Ramalah Abdul Muthalib dan Bukti Kenabian Muhammad Saat Bayi

Ramalah Abdul Muthalib dan Bukti Kenabian Muhammad Saat Bayi

32
SHARE
Nama Muhammad Shalallahu alaihi wa salam. Sumber www.dawahskills.com

Majalahayah.com – Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam memiliki perjalanan yang berliku untuk menyebarkan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan ia telah mendapat cobaan ketika masih di dalam kandungan. Rasulullah telah ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdullah saat umur kandungan Aminah (ibu Rasulullah – Red) baru dua bulan.

 
Beberapa tahun setelahnya, Aminah wafat di Abwa’ yakni daerah yang berada di antara Makkah dan Madinah. Saat itu umur Muhammad masih menginjak 6 tahun. Abdul Muthalib (kakek Rasulullah – Red) kemudian memutuskan untuk merawat Muhammad.
 
Kisah Rasulullah duduk di tilam Abdul Muthalib
 
Abdul Muthalib memiliki tilam yang diletakkan di bawah Ka’bah. Tak ada seorangpun berani menempati tilam itu, termasuk anak-anaknya. Hal itu karena rasa hormat yang diberikan kepada Abdul Muthalib.
 
Namun, saat Rasululah datang, ia langsung naik ke tilam tersebut. Dengan sigap pamannya menarik Muhammad ke belakang. Hingga akhirnya Abdul Muthalib melihat hal itu dan mengatakan.
 
“Biarkanlah anakku. Demi Allah dia akan menduduki kedudukan yang tinggi,” seperti dikutip pada buku Sirah Nabawiyah karangan Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji cetakan Maret 2017.
 
Setelah itu, Abdul Muthalib memangku Muhammad di tilam sambil mengelus-elus punggungnya. Rasulullah dirawat oleh kakeknya tak lama hanya sekitar 2 tahun. Ketika Muhammad berumur 8 tahun Abdul Muthalib wafat. Kemudian Rasulullah pindah ke rumah salah satu pamannya, Abu Thalib.
 
Saat itu, Abdul Muthalib adalah pembesar tanah Arab. Sehingga pemberian penghormatan sedikitpun dari Abdul Muthalib akan menjadi perbincangan hangat. Termasuk ketika Rasulullah diperbolehkan naik ke tilam Abdul Muthalib. Baik kalangan masyarakat setempat ataupun pendatang semua membicarakan peristiwa itu.
 
Kembali diramal
 
Apa yang diucapkan Abdul Muthalib untuk Rasulullah menjadi kenyataan. Pertumbuhan fisik Muhammad mengarahkan pada kebesarannya. Saat itu tak ada satupun orang yang ketika melihat Rasulullah, kecuali berpendapat Muhammad kelak menjadi pemimpin.
 
Sebuah kisah dari Ibdu Ishaq mengatakan kalau Rasulullah sempat ingin direbut oleh seorang peramal kepribadian dari Bani Lahb. Saat itu peramal datang ke Makkah. Ia mendatangi satu-satu orang yang memiliki anak laki-laki.
 
Hingga akhirnya ia bertemu Muhammad yang saat itu menjadi keluarga pamannya, Abu Thalib untuk kemudian diramal. Setelah meramalnya, orang dari Bani Lahb itu berkata: “Berikanlah lagi anak itu (Muhammad) kepadaku.”
 
Melihat antusias yang berlebih dari peramal itu, Muhammad kemudian dijauhkan oleh Abu Thalib. Namun peramal itu tak terima lalu kemudian marah-marah. Ia bahkan lontarkan sumpah serapah kepada Abu Thalib.
 
“Celakalah kalian. Aku bilang berikan anak itu kepadaku, anak yang telah aku ramal tadi. Demi Allah, dia kelak akan memiliki kedudukan yang tinggi,” ucap peramal itu.
 
Bukti kenabian Muhammad sudah ada sejak bayi
 
Cahaya kenabian Rasulullah sudah terpancar sejak dalam kandungan. Aminah sama sekali tak merasakan ngidam seperti perempuan lain ketika hamil. Ia juga mengatakan melihat cahaya pada dirinya. Dengan cahaya itu ia dapat melihat Istana Bushra di Syam.
 
Bukti kenabian Muhammad juga dirasakan oleh Halimah, ibu susu Rasulullah dari Bani Sa’ad. Ketika Halimah memilih Muhammad untuk disusui, air susu Halimah yang awalnya kering menjadi deras.
 
“Ketika aku menaruh dia (Muhammad) di pangkuanku, air susuku menjadi deras. Sehingga dia dan saudaranya dapat meminum susu dengan puas lalu tertidur,” ucap Halimah.
 
Unta milik suami Halimah pun menjadi berlimpah air susunya ketika Muhammad datang. Saat itu suami Halimah masuk ke kandang unta milik mereka, kemudian suami Halimah mendapati susu unta tersebut penuh. Ia kemudian memerah lalu kemudian meminumnya bersama Halimah hingga puas dan kenyang.
 
“Ketahuilah! Hai Halimah, sungguh kamu telah mengambil anak manusia pembawa berkah,” ucap suami Halimah ketika terbangun di pagi harinya.
 
Nasib yang sama juga terjadi pada ternak-ternak milik Halimah termasuk kedelai yang ditunggangi Halimah ke Makkah untuk mengambil Muhammad. Kedelai itu secara tiba-tiba menjadi kuat bahkan membuat heran orang-orang di desa Bani Sa’ad.
(MA/M.Yani)