Rentan Bullying, Ini Cara Hadapi Menurut Abah Ihsan

Rentan Bullying, Ini Cara Hadapi Menurut Abah Ihsan

129
0
SHARE
bullying
Ilustrasi bullying. Sumber www.zlifing.com

Majalahayah.com – Masa keceriaan anak merupakan masa kestabilan emosi dan perkembangan mental bagi si kecil. Tentunya orang tua tidak ingin
pola interaksi sesama anak-anak saat bermain mendapatkan gangguan maupun tekanan berupa bullying.

Simak penjelasan singkat dari Abah Ihsan berikut tentang bagaimana jika anak kita menjadi korban perundungan/perisakan atau bahasa Inggrisnya bully.

Bagaimana kalau anak kita di bully? Bully/perisakan itu ada beberapa.

Pertama, perisakan verbal yaitu di caci, di maki, di ejek. Kedua, perisakan fisik di pukul, di cubit. Yang ketiga adalah yang paling berat yaitu perisakan di singkirkan, di isolasi, tidak di ajak, ini yang sangat berat untuk anak-anak dan sangat berbahaya bagi kejiwaan. 

Kalau perisakan fisik satu sampai dua hari akan hilang rasa sakitnya, lebih menyakitkan perisakan verbal ini bisa tertanam dalam otak. Dan lebih menyakitkan lagi perisakan dikucilkan, itu yang paling berbahaya karena akan membuat anak-anak melamun, menyendiri, merasa depresi dan lain sebagainya.

Bagaimana jika anak kita terkena bullying?

Pastikan orang tua memiliki waktu yang berkualitas dengan anak sehingga apa yang terjadi pada mereka, mereka mau bercerita. Jika anak mau bercerita dengan kita maka anak akan lebih mengikuti nilai-nilai kita, masalahnya anak-anak nyaman tidak cerita sama kita?

Jadi buat anak kita nyaman, setelah nyaman bisa gali perasaannya, dan sebisa mungkin bantu anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Misalnya jika anak kita dirundung atau disakiti secara fisik, bantu anak-anak kita untuk melawan. Kita boleh mengatakan melawan tapi bukan untuk membalas.

Ada tahapannya untuk melawan dengan bicara dulu, misal jika iya dipukul Garuda bilang sakit atau juga dengan cara teriak supaya semua orang tertuju perhatiannya sehingga pelaku bullying malu dan berhenti.

Tahap kedua jika masih terus melakukan pukulan, boleh melakukan perlawanan fisik.

Jika lawan fisik tidak bisa, lalu lapor kepada orang-orang yang berwenang.

Lapor tidak bisa dan tidak ada orang di sekitar kalian boleh lari tapi ini adalah selemah-lemahnya iman.

Kalau kemudian diejek secara verbal, latih anak kita untuk melawan secara verbal, misal di ejek¬† “jelek jelek” boleh melawan dengan berkata “menurutku aku cantik” lalu jika dibales “ih kepedean” iya emang aku pede” ih jijik” emang jiji ” dengan cara menjawab “emang” terus saya mau tanya yang kesel yang di-bully atau yang nge-bully?

Biasanya kalau yang di bully-nya tidak ngaruh itu yang nge-bully-nya akan merasa gagal dan anak-anak kita bisa dilatih untuk bela diri secara verbal. Karena yang nge-bully seneng kalau yang di bully merasa sedih.

LEAVE A REPLY