWT berikan sebagai bekal penting dari makhluk yang ditakdirkan menjadi khalifah di muka bumi.

Karena itu sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki Potensi Fitrah Belajar. Para orangtua dan pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya.

Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtua yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatannya untuk semakin menjadi dirinya.

Tidak perlu tempat dan gedung belajar yang khusus, semua sudut di muka bumi adalah taman belajar yang indah. Di pasar, di kebun, di stasiun kereta, di sungai, di museum, di terminal, di atas pohon, di tukang sayur keliling, di perahu, di hutan, di sawah, di bengkel dan sebagainya.

Baca juga :   KPU Mulai Pantau Laporan Masyarakat Prihal Kampanye Terselubung

Alam dan budaya masyarakat Indonesia terlalu kaya untuk diabaikan dan dimubazirkan. Bangkitkan fitrah belajarnya yang sudah ada agar terjaga dan tumbuh subur melalui bumi Allah SWT yang luas.

Tidak perlu waktu belajar yang khusus, semua waktu dan peristiwa yang berseliweran setiap saat adalah momen belajar yang banyak hikmahnya. Bangkitkan fitrah belajarnya atas kesadaran hikmah peristiwa yang ada.

Tidak perlu guru “khusus” yang formal, semua makhluk bisa menjadi guru, semua praktisi kehidupan adalah guru, semua peristiwa dalam kehidupan adalah guru dan penasehat, bahkan peristiwa musibah dan kematian pun bisa menjadi guru.

Jika ada anak yang hanya belajar ketika akan ujian, ketika disuruh, ketika ada tugas, ketika diancam, ketika panik karena tertekan, maka fitrah belajarnya telah terkubur dalam dalam.

Jika ada anak yang belajarnya karena ingin juara, ingin hadiah, ingin nilai, ingin dipuji, ingin mendapat ranking, ingin mendapat sertifikat, ijasah dan gelar maka fitrah belajarnya telah tersimpangkan.

Mari percaya diri untuk mendidik sendiri anak-anak kita sendiri, agar kitalah yang memastikan potensi fitrah belajarnya terjaga, tumbuh sempurna, indah merekah. Karena kitalah yang diberi amanah menjaga fitrah anak-anak kita dan akan ditanya di akhirat kelak.