Ilustrasi ayah dan anak. Sumber www.digitaloffice.thailife.com

Majalahayah.com – Seorang tuan tanah sedang berjalan menyusuri pasar bersama anak lelakinya. Dia adalah orang terkaya di kampung itu. Ketika sang tuan tanah lewat di depan sebuah toko parfum, dia diam sejenak.

“Anakku, entah mengapa ayah merasa marah sekali memandangi toko ini. Padahal ayah tidak pernah masuk sekalipun ke toko ini. Sudahlah, mungkin hanya perasaan ayah saja!”

Si anak penasaran dengan ucapan ayahnya tersebut. Keesokan harinya, dia berbicara dengan pemilik toko. Tidak ada seorangpun pembeli di sana.

“Mengapa toko Bapak sepi sekali seperti ini?”

“Entahlah,” matanya menatap kosong sambil menghela napas, dia melanjutkan,

“Sudah satu bulan tidak ada orang membeli parfum. Aku sampai melamun, seandainya tuan tanah di kampung ini meninggal dunia, pasti parfumku diborong oleh keluarganya, karena kebiasaan orang-orang kaya adalah memberi hadiah parfum saat belasungkawa.”

Ucapan itu membuatnya terkejut. Anak lelaki itu berusaha menyembunyikan perasaannya. Dia berpikir keras mendengar hal itu.

Kemudian dia membeli sebotol parfum yang paling mahal di toko itu. Saat tiba di rumah, parfum itu diberikan kepada ayahnya,

“Tadi aku lewat di depan toko parfum yang ayah ceritakan kemarin. Entah mengapa, pemilik toko itu memanggilku dan menitipkan hadiah ini untuk Ayah.”

“Harum sekali parfum ini, pasti dia orang baik. Mengapa ayah justru marah tanpa alasan kepadanya. Tolong engkau sampaikan padanya salam dari ayah dan bawalah uang ini sebagai hadiah untuknya.”

Rupanya sang tuan tanah merasa bersalah sehingga dia menitipkan sejumlah uang yang banyak sekali. Tentu saja anak lelakinya itu segera berlari. Tak sabar rasanya untuk menyampaikan berita gembira itu.

“Uang ini cukup untuk menutup kerugianku selama satu bulan!” Si pemilik toko terkejut bahagia,

“Rupanya tuan tanah itu seorang dermawan. Aku menyesal, mengapa justru aku mengharapkan dia meninggal dunia demi keuntungan pribadiku. Aku doakan semoga dia panjang umur dan selalu bahagia.”

Baca juga : Kisah Kepercayaan VS 1000 Dinar

Demikianlah, sebuah kisah yang diadaptasi dari cerita rakyat di India. Kisah yang menunjukkan bahwa apa yang dirasakan orang lain kepada kita tidak lain adalah cerminan apa yang kita rasakan kepada mereka, karena manusia hakikatnya adalah satu, sama, dan terhubung.

Saat kita memperbaiki prasangka kita kepada sesama manusia, maka prasangka baik itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Begitu pula seperti disebutkan dalam hadist Rasulullah, saat mendoakan saudara-saudara kita, maka doa itu akan kembali kepada diri kita sendiri.

Baca juga : Renungan Kisah Inspiratif : Pertanyaan Ayah dan Anak tentang Burung Gagak